Eksistensi Jagong Bayi

Tentu kita sudah tidak asing lagi dengan pernyataan bahwa manusia adalah makhluk sosial. Pernyataan itu pula yang menjadi salah satu peneguh bahwa manusia adalah makhluk sempurna ciptaan Tuhan. Tidak seperti malaikat dan iblis yang tak perlu apa pun dan siapa pun untuk mengabdi kepada-Nya.

Bersilaturahmi, atau yang oleh manusia generasi kini lebih hits disebut bersosialisasi, sudah ada sejak manusia ada. Juga sudah tidak asing lagi kisah betapa kesepiannya Adam di surga ketika ia masih menjadi satu-satunya manusia. Karena itulah ia meminta teman kepada Tuhan, maka diciptakanlah Hawa oleh Sang Maha Pencipta untuk menemaninya.

Untuk urusan silaturahmi, orang Jawa adalah master-nya. Segala hal patut disyukuri. Dan orang Jawa bukanlah ahli mensyukuri anugerah Tuhan seorang diri. Mereka akan bahagia dan genap rasa syukurnya jika dirayakan bersama-sama. Jagong bayi adalah salah satunya.

Ketika ada tetangga, kawan ataupun sanak saudara dikaruniai anak, maka tanpa undangan ataupun woro-woro, para tetangga, kawan dan keluarga akan berkunjung untuk mengucapkan selamat dan ikut bersyukur bersama keluarga si bayi. Bagi mereka, kehadiran seorang bayi di suatu keluarga adalah anugerah dan kenikmatan yang patut disyukuri bersama.

Selepas maghrib atau isya, para tetangga, kawan dan keluarga akan datang ke kediaman keluarga si bayi. Para perempuan, selain menemui si ibu, tak lantas pulang setelahnya. Mereka akan ke dapur untuk membantu keluarga si bayi menyiapkan jamuan untuk para tamu.

Sedangkan para lelaki, mereka di ruang depan berbincang dengan keluarga si bayi dan para tamu lainnya. Selain mengucapkan selamat, mereka juga memperbincangkan banyak hal. Obrolan tergantung kabar-kabar terkini. Kebanyakan seputar pekerjaan dan kejadian yang terjadi di sekitar mereka. Kecuali jika jagong bayinya saat ini, obrolannya pasti seputar politik di negeri ini.

Obrolan tak akan gayeng jika tak ada jajanan mantab yang tersedia. Apalagi yang mantab selain jajanan khas daerah masing-masing? Sredek, tempe goreng, onde-onde, alen-alen, tempe kripik, kacang rebus dan aneka jajanan lain yang tersedia di meja. Tak lupa kopi.

Berbeda dengan perempuan yang tidak seberapa lama njagong, para lelaki bisa betah berlama-lama. Tak hanya sejam dua jam, bisa sampai tengah malam, bahkan (dulu) bisa sampai menjelang subuh. Tapi kini, jangankan sampai menjelang subuh, menyelesaikan jagongan sampai tengah malam saja sudah sewu siji.

Setidaknya ada 2 kemungkinan yang menurut saya para lelaki betah njagong. Pertama, seperti tertulis di awal tadi, manusia adalah segolongan makhluk yang membutuhkan kawan bicara, teman berbagi dan berkumpul bersama. Manusia adalah makhluk yang membutuhkan orang lain untuk keberlangsungan eksistensinya.

Jagong bayi—yang merupakan satu dari sekian banyak jenis silaturahmi—bukan sekadar kehadiran seseorang dan ucapan selamatnya. Lebih dari itu, ia menjadi ruang pemersatu, wadah pertemuan antarpersonal di suatu dusun, media sosial yang tingkat efektivitas penyampaian dan keakuratan suatu berita yang terjadi di sekitar dapat dipertanggungjawabkan.

Jagong bayi menjadi tempat pembelajaran bagi masyarakat dusun terhadap hal-hal baru yang diterima oleh mereka. Di tengah semakin menipisnya filter terhadap bermacam kabar dan hal-hal baru, jagong bayi bisa menjadi ruang untuk bertatap muka antarwarga, menjadi ruang diskusi yang nyampleng, tempat berbagi pemikiran dan pandangan terhadap suatu hal kekinian yang terjadi di sekitar, dan rumah bagi penyelesaian persoalan-persoalan yang terjadi di antara warga.

Mampukah media sosial berbasis internet jaman kini menyaingi peran media sosial konvensional yang luar biasa warisan leluhur?

Kemungkinan kedua, para lelaki yang begadang itu betah berlama-lama adalah karena niat baik mereka. Niat apakah itu?

Jamak kita ketahui bahwa kebanyakan bayi yang baru lahir sering terjaga di waktu malam. Nah, kaum lelaki ini bermurah hati menemani orangtua bayi ketika bayinya terjaga dan minta digendong. Karena ada juga bayi—yang kami menyebutnya—rundong (turu lek digendong) karena ia hanya akan terlelap jika berada di gendongan.

Kesediaan kaum lelaki yang begadang tadi, akan sangat dihargai dan disyukuri oleh orangtua bayi—khususnya si bapak—karena dengan ada yang begadang, maka orangtua bayi memiliki teman untuk terus terjaga.

Jadi, jika ada yang bilang bahwa tradisi jagong bayi yang luhur itu adalah suatu kesia-siaan dan tiada guna, saya rasa mereka perlu sering-sering mendengarkan dangdut, khususnya lagu dari Bang Haji Rhoma. Sudah tahu kan liriknya? “begadang jangan begadang, kalau tiada artinya”. Tentu saja begadang para lelaki itu tidak bisa dibilang tiada manfaat.

***

Teknologi dihadirkan untuk memberi kemudahan bagi manusia. Namun kita sebagai manusia kadang lupa, bahwa ada hal-hal yang tidak cukup dikomunikasikan tanpa bertatap muka. Perlu pertemuan, perbincangan dan diskusi secara langsung. Sosmed, jika tidak tepat mengelolanya, justru akan membawa pada sikap acuh, pengecut, tak berjiwa ksatria dan main “lempar sembunyi tangan”.

Jagong bayi yang lebih berbudaya dan bersahaja kini hampir kehilangan eksistensinya. Semoga di tempatmu tidak. Semoga sambungan silaturahmi di antara kita tidak. Semoga budaya dan tradisi luhur itu tidak.

#SalamLestari

TINGGALKAN KOMENTAR