Ramadan kemarin adalah Ramadan pertamaku di pondok. Meskipun ini pengalaman pertama, kurasa di sini tidaklah sesulit apa yang kubayangkan. Kegiatan di pondok ketika puasa memang-lah sangat berbeda dengan kegiatan di rumah. Di pondok kegiatan kita diatur oleh jadwal. Sehingga tidak ada waktu yang  terbuang sia-sia.

Setiap hari, kita bangun tidur jam tiga pagi untuk melaksanakan sholat malam dengan berjamaah. Ketika sholat malam telah usai tak lupa kita sahur dan setelah itu sholat subuh berjamaah.

Tidak semua santri mudah untuk bangun jam tiga pagi, apalagi untuk santri yang baru pertama kali mondok. Pasti mereka belum terbiasa akan hal itu. Di sini kita diajarkan untuk saling membantu sesama teman, jadi ketika salah satu dari kita ada yang belum bangun ketika waktu sholat tiba, maka kita harus membangunkannya.

Santri di sini terbagi menjadi dua. Ada yang sekolah formal dan ada yang tidak. Ketika pagi tiba, untuk santri yang sekolah formal, akan sekolah seperti biasanya. Sementara untuk yang lain, akan mengaji dari jam tujuh sampai jam sembilan pagi.

Setelah usai kita bisa beristirahat dan melakukan kegiatan pribadi sampai jam dua belas siang dan kemudian, melaksanakan sholat dzuhur berjamaah.

Sehari kita bisa mengaji sampai empat kali, yaitu pagi, siang, sore, malam hari.

Di sini, kita juga diajarkan untuk saling berbagi. Bukan hanya berbagi antar-teman di pondok, tapi kita juga berbagi takjil untuk warga sekitar pondok dan juga para pengguna jalan raya.

Kita bisa merasakan kebahagiaan meskipun dalam kesederhanaan. Seakan kita menemukan keluarga baru kita di sini. Rasa kesepian karena jauh dari keluarga seakan hilang seketika.

Rasa bosan, lelah, rindu, itu pasti ada. Namun kita harus ingat apa tujuan kita datang ke sini. Itu semua adalah tantangan bagi kita. Aku yakin rasa itu semua akan tergantikan dengan kesuksesan di masa depan.

Esai di atas adalah tulisan dari salah satu peserta workshop literasi berbasis pesantren yang diselenggarakan pada 23-24 Juni 2019 oleh nggalek.co bekerja sama dengan LP2M UIN Maliki, Malang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Siti Farikatur Rohmah
Siti Farikatur Rohmah lahir di Desa Kendalrejo, Durenan, Trenggalek, 25 Desember 2002. Moto hidup sukses butuh proses. Hobi catur. Alumnus SMPN 1 Durenan ini kini sekolah dan mondok di Darunnajah