Friday
18 October 2019
Njajah Desa Milang Kori


Kisah Haru Pemudi Tugu

Sukses adalah impian setiap orang. Begitu juga dengan Inem (bukan nama asli), bermimpi suatu saat bisa sukses, menjadi orang penting…

Sebuah Esai dari Yuni LIana terbit pada 9 Juli 2019 — Tag: , , — Artikel ini dibaca normal dalam 3 menit.

Sukses adalah impian setiap orang. Begitu juga dengan Inem (bukan nama asli), bermimpi suatu saat bisa sukses, menjadi orang penting dan yang pasti banyak duit. Hal itu yang sering terdengar ketika dia mencurahkan isi hatinya pada saya.

Saya sudah terbiasa dengan curahan hati Inem. Tapi ada salah satu kisah dari Inem  yang membuat saya sedikit terharu. Untuk pertama kalinya Inem menceritakan kisahnya dengan meneteskan air mata.

Kisahnya dimulai semenjak duduk di bangku SMA. Dia sudah menyusun rencana hidupnya ke depan. Kuliah jalur beasiswa, punya pekerjaan dan penghasilan sendiri, hidup mandiri, punya tabungan sendiri, dan sama seperti mimpi orang-orang pada umumnya, membahagiakan orangtua.

Inem adalah seorang anak muda di sebuah desa yang terletak di Kecamatan Tugu, Kabupaten Trenggalek. Menurut saya, dia sosok yang ceria, hari-harinya dihiasi dengan senyuman dan sering membantu banyak orang.

Tapi ada satu hal yang  saya rasa tidak patut dicontoh dari Inem. Dia pemalas, jarang sekali dia membantu orangtuanya. Aneh memang, Inem sering membantu orang lain tapi jarang membantu orangtuanya.

Si bungsu ini adalah adik dari seorang kakak perempuan dan 2 kakak laki- laki. Inem tidak mengalami kehidupan yang penuh perjuangan seperti apa yang dialami oleh kakak-kakaknya. Mungkin hal itu yang membuat Inem menjadi pemalas dan manja.

Makanan enak penuh gizi, jatah uang jajan, seragam baru, sepatu baru, tas baru, apa yang  diinginkannya hampir semua bisa terpenuhi. Berbeda dengan masa remaja kakak-kakaknya, jangankan jatah uang jajan, seragam yang dipakai ke sekolah didapat dari pemberian tetangga. Malah kadang makian yang didapat oleh kakak-kakaknya ketika memaksa meminta uang pada orangtua.

Sungguh miris! Tapi inilah yang terjadi, sama-sama seorang anak tapi mendapat perlakuan berbeda. Tapi itu bukanlah bentuk pilih kasih dari orangtuanya. Hanya masalah waktu, kakak-kakaknya  menjalani masa remajanya di saat kondisi ekonomi keluarga yang sulit. Anak yang banyak, dan masih sekolah semua menuntut orangtua membagi uang untuk biaya sekolah dan keperluan keluarga lainnya.

Sedang masa remaja Inem, kondisi ekonomi keluarga mereka sudah mulai membaik seiring Inem tumbuh menjadi remaja. Kakak-kakaknya juga tumbuh dewasa dan mulai bekerja sehingga bisa membantu meringankan beban ekonomi keluarga, termasuk membiayai sekolah Inem.

Allah punya cara tersendiri untuk menegur hambanya, saat Inem akan menjalani UN, Allah memberikan cobaan, ibunya mengalami sakit lambung, penyakit yang belum pernah dialami sebelumnya. Bukan batuk, bukan pilek, bukan sakit kepala, bukan juga  masuk angin yang biasa dikeluhkan oleh ibunya dan akan sembuh dalam 2 sampai 3 hari.

Ini tentu membuat ibunya merasa panik, takut dan bahkan berpikir pada kematian. Bagaimana tidak? Seseorang yang biasanya sakit dan akan sembuh dalam waktu singkat, mengalami sakit yang lumayan parah dan lama sampai kurang lebih 4 bulan. Hal ini juga yang membuat hati Inem hancur dan patah semangat. Rencana masa depan yang disusunnya perlahan meleset.

Gagal kuliah jalur beasiswa karena batal mengikuti tes, tidak bisa kuliah jalur reguler karena tidak ada biaya. Pasti kalian berpikir tentang ketiga kakaknya. Saat Inem lulus SMA, ketiga kakaknya telah berkeluarga dan memiliki anak, tentu tanggung jawabnya juga semakin besar. Jadi, kecil kemungkinan bagi ketiga kakaknya untuk membantu. Apalagi biaya kuliah yang tidak murah. Mungkin jika untuk biaya kos atau makan kakaknya bisa membantu tapi tidak membantu sepenuhnya. Inem juga  tidak bekerja karena mengurus ibunya yang sakit. Di titik inilah Inem benar-benar merasa pasrah.

Tapi Alloh Maha Bijaksana, setelah 4 bulan berlalu, ibunya diberi kesembuhan, semangat Inem mulai muncul kembali. Dia mulai menyusun rencana masa depannya lagi, mulai mencari kesibukan dan mencoba melamar pekerjaan. Inem sadar bahwa dia lupa diri saat Allah memberi kemudahan dalam hidupnya, dia juga kurang berbakti pada orangtuanya.

“Ini teguran dari Alloh, kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Jadi, jangan sia-siakan kesempatan selagi masih ada,” ucapnya penuh penyesalan.

Mengakhiri ceritanya, Inem berharap Alloh memberi kelancaran dan kemudahan di setiap usahanya. Dia percaya Alloh Maha Adil dan Bijaksana. Ia akan memberi jalan pada hamba-Nya yang mau berusaha dan berdoa dengan sungguh-sungguh.”

Esai di atas adalah tulisan dari salah satu peserta workshop literasi berbasis pesantren yang diselenggarakan pada 23-24 Juni 2019 oleh nggalek.co bekerja sama dengan LP2M UIN Maliki, Malang.

TINGGALKAN KOMENTAR