Tuesday
12 November 2019
Njajah Desa Milang Kori


Mengagumi Orang-orang Munjungan

Menurut beberapa kawan yang saya temui di Munjungan, salah satu kekurangan yang dimiliki kecamatan tersebut saat ini adalah, sekali lagi,…

Sebuah Esai dari Trigus D. Susilo terbit pada 25 Februari 2019 — Tag: , — Artikel ini dibaca normal dalam 3 menit.

Menurut beberapa kawan yang saya temui di Munjungan, salah satu kekurangan yang dimiliki kecamatan tersebut saat ini adalah, sekali lagi, akses jalan. Untuk bisa sampai ke Munjungan sana, sebenarnya ada dua jalur yang bisa dilewati. Yang pertama adalah jalur dari Watulimo menuju Munjungan (rencana JLS/pansela); dan yang kedua adalah jalur Kampak-Munjungan. Kedua jalur tersebut, hingga saat ini, masih menjadi “momok” tersendiri bagi sebagian orang.

Jika menuju Munjungan melalui jalur Kampak, kita akan melewati salah satu turunan terjal yang biasa disebut Rengkek-rengkek. Jalanan ini tidak sekali dua melahirkan cerita kecelakaan motor atau mobil, bahkan beberapa waktu lalu warga Munjungan melakukan istighosah bersama untuk memohon keselamatan supaya aman melewati jalur ini. Adapun jika dari Watulimo ke Munjungan, kita akan melewati jalur Marcopolo, akses jalan penghubung ini belum bisa disebut layak bagi masyarakat umum, dikarenakan masih dalam tahap pembenahan.

Meski keduanya dinilai masih belum layak bagi beberapa kalangan (khususnya emak-emak yang terbiasa melewati jalur landai), namun bagi orang Munjungan, ini bukanlah pantangan untuk bergerak. Mereka dapat menaklukkan jalanan terjal ini dengan tekad kuat dan tidak mau dikatakan tertinggal dari kecamatan-kecamatan lain yang memang memiliki akses jalan lebih baik. Terlebih, beberapa kebutuhan pokok yang tidak tersedia di Munjungan harus didapatkan di kecamatan tetangga.

Jika beberapa kawan (Munjungan) menilai bahwa akses jalan ini adalah sebuah persoalan, namun bagi saya justru lain ceritanya. Ada korelasi antara kesan terisolir dengan rasa kebersamaan, sehingga membuat Munjungan menjadi yang terbaik dalam urusan gotong-royong.

Misalnya, untuk mengurangi risiko kecelakaan parah, warga Munjungan berbondong-bondong mengumpulkan ban bekas yang dipasang di beberapa tikungan tajam nan curam supaya bisa menjadi peredam benturan saat ada motor yang tergelincir. Contoh lain misalnya, orang Munjungan bisa membangun banyak mushola dengan cara becekan–terjadi di Desa Karangturi saat kepala desa dijabat oleh Pak Puryono. Terhitung dari cara ini, terkumpul dana sumbangan (dari amplop warga) kurang lebih 1 milyar yang bisa dipakai untuk membangun mushola.

Atau demi memiliki akses “jalan tikus” (gang) yang bagus, warga menyepakati iuran harta dan tenaga untuk merabat jalan supaya tidak lagi becek ketika hujan. Ini dilakukan mereka supaya tidak –terkesan—tertinggal dari desa-desa  di kecamatan lain yang nota bene lebih banyak melakukan pembangunan. Begitu ungkap Kang Hanung, salah satu kawan dari Munjungan. Jadi untuk gotong-royong, orang-orang Munjungan masih dapat mempertahankkanya hingga sekarang, saat di beberapa tempat (kecamatan) lain, gotong-royong mungkin sudah sulit dilakukan.

Karena merasa menjadi warga masyarakat yang “terisolir”  akhirnya memunculkan kesadaran bersama untuk saling tolong menolong dan menjaga. Mereka tidak “berhitung” soal uang jika sudah menyentuh tentang kebutuhan bersama. Menurut Kang Hanung, pernah suatu ketika saat terjadi longsor dan membuat akses jalan Kampak Mujungan tertutup total, mereka menginisiasi membuat jalan alternatif Munjungan-Watulimo dengan uang patungan yang akan dipakai menambal jalan berlubang atau menutup jalan yang masih berupa tanah liat. Upaya ini dilakukan supaya mereka tidak terlalu lama terjebak pada kondisi terisolir. Itulah beberapa contoh di antara banyak contoh guna menggambarkan bahwa orang-orang Munjungan masih kental dengan budaya gotong-royong.

Mengasumsikan bahwa, terjaganya gotong-royong dan rasa handerbeni dan tepa selira di masyarakat Munjungan disebabkan oleh akses jalan yang sulit sehingga menimbulkan rasa terisolir bersama, tentu belum bisa dikatakan tepat, karena sekali lagi ini hanya asumsi. Namun imajinasi ini perlu di-capture, untuk dijadikan pembanding ke depan, karena beberapa tahun lagi, pembangunan jalur JLS (Jalur Lintas Selatan) yang menghubungkan Watulimo-Munjungan-Panggul selesai dibangun. Artinya, JLS memberikan kemudahan kepada warga Munjungan untuk bepergian ke Watulimo atau ke Panggul dengan lancar.

Jika selama ini kecamatan yang bisa “dijujuk” oleh orang Munjungan adalah Kecamatan Kampak, ke depan akan jauh lebih beragam. Ada bayak referensi tempat yang bisa mudah dikunjungi orang Munjungan dengan dibukanya akses jalan. Efek dari ini adalah, biasanya orang Munjungan membeli barang di Munjungan, jika tidak ada barang di sana, mereka bisa mencari di Kecamatan Kampak. Dan jika barang tidak tersedia langsung menembus ke Trenggalek. Namun meski demikian, membeli di Munjungan adalah priortias utama dengan melihat jarak, tenaga, waktu yang lebih efisien ketimbang harus ke Kampak atau ke Trenggalek.

Jika JLS jadi, antara Munjungan-Watulimo dan Munjungan-Panggul akan semakin dekat, saya berasumsi, meski barang-barang banyak tersedia di Munjungan namun dikarenakan akses jalan mudah dan tentu sambil cuci mata, mereka memilih untuk belanja ke Watulimo atau Panggul. Jadi, jika selama ini perputaran ekonomi cukup di Munjungan, ke depan mungkin akan berbeda.

Maka, apakah ada korelasi antara akses jalan dan kekompakan masyarakat Munjungan? Adakah pengaruhnya terhadap perekonomian? Tentu saja ada, dan mudah-mudahan pengaruhnya Jauh lebih baik.

TINGGALKAN KOMENTAR