Saturday
6 June 2020
Njajah Desa Milang Kori


Gerundelan Orang Desa Karena Corona

Sebuah Esai dari Roin J. Vahrudin terbit pada 29 Maret 2020 — Tag: , , , — Artikel ini dibaca normal dalam 3 menit.

Kawan, awal Maret tahun 2020 ini, si Corona yang sudah lebih dahulu menggemparkan China dan Eropa, akhirnya menghebohkan Indonesia. Keadaan yang semula semua baik-baik saja, dengan gemparnya pemberitaan media, membuat masyarakat ikut bereaksi. Masyarakat saling mengamankan diri dari Corona.

Sebagai masyarakat yang mendapat informasi dari media yang berseliweran tanpa tahu kebenarannya, sebenarnya saya punya pertanyaan-pertanyaan dalam kepala saya. Media-media yang sebelumnya mengabarkan betapa ganas dan bahayanya si Corona, sepertinya justru memberitakan ketakutan dan kematian. Kenapa media minim memberitakan kabar-kabar yang menguatkan dan menyemangati. Kabar tentang kesembuhan dan kehidupan misalnya. Karena sepengetahuan saya, kekhawatiran dan panik berlebih justru akan menurunkan daya tahan tubuh lebih cepat.

Orang bijak berkata bahwa di balik apa pun peristiwa yang terjadi, pasti terdapat hikmah yang, tidak hanya dapat kita petik, tetapi bisa kita panen. Tergantung bagaimana kita menyikapi. Dan untuk itu, kita memerlukan jarak pandang, sudut pandang dan resolusi  yang luas dan dalam.

Salah satu contoh, perkara masker. Dari sudut pandang pelaku bisnis, situasi ini adalah peluang untuk meraup untung. Tapi, rasanya mereka memiliki sudut pandang yang kurang luas juga kurang lebar. Janganlah mengatai mereka sempit, dangkal dan, apalagi kosong. Tak elok.

Meskipun kita sering mendengar umpatan-umpatan kepada mereka yang mengatakan bahwa mereka tak bermoral. Tak beretika dan tak berperikemanusiaan.

Lagi pula kita tak pernah tahu, apakah harga-harga tersebut memang diatur sedemikian rupa karena situasi yang bagi mereka menguntungkan ini; atau mungkin barang tersebut langka karena banyaknya permintaan? Semakin banyak permintaan dan barang semakin sedikit, harganya pasti melangit. Begitu kata ilmu ekonomi. Apalagi kalau selama ini barang tersebut ada di negeri ini karena impor. Bisa saja, kan?

Sudah, tak usah menyalahkan keadaan apa pun atau siapa pun. Sebaiknya kita lihat diri kita sendiri, secara umum masyarakat kita sendiri. Kenapa harus menyimpan 100 masker jika 10 sudah cukup? Kenapa harus kita yang memakai, jika para dokter, perawat dan petugas medis lain yang harus dan wajib memakai justru kelimpungan karena kekurangan alat pelindung diri?

Salut dan bangga untukmu para dokter, perawat dan petugas medis yang telah, sedang dan akan menghadapi “pagebluk” ini di garis depan.

Saya melihat, manusia, mal-mal, kereta cepat, gedung-gedung tinggi, pesawat terbang, mesin-mesin yang dulu menjadi kebanggaan zamannya kini tak bergerak. Lumpuh. Kita semua dipaksa bersembunyi bukan oleh ribuan pasukan tentara atau invasi monster luar angkasa. Jika itu saja, tak susah kita karena ada Captain America dan Iron Man yang akan memimpin Avengers mengalahkan mereka. Tapi ini oleh sesuatu yang tak terlihat, saking kecilnya.

Dari diri saya pribadi, ketika si Corona ini merajalela, tentu saya khawatir, jengkel dan pada akhirnya bereaksi menjaga diri dan keluarga. Jengkel karena liga-liga sepakbola Eropa dihentikan. Itu yang pertama. Kedua, hendak ke mana-mana susah, apalagi ketika barang dagangan habis dan ada urusan pekerjaan yang mengharuskan untuk ke luar kota. Karena tidak semuanya bisa dilakukan melalui online. Bagi saya itu semua sangat menjengkelkan.

Namun seperti yang orang bijak pernah bilang sebagaimana di awal, bahwa kita bisa mengambil hikmah dari ini semua.

Ketika semua berhenti. Bagi kita semua, bumi seperti bernapas kembali. Udara yang sebelumnya penuh polusi, kini berganti oksigen yang menyegarkan seperti di waktu pagi. Di desa saya, mungkin tidak begitu terasa, namun pasti terasa berbeda bagi mereka yang kesehariannya ada di kota. Seperti kata kawanku yang sedang belajar di salah satu kota besar di Jawa Timur. Pagi kini terasa berbeda di dada ketika ia menarik napas. Kebisingan khas kota seperti di-pause. Sesuatu yang bisa dirasakan hanya ketika ia pulang ke desa, dapat ia rasakan di kota ketika si Corona “menyapa” dunia.

Setelah apa pun itu, saya ingin mengucapkan selamat kepada bumi dengan kondisinya sekarang. Minim polusi dan semoga pula minim kesombongan manusia. Dan yang utama dari tulisan ini, tak boleh terlupa dan terlewat adalah, selamat ulang tahun nggalek.co. Tahun ini dapat menjadi pengingat ke depan bahwa ulang tahunmu yang keempat berbarengan dengan betapa sejuk dan segarnya bumi serta runtuhnya kesombongan manusia.

Selamat!

SalamLestari!

TINGGALKAN KOMENTAR