Monday
1 June 2020
Njajah Desa Milang Kori


Mimpi Siang Bolong tentang Kerajaan

Sebuah Opini dari Roin J. Vahrudin terbit pada 26 Januari 2020 — Tag: , — Artikel ini dibaca normal dalam 3 menit.

Meminjam kata sapaan khas salah satu Youtuber kondang Trenggalek, dengan nama akun nya: “Bapak Mustofa Kepala Jenggot”, saya ingin menyapa Kalian: Halo Geng Lur! Apa kabar semua? Semoga di awal tahun 2020 ini semua baik-baik saja dan sepanjang tahun dipenuhi keberkahan, yes.

Sebelum dilanjutkan, saya akan mengajak Anda untuk menyepakati beberapa hal, eh, dua hal saja. Bahwa kita sama-sama orang awam. Saya di sini sebagai orang yang masih sinau dan Kalian juga masih sinau. Syukur-syukur jika Kalian sudah ekspert, itu akan sangat membahagiakan, karena nanti saya bisa belajar dari Kalian. Jika tidak, maka semoga sinau bareng ini lebih bermanfaat bagi kita semua.

Kedua, sejak 17 Agustus 1945 bahwa wilayah yang dihuni berbagai macam suku bangsa dengan keragaman adat-istiadat, kepercayaan, agama, bahasa, kebudayaan dan keseniannya dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Kepulauan Rote ini, kita sepakat bahwa semuanya dipersatukan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan sistem pemerintahan republik.

Kita sepakat, ya?

Kawan, ketika terdengar kabar berita bahwa muncul dua orang yang mengatasnamakan diri mereka raja dan ratu dari sebuah kerajaan di wilayah negara kita ini, atau munculnya sebuah imperium yang berpusat di Bandung sana, reaksi spontan saya adalah mengernyitkan dahi, tertawa, sebentar kemudian saya merasa kasihan.

Mengernyitkan dahi karena saya kagum dengan mereka. Kok bisa-bisanya imajinasi mereka mencapai hal itu! Dan mewujudkannya. Saya kagum luar biasa. Bagi para ilmuwan ahli otak, saya rasa kemampuan otak kanan mereka akan sangat dikagumi atas kejeniusan imajinasinya.

Kemudian saya tertawa karena, sudahlah, mau seberapa sering kita mendengar bahwa negara ini tidak baik-baik saja, mau seberapa sering rakyat Indonesia dikhianati, atau bahasa Jawa-nya di-pulosoro, bangsa kita ini tidak kehabisan ide, kekurangan kreativitas, nihil inovasi untuk berjenaka, berkomedi dan melawak. Khususnya menertawakan diri sendiri.

Yah, meskipun semakin ke sini kita semakin merasa bahwa salah satu ciri bangsa kita itu tadi, kini semakin hilang karena banyak dari kita yang tak memiliki selera humor. Seriuuuuus terus. Woles, bro. Santai.

Ngapain serius-serius amat? Lha pemerintah saja sering ngajak kita guyon kok. Eh, nggak ada hubungannya ya? Ada nggak, sih? Ah, taulah!

Dan pada akhirnya saya merasa kasihan. Bukan hanya kepada sang “raja” dan “ratu”, namun juga kepada pemerintah negeri ini. Saya membayangkan, sepasang “raja” dan “ratu” ini adalah manusia yang kurang kasih sayang, khususnya dari pemerintah. Rasa “jarang dibelai” dari pemerintah akhirnya menyudutkan mereka pada satu kondisi yang memaksa kreativitasnya timbul. Inovasinya tergugah. Layaknya remaja jomblo, jika kekasih hati tak bisa digapai, ia mampu melakukan hal-hal yang tak logis menurut orang lain.

Cinta dan ketakwarasan itu beda tipis, begitu kata salah satu pujangga. Karena efek dari keduanya sama-sama tak masuk akal. Atau jangan-jangan karena benci? Karena ada pula yang bilang bahwa benci sebenarnya tidak ada. Ia hanya reaksi dari cinta yang tak terbalas. Bisa saja kan mereka adalah orang-orang yang sebenarnya sangat mencintai negara ini, namun rasa cintanya yang mendalam dibuat guyonan oleh orang-orang yang diamanati untuk mengurus negara ini. Siapa tahu?

Bagi pemerintah seharusnya fenomena ini jangan hanya dipandang sebagai kriminal, karena melanggar apa yang sudah kita sepakati bersama sejak Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan kita 74 tahun lalu. Semoga saja pemerintah mau intropeksi bahwa bisa saja itu adalah salah satu bentuk kekecewaan mereka terhadap apa yang kini tengah berlangsung di negara ini.

Kawan, sebagian dari kita, khususnya yang belajar sejarah, pasti tahu bahwa betapa hebatnya bangsa ini sejak dulu. Tak hanya se-abad dua abad yang lalu. Atau seperti Eropa yang baru berkembang kurang lebih 500 tahun yang lalu. Amerika? Ah, itu baru 200-300 tahun yang lalu. Tapi bangsa ini sudah hebat sejak satu milenium yang lalu. Satu millennium, bro! 1.000 tahun! Bahkan ada sejarah yang menyebutkan bahwa peradaban di negeri ini sudah ada lebih lama dari itu. Baca deh!

Ketika ada beberapa orang yang mengaku bahwa ia memiliki kerajaan, dan berdiri di wilayah negara ini, prasangka saya adalah mereka memimpikan dan merindukan seperti apa yang di hati terdalam saya impikan hasil dari dongeng-dongeng sejarah tentang negara ini. Negeri yang berkeadilan sosial bagi seluruh rakyatnya. Negeri yang gemah ripah loh jinawi, negeri yang baldatun toyyibatun wa robbun ghofur.

Jadi, jika Kalian punya rencana ingin mendirikan kerajaan atau keraton di Trenggalek, saran saya, mending, jangan deh! Nanti kesannya kalian tidak puas dengan kepemimpinan Gus Ipin. Bukankah kita sepakat bahwa Gus Ipin adalah Bupati Trenggalek yang sangat baik dan mumpuni?

Salam Lestari!

TINGGALKAN KOMENTAR