Wednesday
21 October 2020
Njajah Desa Milang Kori


Hari Bumi di Tengah Wabah

Sebuah Opini dari Roin J. Vahrudin terbit pada 22 April 2020 — Tag: — Artikel ini dibaca normal dalam 3 menit.

April bagi saya selalu menjadi bulan yang istimewa. Bukan berarti bulan-bulan yang lain tidak istimewa. Namun, tentang mendapatkan dan kehilangan, selalu banyak cerita di bulan April. Seperti gembok yang selalu berpasangan dengan kunci, begitu pula kehilangan sering berbarengan dengan anugerah.

Tentang kehilangan seorang sahabat, selamanya. Dengan itu justru saya banyak belajar dari kehidupannya. Mungkin benar mengenai perkataan bahwa untuk mengetahui baik atau kurang baiknya hidup seseorang, lihatlah saat ia tiada.

Maaf, ini bukan tulisan tentang romantisme betapa melankolisnya saya ketika menjumpai tanggal 22 April, melainkan tentang harapan dan pelajaran hidup. Dan salah satu gurunya adalah sahabat saya tadi.

***

Di banyak serial animasi, tidak sedikit kita bisa mendapatkan pelajaran hidup yang sangat luar biasa. Oh ya, di antara Anda sekalian, adakah yang tidak suka dengan anime? Jika iya, saya sarankan sampai di sini saja Anda membaca tulisan ini. Karena apa yang selanjutnya akan Anda baca adalah tentang anime.

Dari sekian banyak serial animasi, menurut saya, salah satu serial animasi yang bisa kita pelajari adalah serial Avatar: The Legend of Aang.

Bagi yang mengikuti serial animasi pengendali 4 elemen tersebut, pasti pernah menonton salah satu episode “Return to Omashu”. Saat itu, sang raja, yang bernama Bumi, memilih menyerahkan diri kepada Negara Api dan akhirnya ia dikurung dalam peti besi. Kemudian Sang Avatar datang untuk menyelamatkannya, dan sempat berbincang-bincang dengannya.

Pada saat berbincang itulah Raja Bumi menjelaskan kepada Avatar bahwa terdapat 85 energi. Dari sejumlah itu, yang terpenting adalah energi netral, yaitu berdiam, menunggu saat yang tepat untuk melakukan penyerangan. Saat itulah Avatar memaklumi dan memahami alasan Raja Bumi memilih untuk membiarkan dirinya ditahan oleh Negara Api. Ketika itu pula Raja Bumi menasehati Avatar agar mencari guru pengendali tanah yang mampu “mendengarkan” Bumi.

Setelah pengembaraan yang jauh dan panjang, akhirnya Avatar bertemu dengan guru pengendali tanah seperti yang dicirikan oleh Raja Bumi, yaitu si bandit yang buta; Toph Bei Fong. Meskipun buta, ia sangat mengerti keadaan di sekitarnya, karena memiliki kemampuan merasakan apa pun getaran yang ada di tanah dengan telapak kakinya.

Kawan, belajar dari kedua tokoh tersebut, sepertinya keadaan bumi sekarang ini, di tengah masih merebaknya Covid-19, dengan ulek-elek saya, ada dua hal yang mungkin bisa kita renungkan.

Mungkin kita semua sudah pernah mendengar riwayat yang menceritakan bahwa ketika manusia diciptakan, para malaikat “protes” kepada Tuhan, kenapa menciptakan makhluk yang nantinya akan membuat kerusakan dan saling membunuh? Dan Tuhan pun menjawab bahwa Ia lebih mengetahui segala sesuatunya. Kisah ini ada di dalam Al-Quran, jika saya tak salah. Mohon dikoreksi.

Akhirnya, manusia menyusul “kakak-kakaknya”; tumbuhan dan binatang ke bumi. Si bungsu ini setelah beranak-pinak menjadi tepat seperti yang malaikat proteskan kepada Tuhan. Hingga suatu ketika, karena jengah, planet yang kita sepakati untuk kita sebut bumi merajuk pada Tuhan gara-gara kelakuan si bungsu. Ia meminta izin untuk memusnahkan mereka dengan tanah-tanah yang diguncangkan, gunung-gunung meletus, samudera memuntahkan air, dan angin yang memporak-porandakan manusia. Dan perkiraan ulekelek saya, Tuhan pasti berkata; “Jangan gitu dong bumi, gitu-gitu juga ciptaan-Ku.

Nah, untuk bersikap adil kepada makhluk-Nya. Tuhan mengizinkan keinginan bumi namun juga membatasinya. Sebut saja misal ketika ada gempa bumi, gunung meletus, tsunami, angin puting beliung, topan dan bencana lainnya, difungsikan bukan untuk memusnahkan tapi sebagai peringatan dan ujian. Setidaknya hingga saat ini. Tidak tahu sampai entah kapan.

Dan saat ini, Tuhan pun sedang ngaring-ngaringi bumi agar bisa kembali “bernapas” lega dengan mengizinkan Covid-19 ada di bumi. Tak baik bagi manusia, mungkin. sama seperti hal-hal alamiah lainnya, seperti air mengalir yang karena buruknya manusia memanajemen air, bisa menjadi banjir: menjadi sebuah bencana. Sesuka hati kita merobohkan pepohonan, tanah pun longsor. Dan lain sebagainya.

Ketika Tuhan mengizinkan Covid-19 berada di dunia ini, saya berbaik sangka kepada Tuhan bahwa karena tak terbatasnya Rahman Rahim-Nya-lah, ini semua adalah sebuah peringatan, bukan hukuman. Tuhan tak tega dengan kita. Umat dari kekasih-Nya.

Planet yang kita tempati ini mungkin sudah lama dalam situasi dan kondisi menggunakan energi netral. Ia patuh dan sabar atas perintah Tuhan untuk menjadi tempat tinggal bagi manusia dengan jabatan sebagai khalifah fil ardi. Menjadi makhluk yang diamanati untuk mengelola, tak hanya dirinya sendiri namun juga seluruh makhluk di bumi. Tapi nyatanya?

Bagi kita, si bungsu, harus mengakui bahwa kini kita semakin kehilangan kemampuan “mendengarkan” bumi. Tokoh Toph menyindir sekaligus mengingatkan bahwa kita harus lebih banyak merasakan daripada melihat. Alam bukanlah objek, tumbuhan dan binatang adalah senior-senior kita di jagat raya ini. Tak patut kita berlaku seolah-olah kita adalah penguasa tunggal untuk semuanya.

Ingat, kita diamanati sebagai pengelola, bukan penguasa!

Selamat harimu, Bumi. Meskipun engkau tak memerlukan itu semua, tapi biarkanlah sejenak manusia menghargai. Kami harap engkau memaafkan kami; manusia, spesies terakhir yang sombongnya nggak ketulungan. Makhluk yang telah engkau pintakan kepada Tuhan untuk kau hujani dengan letusan gunung berapimu, engkau porak-porandakan dengan gempa, engkau sirami dengan dahsyatnya gelombang samudera dan engkau hempaskan dengan angin.

Tuhan, ampunilah kami.

***

Suatu waktu ketika diajak muncak di salah satu puncak tertinggi di Watulimo, sahabat saya justru malas-malasan berangkat dengan alasan cuacanya cerah. Bagi sebagian yang lain ini adalah waktu yang tepat untuk berkemah, tapi tidak baginya.

Kita hanya berkemah ketika situasi menguntungkan kita. Tindakan seperti itu adalah tindakan egois. Merasakan apa yang ingin kita nikmati sendiri; senja yang jingga keemasan, langit malam yang cerah penuh bintang, dan hangat mentari pagi di ujung timur. Padahal baginya, ketika berkemah harusnya lebih banyak menyatukan rasa dengan alam sekitar. Mendengarkan dan merasakan bumi.

Terimakasih, sahabatku.

Selamat hari bumi.

SalamLestari

TINGGALKAN KOMENTAR