Saturday
6 June 2020
Njajah Desa Milang Kori


Alun-Alun di Lintasan Waktu

Sebuah Esai dari Misbahus Surur terbit pada 18 April 2020 — Tag: — Artikel ini dibaca normal dalam 3 menit.

Apa kira-kira fungsi alun-alun di zaman dulu? Mengapa selalu ada di semua kota/kabupaten, khususnya di Jawa? Di masa kini alun-alun (ejaan van Ophuysen-nya aloen-aloen) menjadi salah satu ruang publik favorit, tempat masyarakat berinteraksi dengan sesama warga kota/kabupaten. Tempat menyelenggarakan berbagai kegiatan pemerintah hingga arena bermain anak-anak.

Kita melihat alun-alun sebagai semacam bentangan tak terlalu luas berbentuk persegi panjang dengan rumput menghampar dan pohon-pohon beringin besar yang tumbuh merindang. Dari dulu bentuk alun-alun sepertinya masih sama, alias tak banyak mengalami perubahan. Hampir bisa dipastikan di sebelah barat alun-alun selalu ada masjid. Sebagaimana masih kita lihat hingga sekarang.

Kalau kita memelototi foto-foto lawas, di masa lalu alun-alun juga dipenuhi pohon beringin, baik di pinggir maupun di tengahnya. Meski bangunan di sekitar alun-alun, selain masjid, kini susunannya mungkin agak berubah. Di masa kuno sebagian alun-alun menjadi tempat pepe warga sebelum menghadap raja. Sebab, di sebelah selatan alun-alun biasanya terdapat pintu masuk menuju kediaman bupati (resident) atau raja. Dengan pendopo yang menjadi latar depan. Warga menunggu menghadap raja di tengah alun-alun, mereka melakukan pepe di alun-alun menunggu dipanggil.

Di masa kini alun-alun masih menjadi ruang penting dalam struktur sebuah kota. Bahkan alun-alun selalu identik sebagai pusat kota. Meski barangkali letaknya tak benar-benar berada di tengah kota. Bisa dikatakan, wajah sebuah kota bisa dilihat dari bagaimana pemerintah daerah memoles tampang alun-alunnya.

Dalam catatan Negarakertagama, dilukiskan oleh Kawi Prapanca bahwa di sebelah utara komplek Keraton Majapahit terdapat dua alun-alun, yang masing-masing bernama Bubat dan Waguntur. Kedua alun-alun ini punya fungsi yang agak berbeda. Bubat berfungsi sebagai ruang profan, misalnya digunakan untuk acara pesta rakyat. Sementara Waguntur berfungsi sebagai ruang sakral, sebagai lokasi acara penobatan raja dan resepsi kenegaraan lainnya (Handinoto, 2010: hlm. 221).

Zaman prakolonial, alun-alun sering bersifat sakral. Sifat sakral alun-alun di zaman kolonial berkembang menjadi lebih merakyat. Bahkan, fungsi alun-alun sebagai ruang publik bisa dibilang lebih dominan ketimbang sebagai ruang sakral. Di zaman prakolonial, antara alun-alun, keraton, dan masjid mempunyai konsep yang selaras. Wujud harmoni antara ruang mikrokosmos dan ruang makrokosmos dunia Jawa (Handinoto, 2010: hlm. 230).

Di zaman kolonial, khususnya di zaman pergerakan, karena alun-alun lebih banyak berfungsi sebagai ruang publik, di sana sering digunakan untuk kegiatan publik, seperti mengumpulkan massa rakyat. Rapat-rapat besar dan penggalangan massa Sarekat Islam misalnya, sering berlangsung di alun-alun dan lapangan-lapangan. Kelak di zaman yang lebih modern, rapat-rapat besar para penggerak bangsa yang dihadiri oleh ribuan rakyat juga kerap berlangsung di alun-alun/lapangan. Seperti rapat Ir Soekarno di Lapangan Ikada (kini Lapangan Monas) pada 19 September 1945.

Alun-alun dalam konsep tata kota di Jawa memang menjadi lingkaran sentral. Alurnya diambil dari konsep mandala bernama pancawara. Pancawara adalah konsep tata ruang (mandala) tradisional Jawa yang telah diterapkan sejak dahulu kala di perkotaan-perkotaan Jawa. Dan posisi atau letak alun-alun dan masjid merupakan bagian dari struktur quarter khas kota-kota Jawa tersebut.

Di masa kolonial, susunan atau struktur itu masih tampak hampir di seluruh perkotaan di Jawa. Sementara di masa kini di beberapa kota sudah agak berubah, kecuali di kota-kota yang punya basis kebudayaan yang kuat, seperti Kota Surakarta dan Yogyakarta.

Tata kota ini sebetulnya diadopsi atau terilhami dari struktur permukiman manusia di zaman awal—yakni zaman desa-desa wanua dan desa (perdikan)—yang merupakan ejawantah dari wujud kesadaran religius dan ekonomi dari tata permukiman manusia di Jawa. Ruang tersebut lahir, untuk mewujudkan idealisasi kontinum jagad besar (alam) dan jagad kecil manusia; sekaligus sebagai harmoni konsep ruang sakral dan ruang profan kebudayaan Jawa.

Sistem penataan desa-desa kuno (perdikan) tersebut dikenal dengan nama sistem panatur desa, menggunakan panduan siklus hitungan pasaran lima hari seminggu (pancawara). Dalam tatanan ini, empat desa yang terletak di keempat penjuru mata angin utama mengelilingi satu desa induk yang berada di tengah. Sistem ini lebih dikenal dengan istilah mancapat.

Sistem mancapat pada mulanya digunakan untuk mendistribusikan hasil bumi di tingkat lokal dengan pasar (pkan) sebagai wadahnya. Dengan mengikuti siklus pasar, setiap desa yang termasuk anggota panatur desa, sekurang-kurangnya sekali dalam lima hari, akan menjadi tempat transaksi barang-barang ekonomi (Supratikno Rahardjo, 2011: hlm. 288). Di pasar tersebut terjadi pertukaran barang dan transaksi jual beli, yang menyebabkan ekonomi di tingkat lokal menjadi hidup dan berdenyut. Dengan cara begitulah ekonomi di zaman dahulu terdistribusikan dengan tertib.

Panduan sistem quarter tata kota ini masih digunakan, tapi barangkali asal-usulnya yang digunakan sebagai panduan distribusi barang-barang ekonomi rakyat telah dilupakan. Kini alun-alun atau lapangan sering dibuat untuk pawai dan upacara-upacara hari besar kenegaraan seperti peringatan Hari Kemerdekaan dan peringatan berbagai peristiwa bersejarah yang tercatat dalam kalender.

Di Trenggalek, unsur yang melekat pada kota di Jawa masih ada, misalnya masjid dan alun-alun, yang keberadaannya hingga kini masih sesuai struktur quarter lokal (mancapat). Sementara keberadaan pasar, penjara, dan seterusnya, sudah berubah, tampak menjauh dari pusat kota. Tak lagi berada di dekat alun-alun.

Beberapa waktu lalu, alun-alun Trenggalek dipugar/direnovasi. Yang segera tampak di mata kita kini adalah bentuk pagarnya yang menyerupai tembok keraton. Bukan hanya pagar di sekeliling alun-alun, melainkan juga pagar yang mengelilingi pendopo, kini seragam berpagar majapahitan.

Di saat musim pandemi seperti sekarang, alun-alun Trenggalek yang biasanya ramai tampak sepi dan lengang. Padahal kalau hari-hari biasa, siang maupun malam hari, alun-alun Trenggalek selalu ramai. Alun-alun di kota kecil ini memang menjadi salah satu tempat favorit berkumpul warga dan banyak keluarga di tengah kota, sekadar berwisata kecil-kecilan atau untuk melepas penat.

TINGGALKAN KOMENTAR