Monday
18 November 2019
Njajah Desa Milang Kori


Menjepret Trenggalek dengan Lensa Etnografi

Trenggalek adalah kabupaten yang ditopang oleh dua tradisi yang terekat-erat (tani-nelayan). Memberi pengaruh yang signifikan terhadap kehidupan sehari-hari dan sosial-ekonomi…

Sebuah Esai dari Misbahus Surur terbit pada 28 Maret 2019 — Tag: , , , — Artikel ini dibaca normal dalam 4 menit.

Trenggalek adalah kabupaten yang ditopang oleh dua tradisi yang terekat-erat (tani-nelayan). Memberi pengaruh yang signifikan terhadap kehidupan sehari-hari dan sosial-ekonomi masyarakatnya hingga kini. Di sini berkembang petani-pekebun padi, ketela pohon (singkong), pisang, cengkih, buah-buahan seperti durian, salak, manggis dll, sekaligus juga pengais ekonomi di pesisiran: para nelayan.

Alur tradisi agraris sekaligus pesisiran (maritim) ini tergelar di lembah-lembah pegunungan serta di pesisir-pantainya (dari kecamatan Pesisir Panggul, Munjungan, hingga Watulimo).

Sebagai bukti—selain apa yang kita lihat dalam keseharian penduduknya—kesenian dan folklore-folklore setempat menggambarkan keakraban sekaligus supremasi masing-masing dua wilayah kebudayaan ini, seperti saat kita menyelami narasi lokal dalam Larung Sembonyo dan Longkangan (alias Babad Sumbreng—yang menggambarkan laku dan spirit manusia pinggiran/pesisir); tradisi Baritan di Kecamatan Dongko yang melahirkan seni jaranan Turangga-yaksa (tradisi yang menjadi ikon seni bagi Kabupaten Trenggalek) serta Babad Sinongkelan di Prambon, Kecamatan Tugu, yang mengilhami lahirnya tradisi Sinongkelan (dua tradisi terakhir merupakan wakil dari spirit tradisi/seni agraris).

Dalam Serat Centhini (atau Suluk Tembangraras)—jenis dari sastra santri lelana, yang bisa digolongkan ke dalam babad pesisiran—wilayah Trenggalek pernah digambarkan sebagai lokasi yang akrab dengan kesenian-kesenian agraris, salah satu bentuknya adalah wayang topeng dan jaranan. Khusus wayang topeng, sudah tak lagi terlacak varian-variannya di masa kini: entah masih ada atau sudah berganti bentuk, atau bahkan malah sudah punah (?).

Bentuk kesenian tersebut terdeskripsikan (dalam Serat Centhini) dalam kisah-kisah singkat, terselip dalam fragmen-fragmen lelaku Jayengsari dan Jayengrono menempuh babak-babak perjalanan. Selain juga deskripsi beberapa lokasi yang dilintasi rombongan Amongraga (Jayengsari), seperti daerah Kedhung Bagong (Sungai Bagong yang sejak dulu melegenda) juga nama-nama padusunan seperti Tegaren, yang dikepalai Candrageni (kini menjadi salah satu desa di Kecamatan Tugu) dan beberapa pegunungan dan perbukitan di Trenggalek-Wulan/Lembuasta (nama Trenggalek di Serat Centhini).

Dari kidung Centhini sebetulnya kita bisa melacak beberapa kesenian dan cuilan lokasi-lokasi serta penggambaran tentang masyarakat di Trenggalek kala itu. Kendati masih butuh menyandingkannya dengan bahan-bahan lain guna mengakses informasi lebih dalam. Sekurangnya agar pembaca mempunyai gambaran yang kaya, bagaimana model kesenian dan lokasi-lokasi di zaman itu—minimal demi kebutuhan membayangkan.

Fakta-fakta di atas bersama dinamika internal dan ekternalnya dalam perjalanan waktu, bisa menjadi semacam cuplikan narasi atau kronik lokal Trenggalek di antara banyak narasi lain yang masih ada. Narasi-narasi lokal itu adalah bagian dari kearifan lokal (kebijaksanaan setempat)—bedakan dengan keburukan atau ketidaksopanan lokal (karena mungkin di antara kita ada yang tidak bisa membedekan?).

Dalam disiplin ilmu antropologi, ada sub yang membicarakan tentang local genius. Menurut Haryati Soebadio (dalam Ayatrohaedi, 1986: 18-19), local genius termasuk bagian dari cultural identity.

Kemampuan kita untuk mendeteksi dan mengreasi ulang local genius turut membantu, mendefinisikan cultural identity Trenggalek saat ini dan di masa depan. Sekaligus pada saat yang sama, bisa menjadi bahan untuk menyerap serta mengolah berbagai kekayaan budaya luar, yang datang memenetrasikan pengaruh (urbannya) ke desa-desa.

Di situ, kreator-kreator kesenian (seniman; budayawan) mesti kreatif menginterogasi, menegosiasi, menginternalisasi hingga mengintegrasikannya dengan watak dan karakter local genius daerahnya, atau bahkan desanya masing-masing, seperti dalam jaranan Turangga Yaksa misalnya.

Di titik ini, bukan kita anti-kemajuan, melainkan dalam pengertian, supaya kita tak menerimanya secara mentah-mentah; lagi tidak menolaknya secara mentah-mentah. Sebab, perlu digarisbawahi, bahwa semua kebudayaan dan tradisi luhung (kebudayaan tinggi)yang lestari di dunia, unggul dan mampu bertahan berkat kemampuannya untuk saling memengaruhi (menyerap secara adaptif lagi asimilatif) di antara unsur-unsur luhur-nya. Alih-alih sekadar terdampak unsur-unsur destruktifnya.

Tentu saja bukan cuma bertahan (membentengi diri) atau menerima pengaruh itu secara mana suka. Itulah salah satu keniscayaan dalam transformasi kebudayaan manusia.

Local genius atau narasi-narasi lokal itu bukan cuma kesenian tapi juga manusia, interaksi manusia setempat dengan lingkungannya (dunia pertanian dan lautan), tradisi setempat yang tidak ada di tempat lain karena tercipta dari kedekatan manusia dengan karakter lingkungan lokalnya (bisa dalam wujud kesenian, cara melakoni hidup sehari-hari, cara membangun rumah dan bersosialisasi, jenis makanan [kuliner/kudapan lokal], juga kebiasaan yang turun temurun seperti ritual, dan berbagai folklore).

Bagaimana jalinan kebiasaan lawas dalam dunia baru(?) Bagaimana jalinan-jalinan kepercayaan penduduknya dengan sesuatu atau entitas tertentu(?) Bagaimana emosi yang terbentuk dari sistem pikiran dan tindakannya selama ini(?) Dan secara lebih luas, tradisi setempat yang berkaitan dengan segi-segi kearifan hidup masyarakat perdesaan secara menyeluruh, tapi pelan-pelan tergerus budaya urban.

Tiga tahun Nggalek.co bisa mengudara, harapan salah satunya karena hal tersebut. Kita punya visi pengetahuan yang jauh—dengan mengutip argumen Clifford Geertz dalam Local Knowledge—bahwa kebudayaan bukanlah sesuatu yang terpaku dalam kepala manusia, melainkan sesuatu yang menyatu dalam simbol-simbol yang digunakan oleh masyarakat setempat untuk membahasakan sekaligus mengomunikasikan pandangan, orientasi nilai, aktivitas, etos serta berbagai hal yang terjadi di antara mereka—sebuah rumah bagi lokal genius.

Karena itu, barangkali untuk dapat menggambarkan sesuatu yang menyatu dalam simbol-simbol yang digunakan masyarakat, bagi seorang penulis, budayawan dan pengamat budaya (pengurai kode kebudayaan), dibutuhkan dirinya pertama-tama sebagai seorang pencatat (etnografer), di antaranya untuk mengungkapkan apa yang ada di lapangan secara apa adanya, ketimbang tergesa menerjemahkan pikirannya sendiri untuk menilai (judgement) dan menafsir realitas kebudayaan—padahal belum mengamati secara tuntas ihwal fenomena kehidupan yang bergerak di tengah masyarakat yang tengah ditulis.

Akibatnya, sering terjadi kesenjangan antara apa yang dipikirkan oleh si pengamat dengan realitas yang berada di masyarakat saat di lapangan. Sebab, sering masyarakat di sebuah wilayah tertentu, juga di banyak tempat, justru mempunyai daya tarik terhadap pengetahuan lokal, yang suci dari kepemihakan terhadap pemikiran, ideologi, dan ajaran tertentu yang datang dari dunia antah-barantah, yang jauh dari keseharian mereka.

Kenapa penting dicatat? Sebab, kebudayaan adalah produk tindakan sosial yang sarat dengan simbol yang digunakan oleh manusia untuk memahami “dunia yang mereka temukan sendiri”.

Jadi, dengan mengikuti alur kerja Geertz misalnya, posisi seorang etnografer adalah sebagai perantara yang menyuarakan sudut pandang si pelaku (dengan objektif). Bukan seorang yang asyik dengan hasil konklusi otaknya sendiri lantas digunakan untuk menilai segala yang dia rasa berseberangan dengan apa yang telah tertanam di otaknya. Betapa pun seorang etnografer, punya peran sekadar tak jauh dari memformulasikan bentuk, gambar, warna, gerak, pola, ciri, gaya yang tersaji di depan matanya, ketika ia tengah memelototi, apa yang tidak mampu dilihat oleh mata orang kebanyakan, di luar mata si etnografer.

Etnografi lebih menekankan pada bagaimana kita mendekati objek dan mengorek informasi darinya, seluas dan sedalam mungkin. Menomorduakan teori dan bangun landasan yang telah mapan alias baku dalam buku dan pikiran. Bagaimana kita menformulasikan tangkapan mata, dan seluruh panca indera kita, terhadap fenomena yang tampak, sebelum ikut terlibat menjadi pelaku-penafsir.

Meleburkan yang asing ke dalam yang (di)akrab(i)

Ambil misal, salah satu contoh kelebihan orang lokal, Nusantara, adalah dalam hal mengkosmologikan sesuatu yang asing, untuk diintegrasikan (asimilasi) ke dalam dunia mereka: meleburkan yang asing ke dalam yang diakrabi; disatukan ke dalam dunia Nusantara, misalnya nama Gunung Semeru untuk mengkosmologikan Gunung Mahameru di India; nama tokoh Mur Jangkung untuk mengkosmologikan nama orang Belanda pertama yang mendarat di Sunda Kelapa, Jan Pietersz Coen—betapapun kenyataannya ia adalah penjajah–; nama Baron Sekender (dalam Serat Babad Pati)—dengan merujuk Th Pigeaud—untuk  mengkosmologikan Alexander Agung, bahkan ada karya Serat Baron Sekendar yang ditulis oleh Ngabehi Yudasara.

Juga bagaimana Hikayat Amir Hamzah dikosmologikan sedemikian rupa pesan, cerita hingga alur-kerangkanya (kisah-kisah heroisme di medan perang) terboyong dan memengaruhi budaya dan tradisi kesenian di Jawa, mulai dari dunia pewayangan, tari-tarian hingga seni jaranan. Belum lagi ihwal sebutan negeri Rum (yang kerap muncul di naskah-naskah kuno) untuk mengistilahkan negeri Turki—membuktikan pernah terjadi kontak yang harmonis antara dua negara ini (di zaman Turki Usmani), dan begitu seterusnya…

TINGGALKAN KOMENTAR