Sunday
9 August 2020
Njajah Desa Milang Kori


Hemingway di Pantai Konang

Sebuah Esai dari Edwin Anugerah Pradana terbit pada 10 Mei 2020 — Tag: — Artikel ini dibaca normal dalam 3 menit.

Dalam salah satu novel terbaiknya, Ernest Hemingway bercerita tentang tekat besar sosok pria tua penangkap ikan marlin. Berlatarkan suasana laut pesisir Kuba, Hemingway seolah ingin menjelaskan intimasi laut dan nelayan. Semua tertuang dalam novel berjudul The Old Man and The Sea.

Laut seolah menjadi napas bagi para nelayan, tak terkecuali nelayan di pesisir Teluk Panggul. Panorama yang indah hanya menjadi sebuah predikat, namun objek dan subjek utama yang menghidupi suasana laut adalah ikan dan nelayan. Di Trenggalek, nelayan dan petani seolah menjadi simbol terjaganya tradisi, kemauan untuk merawat bumi dengan kompleksitasnya.

Ada banyak yang timbul selama saya menyaksikan hidup “orang-orang laut” itu. Ini jelas bukan perkara hasil dan profesi, alih-alih kompetisi. Melalui nelayan Pantai Konang, tersemat kemesraan dan pesta.

Solidaritas, kerja sama dan gotong royong tentu sudah menjadi semacam etika antarnelayan. Namun kemesraan itu timbul, dalam sebuah proses yang mengesampingkan unsur duniawi dan materialisme. Proses berangkat melaut adalah proses pendekatan. Proses menangkap ikan adalah tahapan-tahapan meraih cinta dari laut nan jelita. Terakhir, bagi hasil adalah proses pesta nyata besar-besaran. Pesta yang terjadi antara nelayan dan penduduk pencinta ikan (yang mayoritas dari Panggul) juga pesta antara anak-anak muda yang mencari perayaan di tengah dingin malam.

Hemingway, Konang dan Perayaan

Jika boleh berandai-andai, seandainya Hemingway mau mengangkat Pantai Konang, mungkin novel The Old Man and The Sea akan lebih penuh intrik. Mulai dari suasana pesta penangkapan ikan, legam dada para nelayan, caping ibu-ibu pengumpul ikan, atau bahkan suasana bal-balan di pinggir pantai yang memesona. Seandainya Hemingway tinggal di Trenggalek, mungkin ia akan hidup dalam senyuman khas rokok lintingan, kunyahan nasi tiwul dan ikan tongkol bakar yang selalu mengajak lidah mencumbu rasa.

Perayaan memang menjadi hal yang spesial di Pantai Konang, pun begitu dengan Ernest Hemingway. Biasanya, pukul 10 malam yang dingin adalah waktu persiapan pesta pantai. Mencari kongsi-kongsi, menyiapkan peralatan, tempat, lantas berangkat ke Pantai Konang. Menyiapkan rupiah yang siap ditukar dengan beberapa ekor ikan.

The Old Man and the Sea tampaknya bisa mengambil unsur tersebut. Santiago hanya mampu menghibur pria tua yang gigih itu dengan perkataan-perkataannya. Nyaris mati di laut, kelaparan, Marlin yang tak kunjung datang, hingga klimaks yang mengarah pada pertarungan sengit seorang pria tua melawan seekor ikan.

Linear

Satu lagi hal yang saya tangkap dari eksperimen Hemingway, mengenai kehidupan laut di novel tersebut, yang cukup erat dengan masyarakat Trenggalek terutama para nelayannya, yaitu elemen perjuangan. Narasi-narasi Hemingway begitu bulat. Ia membentuknya dalam disiplin cerita yang sangat linear. Pria tua yang menangkap ikan. Para nelayan Pantai Konang sadar, bahwa ada semangat yang linear dalam diri mereka. Fokus kehidupan yang mengarah pada tingkat pemersatuan ideologi para nelayan, yang menggabungkan niat dan usaha untuk mendapatkan ikan semaksimal yang mereka bisa.

Proses linear yang terjadi, disebabkan oleh jernihnya mindset para nelayan. Mereka harus teliti dalam aspek melaut. Jika ada kesalahan sedikit saja, maka akan timbul masalah yang besar.

Melaut Sebagai Pemenuhan Tradisi

Pria tua yang ada dalam The Old Man and the Sea melaut sendirian. Dan saya jamin, narasi itu akan berubah ketika Hemingway mengambil latar tempatnya di Pantai Konang. Ada tradisi gotong-royong, kebersamaan dan bahkan pembentukan karakter dalam proses melaut. Disadari atau tidak, para nelayan sedang melakukan suatu upacara yang intim manakala mereka berangkat melaut.

Tradisi bayi orang Jawa adalah bagian dari implementasi pola-pola kehidupan. Mitoni, kenduri, peringatan 7, 40, 100, 1000 hari orang meninggal, bersih desa, larung, adalah bentuk bagaimana para leluhur mempelajari pola. Yang kemudian pola itu diimplementasikan ke dalam kehidupan sehari-hari, sebagai perwujudan dari tradisi.

Pola-pola itu ternyata juga diterapkan dalam tradisi melaut para nelayan. Hemingway akan menuliskan tentang bagaimana para nelayan pantai mempertimbangkan aspek keselamatan, hasil yang cukup (bukan hasil yang sebanyak mungkin). Lalu ada pertimbangan ombak, jam keberangkatan dan pulang, yang ternyata juga tepat dengan jam perayaan para anak muda. Hal-hal yang mengandung repetisi dan pertimbangan rasanya begitu erat dengan tradisi melaut ini.

Penghormatan

Sebagai mata pencaharian, melaut memang bukan pekerjaan yang paling menjanjikan. Ada banyak hal dan pertimbangan dalam setiap detailnya. Cuaca kadang tak bersahabat. Ikan yang tak jarang sulit didapatkan. Kerusakan mesin. Semua itu memang jauh dari hasil yang pasti. Namun saya melihat, para nelayan memandang hal itu dengan sangat positif.

Proses linear yang terjadi antara mereka dengan laut, harus diimbangi dengan kelokan-kelokan problematik yang semakin menambah bumbu tradisi melaut. Sebagaimana pria tua menghormati pertarungannya dalam novel, para nelayan Pantai Konang menghormati setiap keputusan Tuhan mengenai apa yang bisa dan yang tidak bisa untuk didapatkan ketika melaut.

Panggul, 4 Mei 2020

TINGGALKAN KOMENTAR