Saturday
29 February 2020
Njajah Desa Milang Kori


Hujan yang Dinanti Belum Datang Lagi

Semenjak pindah ke Watulimo tahun 2016, suasana asrep yang saya rasakan sudah berkurang. Selain rasa dingin, dulu curah hujan lebih intens. Buktinya saat menjemur baju, tiga hari baru bisa kering.

Sebuah Feature dari Andrik Waluyo terbit pada 6 Februari 2020 — Tag: , , — Artikel ini dibaca normal dalam 2 menit.

Tahun 2019 Indonesia mengalami musim kemarau yang lebih panjang. Dampaknya cukup vital, mulai dari lahan-lahan pertanian yang kering, sumur-sumur dengan mata air berkurang, hingga kebakaran hutan yang tak kunjung padam. Sudah pasti fenomena ini sangat janggal mengingat biasanya hujan sudah turun dengan deras di akhir tahun, bahkan pada awal tahun seperti sekarang.

Fenomena tersebut juga melanda kawasan Watulimo, Trenggalek. Sampai awal tahun 2020 pun masih belum turun secara intensif. Akibatnya, warga mengalami kesusahan pengadaan air bersih. Kesusahan warga tercermin dari tindakan warga yang membuat sumur sendiri. Itu disebabkan air PDAM sudah tidak mencukupi.

Semenjak pindah ke Watulimo tahun 2016, suasana asrep yang saya rasakan sudah berkurang.  Selain rasa dingin, dulu curah hujan lebih intens. Buktinya saat menjemur baju, tiga hari baru bisa kering.

Dari gejala itu, mungkin ada yang berubah dari kondisi alam di Watulimo. Alih fungsi hutan bisa juga menjadi salah satu pengaruh. Sebab, hutan yang memiliki pepohonan tentu akan menghasilkan oksigen yang lebih, sehingga udara bisa tetap sejuk kala siang hari. Daya tampung mata air juga bisa menjadi jaminan masa depan. Namun, kondisi sekarang tidak demikian. Intensitas hujan jarang. Sumber mata air juga makin menipis. Bahkan sekarang ada pengiriman air bersih.

Hujan sekarang ini memang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Ada dugaan lantaran munculnya fenomena el nino, yaitu semacam gejala penyimpangan kondisi laut yang ditandai dengan naiknya suhu permukaan laut. Hal ini berimbas pada durasi musim kemarau yang lebih lama: lebih panjang untuk daerah beriklim tropis.

Fenomena demikian mestinya menjadi pemikiran kita. Adakah yang salah? Apakah gejala hujan yang terlambat tak lain disebabkan oleh ulah kita sendiri?

Perilaku kita terhadap alam kemungkinan mengakibatkan fenomena ini terjadi. Apalagi kalau bukan perilaku kita yang kurang bersahabat dengan alam. Alam sebenarnya bisa menjadi partner hidup manusia. Namun alam sekarang sering menjadi area eksploitasi keserakahan manusia.

Keberadaan hutan kini semakin memprihatinkan. Karena ada beberapa warga yang menebanginya guna dibuka sebagai lahan pertanian. Pohon-pohon besar kini menjadi ladang jagung. Alasan ditebang oleh warga berkaitan dengan perekonomian. Sebab, hasil penghidupannya untuk sekarang ini memang bergantung padanya. Beda dengan tahun sebelumnya, hasil penghidupan bisa dari cengkih. Tapi kini di kawasan Watulimo, tanaman cengkih pun mulai banyak ditebang. Karena sudah mengalami kerusakan.

Mungkin kita harus instropeksi, “sebenarnya yang menjadikan hujan terlambat ini apa?” Pertanyaan demikian patut muncul setiap saat. Faktanya, selain kita semakin menjauh dari Tuhan, banyak tingkah laku kita di luar kewajaran: merusak siklus alam.

Ada beberapa saran dan solusi demi kesediaan air bersih sekarang ini, yakni: masyarakat harus bisa mencintai alam, misalnya dengan aktif mereboisasi. Kecintaan pada air juga perlu ditingkatkan, semisal dengan cara tidak membabati hutan. Aktivitas kita yang boros terhadap air bisa kita kurangi. Pemanfaatan air sungai menjadi alternatif pemenuhan air, asalkan sampah tidak dibuang sembarangan di aliran sungai. Ini tindakan sederhana yang sangat bisa kita lakukan, yang afeknya pasti besar sekali.

TINGGALKAN KOMENTAR