Hakikat Masyarakat Nelayan di Pesisir Trenggalek

Secara spasial, interaksi masyarakat nelayan Prigi berpusar di pinggir pantai (laut) dan pasar (daratan). Masyarakat Trenggalek pesisiran secara umum, dan Prigi secara khusus, adalah masyarakat pesisir yang berciri sebagai masyarakat pedalaman. Mereka mengais ekonomi keseharian dari sawah, ladang, alas (hutan), namun tinggal dan beraktivitas di wilayah-wilayah pesisir pantai dan laut (mencari, membudidayakan dan mengolah ikan).

Mereka bergantung dari sumber daya agraris (pertanian-perkebunan) sekaligus pesisiran (lautan). Aktivitas kesehariannya selain terkonsentrasi di sawah, perkebunan (ladang) dan hutan, juga di pantai dan lautan; melakukan aktivitas sosial-ekonomi di dua ranah tersebut.

Antara masyarakat agraris dan pesisir sebetulnya ada perbedaan mendasar, yakni masyarakat petani masih menganut model hubungan kekerabatan yang bisa dibilang cukup hierarkis (untuk tidak tergesa bilang feodal), sementara masyarakat pesisir dan maritim biasanya sudah agak lebih egaliter. Kendati tidak persis begitu, sebab dengan berbagai pengaruh yang serba cepat dari banyak pintu, realitas sosial selalu cepat berubah.

Masyarakat pesisir—sebagaimana masyarakat agraris—kadang juga masih hierarkis, misalnya ketika mereka bekerja di sebuah kapal besar seperti slerek masih ada stratifikasi penghasilan berdasarkan pekerjaaan dan kedudukan (job; tenaga spesialis) yang terhierarki sedemikian rupa: sedikitnya bos kapal (juragan), juru mudi, juru mesin, buruh nelayan, tukang kerja, juru arus (kalau ada) dan kadang-kadang pemilik kapal malah tidak ikut berlayar.

Keuntungan para awak kapal (penghuni kapal) ini dikalkulasi berdasarkan kepemilikan perahu dan tenaga, yang mereka (para ABK) sumbangkan untuk menghasilkan ikan (keuntungan ABK berdasarkan, baik dengan bagi hasil maupun dengan upah).

Dan kenyataannya, masyarakat pesisir Trenggalek memang adalah masyarakat agraris yang tinggal di pesisir. Mereka bukan murni masyarakat maritim yang secara ekonomi menumpu sepenuhnya pada fluktuasi sektor laut: iklim dan hasil sumber daya lautan yang tidak terkontrol lagi tidak stabil ini, melainkan juga bertumpu dari ranah agraris yang lebih punya cara tersendiri untuk mengontrol pendapatan pertaniannya. Tradisi atau kultur maritim nelayan Prigi (dan secara umum di pesisir Trenggalek) belum-lah sepanjang “dalam skala ratusan tahun” misalnya, seperti tradisi melaut masyarakat Bugis, Mandar, Bajo, Makassar, Ambon, Flores juga Madura.

Dalam banyak fakta, suku laut adalah mereka yang bertinggal dan berkebudayaan lautan. Kalau di daratan kita sering mengenal pengelana, di lautan kita juga mengenal istilah orang laut dan suku-suku pengembara laut atau yang lebih dikenal dengan gipsi laut (sea gypsy), di antaranya kalau di Indonesia, Suku Bajo dan Orang Laut. Orang laut (orang selat) adalah sub suku Melayu yang tinggal di Kepulauan Riau. Sebagaimana suku Bajo, mereka adalah para kelana laut, yang punya nenek moyang sejak masa-masa kerajaan Sriwijaya masih eksis.

Suku-suku laut atau orang-orang laut ini kerap memanggil orang kota atau orang luar suku mereka dari wilayah daratan atau yang jauh di pegunungan dan di kota, dengan sebutan Orang Darat. Masyarakat lautan ini, bertempat tinggal dengan membuat rumah-rumah di atas air dan banyak berinteraksi dengan lautan ketimbang daratan. Sementara di Prigi letak perumahan dengan pantai sangat berjarak, dalam spasi ratusan meter. Itulah mengapa masyarakat Prigi bukan masyarakat maritim yang kultur kemaritimannya kuat.

Karena kultur Trenggalek secara mayor adalah kultur pedalaman, tak heran bila daerah Trenggalek termasuk bagian dari wilayah yang disebut Mataraman. Pengaruh Mataram (budaya agraris) ke wilayah barat daya Jawa Timur ini masih kental.

Keberadaan masyarakat agraris, saya kira lebih dominan, ketimbang sebagai masyarakat pesisir dengan kultur maritim yang panjang. Sementara masyarakat pesisir dalam pengertian sekarang tentu tidak hanya sebatas masyarakat yang berlayar ke laut mencari ikan, tapi juga kepandaian mereka dalam memanfaatkan segala jenis sumber daya laut maupun pinggir laut seperti tambak, budidaya dan pengolahan ikan, wisata laut juga wisata pinggir laut lainnya seperti mangrove dan seterusnya.

Intinya kepandaian masyarakat bertempu pada pemanfaatan, terhadap bentang alam pesisir pantai. Sepanjang tidak mengekploitasinya atau mengubahnya terlalu jauh, seperti tindakan mereklamasi dan atau alih fungsi lahan (pengubahan tata ruang) yang tidak sesuai amdal, tata tertib RTRW (Rencana Tata Ruang dan Wilayah) daerah, dan demi kebutuhan ekonomi mendesak lainnya.

Pola jaringan jalan di Lembah Prigi memanjang dari arah barat ke timur sebagaimana di Munjungan. Dari Prigi menembus Bandung, Tulungagung, sebagai jalan transportasi modal dan hasil produksi (termasuk sumber daya laut) keluar. Pusat sirkulasi hasil laut adalah TPI (Tempat Penjualan Ikan) dan pasar rakyat di desa-desa pesisir itu. TPI adalah pusat kegiatan transaksi ikan sekaligus tempat pemasaran dan jual-beli (perdagangan) ikan dan segala potensi dan sumber daya laut yang dihasilkan oleh nelayan Prigi.

Sawah di daerah Prigi bagian bawah (dekat laut) memang tidak seluas persawahan di Munjungan dan Panggul. Namun tentu sawah-sawah itu masih bertebaran di pesisir Prigi. Kendati berjarak ratusan meter dari bibir pantai. Ini membuktikan bahwa masyarakat pantai di Trenggalek adalah masyarakat agraris yang pekerjaaan hariannya sebagian adalah nelayan.

TINGGALKAN KOMENTAR