Saturday
6 June 2020
Njajah Desa Milang Kori


Covid-19 Itu!

Sebuah Esai dari Bonari Nabonenar terbit pada 2 April 2020 — Tag: , , — Artikel ini dibaca normal dalam 4 menit.

Karena tidak punya cukup informasi mengenai pandemi korona atau apanya juga yang disebut Covid-19 itu, berjuta-juta pertanyaan berjubel dan beranak-pinak di dalam benak saya. Ini 19 pertanyaan di antaranya. Siapa tahu sampeyan bisa memberikan jawaban yang, kalau pun kurang memuaskan, tidak malah memancing perdebatan. Atau, sudi menanyakan ulang ke siapa begitu, untuk mendapatkan jawaban yang lebih meyakinkan.

Satu: Orang menyebut-nyebut pandemi melanda dunia saban seratus tahun. Dan pandemi korona disebut-sebut pula sebagai pandemi paling ganas, paling luas penyebarannya. Ini dapat dipahami dengan mengingat kemajuan teknologi transportasi dan semakin derasnya arus migrasi manusia di seantero pelosok bumi. Tetapi, kalau kita sering nonton ketoprak atau pakeliran wayang kulit, kita akan mendapatkan deskrepsi mengenai wabah, pageblug, atau pandemi yang lebih ganas, lebih seram.

Digambarkan, ketika pageblug melanda sebuah kerajaan, orang sakit pagi meninggal sore hari, yang jatuh sakit sore meninggal pagi harinya. Itu pun jika para pujangga atau pengarang kisah-kisah yang diketoprakkan atau di-wayang-kulit-kan itu menggambarkannya secara jujur. Loh, itu kan, fiksi?  Yang punya batasan sendiri mengenai kejujuran yang berbeda dengan misalnya, kejujuran versi berita televisi?

Dua: Sampeyan percaya bahwa informasi yang diperbaruhi setiap pukul dua belas siang itu benar-benar menggambarkan fakta atau realitasnya? Jika jawaban sampeyan: ”ya”, pada saat yang sama sampeyan telah membantah keterangan pakar bahwa tidak semua orang yang dihinggapi virus corona menunjukkan gejala dan/atau kemudian jatuh sakit. Bisa saja orang macam ini sempat menularkan virus coronanya ke beberapa orang lain

Tiga: Para pejabat pemangku wilayah dan para kepala jawatan tiba-tiba menyerukan agar orang-orang, warga masyarakat bekerja di/dari rumah. Sebelumnya, sekolah-sekolah sudah ”diliburkan.” Lebih tepatnya, katanya, itu adalah cara baru: bersekolah dari rumah (bagi siswa); mengajar dari rumah (bagi guru). Hal serupa diberlakukan pula bagi dosen dan para mahasiswa. Para pejabat yang menyerukan agar warga masyarakat bekerja di/dari rimah itu seolah-olah hanya tahu bahwa semua warga/penduduk adalah orang-orang kantoran. Apakah sampeyan tahu, bagaimana para petani, para nelayan, para peng-ethek (penjual sayur keliling) bekerja di rumah?

Empat: Saya melakukan perjalanan darat dengan bus umum antarkota dalam provinsi, ketika televisi sudah menyiarkan pembubaran paksa atas kerumunan, dan bahkan pesta pernikahan, oleh polisi. Tetapi, bus yang saya tumpangi dari Terminal Bungurasih baru berangkat setelah semua tempat duduknya terisi (penuh). Sampeyan tahu, berapa jarak antarpenumpang di dalam bus yang penuh itu?

Lima: Masih berkaitan dengan perjalanan saya (lihat pertanyaan nomor empat), saya bertemu dengan para pengamen dan penjual asongan yang melakukan aktivitasnya tanpa mengenakan masker. Dalam kegentingan yang sedemikian mengharu-biru gara-gara Covid-19.

Enam: Apakah tiap-tiap pemerintah provinsi, kabupaten/kota tidak punya kemampuan untuk mengamankan para pengamen/pengasong (lihat pertanyaan nomor lima) itu? Bukankah mereka dan segenap keluarganya adalah yang pertama-tama penting untuk diamankan, dikarantina, disantuni, dipenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar mereka selama sebulan, dua bulan, atau seberapa pun lamanya sampai Badai Covid-19 berlalu?

Tujuh: Simak kalimat berikut ini, ”Yang kaya melindungi yang miskin agar bisa hidup dengan wajar. Dan yang miskin melindungi yang kaya agar tidak menularkan penyakitnya.” Mungkin itu adalah rangkaian kata-kata paling puitis di sepanjang Badai Covid-19. Jika kadar puitis itu hanya diukur berdasarkan potensi multitafsirnya. Hidup wajar seperti apa yang dimaui pembuat pernyataan/imbauan itu?

Delapan: Apakah kemiskinan adalah kelainan? Ketidakwajaran?

Sembilan: Covid-19 terbukti sudah membunuh manusia dari beragam etnis, beragam jenjang usia. Artinya, itu Covid-19 tidak pandang bulu, tidak pandang harta. Sepertinya, seperti kematian itu sendiri. Mengapa pula manusia sekaliber pembuat pernyataan (lihat pertanyaan nomor tujuh) seperti meyakini bahwa Covid-19 adalah penyakit yang (hanya bisa) ditularkan oleh manusia dari kelas tertentu? Kelas kaya (saja) atau kelas miskin (saja)?

Sepuluh: Seorang kawan misuh-misuh. Bukan misuhi Covid-19. Tetapi, mungkin, misuhi nasibnya, ditilang polisi gara-gara (dan baru dalam operasi itu diketahui/disadarinya) masa berlaku SIM-nya habis. Ealah, ketika Presiden memberikan toleransi dan dispensasi, penundaan pembayaran angsuran kredit, penghentian penarikan iuran PLN, di antara kesibukan menindak kerumunan, membubarkan acara pernikahan, kok masih sempat-sempatnya polisi kita menggelar operasi lalu-lintas? Coba, sampeyan terbatuk atau bersin di hadapan ”Pak Polisi” pastilah sampeyan akan dikenakan pasal berlapis dan harus membayar denda lebih banyak.

Sebelas: Apakah tidak ada toleransi atas pemilik SIM yang sudah habis masa berlakunya itu, misalnya, cukup memperpanjang masa berlaku itu secara online dan tidak diharuskan mengurus ulang seperti tidak pernah memiliki SIM sebelumnya? Walau Undang-Undang menuntut demikian?

Dua Belas: Apakah sampeyan punya penjelasan yang masuk akal, bagaimana pemilik SIM yang habis masa berlakunya untuk sehari, dua hari, sebulan, dua bulan, diharuskan untuk mengurusnya dari nol, dengan mengikuti ujian teori dan praktik untuk mendapatkan SIM baru?

Tiga Belas: Si Pulan dapat memperpanjang masa berlaku SIM-nya hanya dengan mendaftar ulang. Membayar uang pendaftaran ulang, dan tidak perlu mengikuti ujian teori maupun praktik. Padahal, selama memagang SIM itu ia terlibat beberapa kali pelanggaran: mengendarai sambil menelepon, menerobos lampu merah, dan berbelok ke kiri sementara lampu sign-nya dinyalakan yang sebelah kanan.

Si Apes harus mendapatkan SIM lagi dengan cara mengikuti ujian teori maupun praktik, dan membayar uang pendaftaran lebih banyak, hanya gara-gara ia baru tahu bahwa SIM-nya kehabisan masa berlaku dalam sebuah operasi lalu-lintas. Padahal, ia tidak punya catatan pelanggaran sebelumnya. Satu-satunya pelanggaran yang membuatnya berurusan dengan surat tilang ialah terlambat mengetahui batas masa berlaku SIM-nya itu!

Empat Belas: Eh, ngomong-ngomong, Para pelanggan PLN dibebaskan dari pembayaran iuran selama tiga bulan itu maksudnya seperti apa? Apakah beban tagihan akan diakumulasikan ke bulan-bulan berikutnya setelah ada kewajiban membayar kembali? Atau beban tagihan selama tiga bulan itu benar-benar dihapuskan? Mungkin jawaban atas pertanyaan ini sudah ada di televisi. Atau di mana?

Lima Belas: Teman saya tertawa, mengejek pembuat spanduk bertuliskan, ”Lock Don’t!” di ruas jalan yang di-blokade. Padahal, menurut saya itu bukan tulisan yang salah. Maksudnya, jalan itu ditutup, tetapi tidak (jangan) dikunci. Kurang-lebih, mirip pesan seorang suami yang hendak keluar pada malam hari kepada istrinya. Bagaimana menurut sampeyan?

Enam Belas: Sekelompok warga menolak jenasah warga lainnya yang dinyatakan meninggal karena korona. Itulah kelompok warga yang sungguh keterlaluan. Mereka lupa bahwa tidak mungkin jenasah itu dimakamkan di planet lain. Apalagi di galaksi lain. Sementara, selama masih di muka bumi, dihanyutkan, dikremasi, atau pun ditanam di dalam tanah, apa bedanya jenasah itu dimakamkan di kampungnya sendiri atau di benua lain? Kalau hanya masalah takut tertulari, berapa hari sih yang diperlukan manusia dan penyakitnya untuk mengelilingi bumi?

Tujuh Belas: Menurut pendapat sampeyan, pandemi korona ini lebih merupakan peringatan?

Delapan Belas: Ujian?

Sembilan Belas: azab/hukuman?

Demikianlah. Saya baru punya sembilan belas pertanyaan. Akan menjadi lengkap jika sampeyan punya sembilan belas jawabannya. Ning, iki ora nantang, loh!*

TINGGALKAN KOMENTAR