Monday
18 November 2019
Njajah Desa Milang Kori


Kronik dan Kota

Kota yang tak memiliki catatan itu nanti hanya pasrah ditempati. Tapi ia tidak pernah benar-benar nyaman ditinggali sebagai hunian yang dihayati. Generasi masa depan membutuhkan warisan dari sesuatu yang tercatat.

Sebuah Esai dari Misbahus Surur terbit pada 1 November 2019 — Tag: , , — Artikel ini dibaca normal dalam 4 menit.

Alangkah nelangsa kota yang tak memiliki kronik peristiwa dan catatan (sejarah). Bagi generasi mendatang, kota yang miskin catatan begitu tak banyak memiliki memori yang sanggup merajut ingatan tentang asal-usul. Kelak rasa mencintai sekaligus memiliki tanah kelahiran, bisa jadi tak pernah tumbuh secara mengakar tanpa sesuatu yang tercatat. Karena itu, kota yang tak memiliki kronik dan catatan adalah kota yang sulit dicintai secara menghujam.

Kota yang tak memiliki catatan itu nanti hanya pasrah ditempati. Tapi ia tidak pernah benar-benar nyaman ditinggali sebagai hunian yang dihayati. Generasi masa depan membutuhkan warisan dari sesuatu yang tercatat. Tanpa warisan catatan, selain kehilangan memori masa lampau, generasi mendatang juga bisa kehilangan orientasi ke masa depan. Dan, jika sejarah tak pernah diguratkan, ia tak pernah jadi memori dan ingatan kolektif banyak orang.

Dalam sebuah cerpen, Seno Gumira Ajidarma pernah menulis: ”catatan sejarah bisa saja (di)musnah(kan), tapi sejarah tak terhapuskan.” Ungkapan Seno itu sebetulnya punya konteks sindiran untuk penguasa yang suka memusnahkan catatan-catatan sejarah, karena dulu kita sebagai negara kerap mengalaminya. Tapi di banyak tempat pula, sebuah kota misalnya, sering tak memiliki catatan sejarah atau kronik peristiwa.

Alangkah nelangsa kota yang tak memiliki kronik peristiwa dan catatan (sejarah).

— Misbahus Surur

Banyak kota—dalam skala kecil maupun besar—juga memiliki sejarah kelam. Sejarah kelam itu dapat berwujud kisah peperangan maupun wabah penyakit. Atau karena penduduk di sebuah tempat melakukan migrasi besar-besaran ke tempat lain, meski untuk peristiwa ini jarang terjadi. Dan, dari zaman dulu hingga kini, sebuah kota bisa lenyap seketika, sering oleh bencana, baik bencana alam maupun bencana bukan alam: ulah manusia. Sebagaimana kisah lenyapnya sebuah kecamatan di Porong, Sidoarjo, disebabkan korporasi.

Iwan Simatupang dalam novel tipis Koooong, pernah menulis tentang sebuah desa yang tenggelam oleh bencana banjir. Penghuninya lenyap, sebagian yang selamat bermigrasi atau pindah tempat. Sehingga lokasi permukiman semula menjadi mati alias kehilangan jejak sejarahnya. Sampai suatu ketika, melalui sosok orang tua (yang menjadi tokoh utama novel) sekembalinya ke kampung halaman, sejarah membangun riwayatnya kembali: daerah tersebut pelan-pelan dimukimi lagi.

Pentingnya Kronik

Kronik dan Kota

Meski tak punya banyak warisan catatan peristiwa dan data masa lampau, khususnya masa kolonial. Sebagaimana dengan mudah dapat ditemukan pada kota-kota besar seperti Kediri, Malang, Tuban, Surabaya, juga Probolinggo, akan sangat baik bila sebuah kota yang tidak terkenal sejarahnya (lagi kurang masyhur seperti Trenggalek) bisa menggali kisahnya sendiri. Salah satu caranya, dengan mendokumentasi: (meng)kronik peristiwa, yang nanti pasti akan berguna bagi generasi mendatang.

Perjalanan sebuah kota, karena minimnya data dan arsip, misalnya bisa disusun menggunakan peristiwa-peristiwa yang silih berganti terjadi (meski telah berlalu) dan yang sedang terjadi. Ia bisa juga disusun menggunakan kisah-kisah yang melingkupi orang-orang di desa, alias apa yang dialami dan dituturkan dari sudut pandang masyarakat desa atau yang para penulis gali sendiri melalui warga desa.

Peristiwa di sebuah kota, bisa disusun dari banyak fakta dan fenomena yang tengah berlangsung di perdesaan. Peristiwa dan keseharian yang berlangsung di desa beserta kearifan-kearifannya di antaranya, sudah pasti turut memperkuat eksistensi pengetahuan masyarakat di desa-desa di sebuah wilayah (kabupaten, kota). Sebab, sebuah wilayah beserta peristiwa-peristiwanya tak bisa lepas dari penjelasan akan pengalaman para penghuninya, yakni orang-orang desa.

Dan, setiap kota sudah selayaknya mempunyai kronik yang menandai perjalanannya, dengan berbagai peristiwa di setiap masa. Secara mudah, bahan-bahan kronik ini bisa didapat menggunakan pemberitaan media massa, baik cetak maupun digital. Kerja mengronik ini sangat nyambung apabila dikerjakan oleh dinas yang bersangkutan. Saya berpikir positif saja, bahwa di Trenggalek mengronik pernah dikerjakan misalnya oleh Dinas Kearsipan dan Perpustakaan maupun Dinas Komunikasi dan Informatika (?). Dan masyarakat tinggal mengaksesnya.

Kalau mau, kronik perjalanan sebuah kota misalnya bisa mulai dirancang dari perjalanan peristiwa besar yang pernah terjadi di Trenggalek. Hasil kronik itu kelak bisa menjadi dokumentasi babon akan perjalanan sebuah kota. Kronik ini bisa dimulai misalnya—kalau memang sulit dimulai dari peristiwa sangat lawas dan juga yang kecil-kecil—dari ketika dibangunnya Trenggalek di zaman Bupati Soetran. Kita mengingat bupati ini sebagai semacam “bapak pembangunan” di Trenggalek, dengan membuka jalan-jalan penghubung antarkecamatan dan antardesa, yang sebagian besar melewati lereng-lereng pegunungan.

Juga, masih di zaman Soetran, saat mulai dibangun sarana dan prasarana pemerintahan dengan bangunan-bangunan dan kantor-kantor baru. Jangan dilupakan, pohon cengkih mulai ditanam dan diperkenalkan ketika itu. Pohon ini membuat Trenggalek sejak saat itu dikenal sebagai kabupaten penghasil cengkih.

Bisa juga dimasukkan perihal saat dikreasinya seni tradisi Turonggo Yakso: patron tari beserta koreografinya sekitar tahun 70/80-an, oleh dua orang adik-kakak, Pak Pamrih dan Pak Muan, yang kelak menjadi karya seni yang melekat pada Kabupaten Trenggalek. Perlu dikronik juga ketika kabupaten tidak terkenal ini menjadi dikenal (ingat  tulisan: Trenggalek Itu Mana?) oleh orang Indonesia dari ujung Sumatra hingga Irian Jaya, ketika tampilnya dua sosok muda: Pak Emil dan Pak Arifin, yang menduduki jabatan pucuk kepemimpinan daerah.

Sejak era perang kemerdekaan, apa saja yang pernah terjadi di Trenggalek. Ke mana orang-orang Trenggalek berdiaspora selama dasawarsa-dasawarsa lampau? Dan mengapa? Sebaliknya, apakah banyak para pendatang yang memasuki Trenggalek di era-era dulu hingga kini? Jawaban dari dua pertanyaan besar ini juga bisa dimasukkan ke dalam kronik.

Jangan lupa, peristiwa semacam kekeringan yang parah dan lama atau banyaknya bencana yang menerpa alam Trenggalek, oleh perusakan dan ketidakharmonisan manusia dengan lingkungan alamnya seperti banjir dan tanah longsor, mesti dimasukkan dalam salah satu bagian dalam bab khusus seperti kronik bencana. Ini semua bermanfaat untuk memandu rencana pembangunan di masa mendatang dan bisa menjadi bahan belajar masyarakat akan pentingnya mitigasi bencana.

Kerja mengkronik peristiwa dan mencatat sejarah ini yang paling gampang mula-mula adalah dengan mengkliping peristiwa-peristiwa keseharian dari koran. Bisa dari koran lokal maupun koran nasional. Ini mudah dilakukan oleh dinas-dinas terkait karena hampir di tiap kantor dinas berlangganan koran. Biar tumpukan koran itu tak cuma diloakkan atau dibakar, yang paling sip memang dengan menempuh jalan kronik (sebut saja: meng-kliping). Jalan ini berguna untuk mengabadikan peristiwa penting.

Kelak kronik kota ini, di antaranya, berguna untuk memahat peristiwa dan kesadaran kolektif warga, merumuskan tujuan masa depan kebupaten dan memandu generasi-generasi pemukim di masa mendatang, sekaligus untuk menghadirkan paras sebuah kota/kabupaten secara utuh dari masa ke masa.

TINGGALKAN KOMENTAR