Minggu, Juli 25, 2021

Kudapan Cinta yang Tak Perlu Diakhiri

Mungkin kekurangannya, cerpen Artie masih mudah ditebak akhirnya. Sampulnya terlalu bahagia untuk cerita yang suram.

Artikel Terkait
Impian Nopitasari
Impian Nopitasari
Penulis cerita berbahasa Indonesia dan Jawa. Tinggal di Solo. Buku yang sudah terbit adalah Kembang Pasren (2017) dan Si Jliteng: Dongeng Bocah Abasa Jawa (2020)

Judul: Cinta yang Bodoh Harus Diakhiri
Penulis: Artie Ahmad
Penerbit: Buku Mojok
Tahun: 2019
Tebal: 140 halaman
ISBN: 978-602-1318-83-6

Cinta. Sampai kapan pun tema ini akan selalu abadi. Tidak peduli musim. Serupa candu, dihisap membuat melayang, dijauhi membuat sakaw. Begitulah.

Dalam kumpulan cerpen Cinta yang Bodoh Harus Diakhiri (CBHD) karya penulis muda Artie Ahmad, kita masih dipaksa untuk berbicara tentang cinta. Artie mengolah keenam belas cerpennya dengan penuh warna. Ia memakai variasi sudut pandang dan gaya penceritaan yang berbeda. Namun sebenarnya cerita-cerita yang ia tulis punya garis besar yang sama, yaitu tentang kemuraman, kesepian, rindu, dan dendam.

Dalam penokohan, seperti ciri khas Artie dalam cerita-ceritanya, ia suka mengambil tokoh perempuan. Saya mengenal Artie sebagai orang yang dekat dengan mendiang NH Dini yang terkenal dengan tulisannya yang mengangkat isu tentang perempuan. Selain NH Dini ada Mira W yang menjadi idolanya. Bahkan saya pernah melihat postingan Artie kalau ia ingin mengirim bukunya ke penulis Mira W, namun ia tidak tahu alamatnya. Hehe. Buku-buku yang ia baca baik fiksi atau non fiksi juga sering bertema perempuan. Tak mengherankan kalau beberapa teman yang saya kenal menganggapnya sebagai feminis.

Kembali ke dalam isi kumcer CBHD. Kita akan menjumpai para perempuan yang kesepian, menanggung rindu, pura-pura bahagia, terluka dan hidup dipenuhi dengan kemuraman. Kita bisa temukan di cerpen Persekutuan Perempuan-Perempuan Lajang, Kudapan Hati Kekasih, Tarian Biyung, Bayang-Bayang, Ayah Ditelan Lautan, Ibu Menelan Rembulan, Perempuan yang Memeluk Sunyi, Hidangan di Meja Makan, Perempuan Pengembara yang Menunggangi Seekor Lembu, Perawan Yamadipati, dan Perempuan yang Memilih Menjadi Api.

Perempuan-perempuan di sini adalah perempuan yang memuja cinta, melakukan apa pun demi orang yang dicintai walau pada akhirnya dilukai dan dikecewakan. Masing-masing perempuan ini punya akhir cerita yang berbeda. Dalam cerpen Persekutuan Perempuan-Perempuan Lajang, tokoh Luka Sukma memilih memanggil dirinya dari masa lalu untuk memberi semacam peringatan atau wejangan walau dengan cara yang tidak masuk akal. Ia mengundang Luka Sukma muda untuk hadir dalam pesta memperingati seperempat abad dirinya melajang.

Saya menemukan usaha dalam diri Luka Sukma untuk menertawakan diri sendiri. Saya sepakat kita semua pernah mengalami ujian hidup yang berat dan ketika sudah berhasil menertawakan diri, tandanya sudah lebih baik. Saya menangkap apatisme dan sesuatu yang memang benar adanya dalam kalimat Luka Sukma tua kepada Luka Sukma muda “Tentu saja. Semua orang yang masih memuja peradaban dan cinta pastilah manis.” Semua tampak manis ketika kita masih kasmaran dan akan tampak menyedihkan ketika dikecewakan.

Kekecewaan juga dirasakan tokoh perempuan dalam cerita Kudapan Hati Kekasih. Tokoh perempuan di sini digambarkan sebagai seorang yang setia kepada suami dan sangat percaya. Bahkan selera makan suami yang suka dengan masakan hati angsa pun dituruti. Hingga suatu saat si perempuan tahu bahwa sesungguhnya tidak hanya hati angsa yang ia makan, tapi hati perempuan-perempuan lain yang ia singgahi. Saya punya pertanyaan kepada Artie, kenapa ia memakai simbol angsa? Mungkinkah karena angsa adalah hewan yang digunakan sebagai simbol cinta walau tidak sepopuler burung merpati. Angsa adalah hewan monogami. Ia hanya akan mencintai pasangannya saja. Ia bereproduksi untuk dapat menghasilkan keturunan hanya dengan pasangan hidupnya saja. Di dalam cerita garapan Artie, si tokoh laki-laki suka memakan hati angsa. Ia adalah laki-laki perusak kesetiaan, cocok seperti kegemarannya.

Dalam cerpen Bayang-Bayang juga digambarkan seorang perempuan yang menaruh kepercayaan tinggi kepada lelaki yang belum lama dikenalnya. Di halaman pertama cerita ini si tokoh perempuan sudah berkata “Aku menaruh percaya kepadanya melebihi siapa pun yang dikenalnya. Mungkin di dunia ini yang percaya terhadapnya hanya aku seorang.” Begitu mengerikannya kepercayaan perempuan kepada laki-laki. Saya pun begitu, ketika sedang mencintai seseorang. Berusaha selalu percaya walau kadang memang sadar kalau dibohongi. Penyangkalan demi penyangkalan selalu timbul ketika si lelaki berbuat kesalahan. Saya bisa maklum kenapa ibu si perempuan selalu menaruh curiga terhadap semua lelaki, termasuk menantunya sendiri.

Saya pernah di posisi baik sebagai anak perempuan yang mencintai lelaki atau sebagai ibu yang digambarkan sebagai perempuan yang dulunya optimis dan cerah, berubah menjadi perempuan yang selalu dipenuhi rasa curiga. Karena memang sakit hati yang tumbuh subur dipupuk dendam ternyata bisa mengubah seseorang menjadi sedemikan berubahnya (hal 45-46).

Pada akhirnya memang kecurigaan itu terbukti adanya. Tokoh ibu di cerita Bayang-Bayang hanya ingin melindungi anaknya dari lelaki brengsek. Hal ini juga yang dilakukan oleh Mak Tua, tokoh dalam cerita Perawan Yamadipati. Kemarahan kepada lelaki yang memperkosa dan membuat putrinya mati membuat ia memberi rajah kepada cucu perempuannya yang masih berusia 13 tahun agar tidak ada lelaki yang mengganggunya. “Itu hanya pelindung untukmu. Jika ada lelaki yang hendak menyakitimu, mereka akan mati layaknya manusia yang dipatuk ular. Bagai kutukan, siapa saja yang merenggut keperawananmu akan secepatnya dihukum Sang Yamadipati . Dia akan menjagamu. Dia akan menemui kematiannya. Dan kau akan selalu dilindungi, nasib buruk bibimu tak akan menurun kepadamu,” ujar Mak Tua perlahan (hal. 110). Walau kemudian hal ini menjadi masalah karena rajah itu tidak bisa hilang dan membunuh lelaki baik yang mempersunting sang cucu.

Khusus cerita Perawan Yamadipati, saya jadi ingat mitos di kampung saya. Jadi ada cerita yang mirip dengan tokoh cerita ini. Bedanya perempuan di kampung saya kabarnya punya rajah di pundak, bukan di alat vital. Perempuan itu dijuluki “Pundhak Laweyan”. Lawe dari kata benang lawe. Laki-laki yang bersamanya seperti terjerat benang lawe, tidak bisa lepas, dan jika berhasil menjadi suami si perempuan itu, bakal tidak berumur panjang. Meski durasi kematiannya tidak secepat seperti di cerita Artie.

Perempuan yang Memeluk Sunyi dan Hidangan di Meja makan adalah cerita yang menggambarkan perempuan yang tidak berdaya karena tidak bisa memberi apa yang diinginkan suaminya atau tidak bisa menolak apa yang menjadi keinginan sang suami. Rima, tokoh dalam Perempuan yang Memeluk Sunyi tidak bisa memberikan keturunan untuk suaminya, bahkan di puncak keputusasaanya ia ingin mengikuti jejak ibunya dulu yang mendapatkannya dengan penebusan. Namun akhirnya ia tidak jadi melakukannya karena merasa lelakinya tidak pantas menerima pengorbanannya.

Rima lebih beruntung saya kira daripada tokoh perempuan di dalam cerpen Hidangan di Meja Makan. Si perempuan ini selalu menuruti obsesi suaminya yang ingin memberinya makan terus-terusan. Si perempuan bahkan sampai gemuk dan sakit serta meninggal pada akhirnya. Semua dilakukan demi suami yang dicintainya, yang sebenarnya punya kelainan mental itu. Nasib perempuan yang tidak mengenakkan yang disebabkan oleh lelaki juga kita temui di cerpen Perempuan Pengembara yang Menunggangi Seekor Lembu. Perempuan yang jatuh dari tangan lelaki brengsek ke lelaki brengsek lainnya pada akhirnya ingin mencari perempuan yang senasib dengannya agar mereka tidak merasa sendiri.

Yang paling saya perhatikan dari tokoh-tokoh rekaan Artie adalah, mereka perempuan-perempuan yang menyimpan dendam dan punya kesempatan untuk membalas dendam. Kita baca dari awal, tokoh perempuan di dalam cerpen Kudapan Hati Kekasih menyimpan luka yang dalam dan dendam yang ia lampiaskan dengan akan dimakannya hati lelaki yang melukainya. Rima, sang perempuan memilih balas dendam dengan memberi kutukan pada mantan suaminya. Perempuan dalam Perawan Yamadipati balas dendam dengan membuat lelaki mati ketika akan menggaulinya. Yang tidak ketinggalan adalah tokoh Aradea dalam Perempuan yang Memilih Menjadi Api. Dia memilih menjadi api setelah kematiannya agar bisa membakar orang-orang yang menyakitinya.

Perempuan-perempuan di sini adalah perempuan yang punya hati seperti gelas yang pecah. Pecahan gelas ini tentu saja bisa menyakiti yang lain kalau tidak segera dibersihkan. Tentu saja tidak ada pecahan yang akan benar-benar bersih. Tapi walau begitu, sebenarnya saya iri dengan tokoh-tokoh perempuan di sini yang punya kesempatan untuk membalas dendam. Kesempatan yang tidak saya punya atau sesuatu yang tidak bisa saya lakukan.

Hal lain yang saya temukan dalam kumcer CBHD ini adalah Artie membahas tentang bau. Bau memang membuat kita terlempar pada kenangan apa pun. Saya menandai ada dua tokoh yang punya kecenderungan dengan bau. Yang pertama adalah perempuan di cerpen Kudapan Hati Kekasih.

“Aroma cologne yang selalu dia kenakan adalan candu. Aroma yang ingin aku hirup setiap hari, setiap waktu. Wangi musk dengan aroma rempah bercampur sedikit citrus selalu membuatku gila,” (hal. 14).

Perhatikan juga narasi tokoh perempuan dalam cerpen Bayang-Bayang: “Aroma tubuhnya masih sering kucium. Seolah gaib, datang begitu saja membelai penciuman. Aroma citrus yang selalu membangkitkan gairah yang paling purba dalam diriku,”

Dua tokoh ini mempunyai kesamaan, suka aroma citrus. Saya penasaran apakah Artie punya pengalaman dengan bau citrus ini sehingga menghadirkan dalam ceritanya. Saya sendiri bukan pengamat minyak wangi. Apakah citrus ini adalah cara Artie untuk menggambarkan karakter tokohnya? Adakah hubungan keduanya? Saya sendiri sebenarnya punya pengalaman tentang bau yang juga saya hadirkan dalam cerita saya. Bukan bau citrus tapi bau rokok. Artie pun membahas bau rokok ini. Masih tokoh yang sama di cerpen Bayang-Bayang.

“Aroma tubuhnya masih tertinggal di setiap sudut rumah. Cengkeh dan tembakau sisa asap rokok yang dia isap seolah masih senantiasa menguar, menyapa penciumanku,”

Bau rokok itu memang khas, apalagi jika berkombinasi dengan bau badan seseorang. Karena saya mengalami yang namanya langsung jatuh cinta begitu saja dengan seseorang yang bau rokoknya seperti bau bapak saya. Saya punya banyak teman lelaki perokok, tapi belum ada yang membuat saya jatuh cinta sebegitunya selain lelaki yang punya bau rokok seperti bapak. Seorang teman saya mengatakan, secara ilmiah memang aroma tubuh tiap orang itu tidak sama. Faktor pembentuknya adalah kuman/bakteri di permukaan tubuh yang makan garam mineral dari keringat dan kulit mati. Bau tubuh adalah kotoran bakteri.

Pembentuk bau tubuh adalah komposisi, kombinasi dan dominasi bakteri yang berbeda. Mirip aroma parfum yang terbentuk yang terbentuk dari beberapa bahan aromatik (lihat di film Story of Murderer). Kenapa tokoh dalam cerpen ini sangat mudah mengenali bau mantan kekasihnya? Karena ada proses transfer bakteri antar tubuh. Karena si tokoh perempuan sering bergumul dengan mantannya hingga ada proses tukar menukar bakteri. Sebenarnya ini fenomena yang biasa. Band Padi menceritakannya dalam sebuah lagu, begini lirik yang saya ingat “Coba tuk singkirkan aroma napas tubuhmu, mengalir mengisi laju darahku,”. Jadi jangan macam-macam dengan aroma atau bau apa pun itu karena akan membangkitkan kenangan, yang seringnya memang menyakitkan.

Detail yang Artie tulis selain bau adalah makanan atau minuman. Dalam cerpen Persekutuan Perempuan-Perempuan Lajang dan Perempuan yang Memilih Menjadi Api, Artie menyebut minuman bloody mary. Saya bertanya-tanya kenapa Artie memilih minuman ini daripada minuman beralkohol lainnya.

Sebenarnya tidak hanya kisah cinta lawan jenis yang diceritakan Artie dalam kumcernya. Kita bisa melihat kerinduan dan kehilangan anggota keluarga dalam cerpen Tarian Biyung dan Ayah Ditelan Lautan, Ibu Menelan Rembulan. Dalam Tarian Biyung terlihat kenelangsaan seorang istri yang ditinggal suami dan anak yang ditinggal bapaknya. Kehilangan memang membuat hidup terasa tidak ada artinya.

“Kematian Bapa adalah pusat dari segala kemuraman. Segala hal yang dulu menyenangkan bersamanya menjadi kenangan yang menumbuhkan bibit rindu dalam kepedihan,” (hal 24).

Dalam cerpen Ayah Ditelan Lautan, Ibu Menelan Rembulan, tokoh ibu begitu berdukanya hingga menjadi gila. Ia menyalahkan rembulan yang dianggap merenggut suaminya. Peran suami dan ayah dalam keluarga memang terasa dalam cerpen ini. Yang meninggalkan mungkin tidak merasa, tapi yang ditinggalkan akan terus dirundung duka.

Bentuk kehilangan lain yang digambarkan Artie ada di cerpen Surau. Di sini bukan kehilangan seseorang tapi kehilangan kenangan akan suatu tempat. Apa yang kita niatkan baik ternyata belum tentu akan diterima atau berakibat baik juga. Wak Haji di cerita ini digambarkan sangat kehilangan surau lamanya yang sudah dipugar. Kesepian tetaplah kesepian walau sudah dimodifikasi sedemikian rupa.

Tenang saja, untuk para lelaki, Artie tidak selalu membrengsekkan kalian dalam cerita-ceritanya. Kita juga disuguhi lelaki yang sakit menanggung rindu, tidak berdaya, berhati rapuh atau menjadi pendendam karena ditinggal atau disakiti perempuan. Kita bisa melihatnya di cerpen Kota yang Tenggelam dan Rindu yang Tak Pernah Usai, Seorang Gadis Pencerita, Makan Siang, dan Cinta yang Bodoh Harus Diakhiri. Cerpen Kota yang Tenggelam dan Rindu yang Tak Pernah Usai ini mengingatkan saya kepada seorang lelaki sepuh yang saya temui di sebuah tempat di Solo yang masih memegang teguh cintanya, ia tidak menikah sampai sekarang.

Ia terpisah dengan orang yang ia cintai pada waktu perang kemerdekaan. Surat-surat dari perempuannya masih ia simpan dengan rapi. “Tresnaku ora bisa diliya,” katanya cintanya tidak bisa berpaling. Saya hampir tidak percaya ada lelaki yang begitu setianya pada perempuan di dunia nyata kalau tidak bertemu dengan simbah itu. Jadi membaca cerita tokoh lelaki yang sangat merindukan Josephine, kekasihnya, saya sangat bisa merasakan itu. Seorang Gadis Pencerita menceritakan seorang laki-laki bernama Padri yang tidak berdaya karena tidak bisa mengungkapkan perasaannya pada Alana, gadis buta yang ia cintai karena ia sendiri bisu.

Di dalam cerpen Makan Siang, terlihat tokoh lelaki yang merasa hancur ditinggal istri dan akhirnya ditinggal anak lelakinya juga karena sama-sama dirundung duka. Bahkan si anak perempuan terlihat lebih tegar daripada para lelaki. Dalam cerpen Cinta yang Bodoh Harus Diakhiri digambarkan bahwa perempuan juga bisa menyakiti dan lelaki yang disakiti juga bisa balas dendam. Jadi sebenarnya siapapun bisa menyakiti, baik laki-laki ataupun perempuan. Semua bisa sedih, semua bisa menangis.

Paling tidak kita mendapat penghiburan di cerpen Peri-peri Berjatuhan dari Pohon Cemara. Tuhan mengirim pertolongannya bagi orang-orang yang terzalimi. Rasanya ingin sekali saya minta peri-peri itu mengangkut orang-orang yang dirundung nestapa di dalam cerita-cerita karangan Artie ini.

Kelebihan kumpulan cerpen Artie ini adalah sangat quotable. Mungkin banyak cerita yang bagus, tapi tidak selalu quotable. Saya sendiri termasuk susah menulis cerita yang quotable. Sebagai pembaca buku karangan Artie sebelumnya, saya lebih bisa menikmati kumcernya daripada novelnya. Artie lebih terlihat matang di buku terbarunya. Ia detail dalam cerita.

Mungkin kekurangannya, cerpen Artie masih mudah ditebak akhirnya. Sampulnya terlalu bahagia untuk cerita yang suram. Haha. Bisa saya katakan cerita-cerita yang ada di kumcer ini bukan jenis cerita yang bahagia, tapi aman dibaca untuk kalian yang sedang dirundung lara. Walau cerita muram, tapi sungguh berwarna, tidak sampai membuat kalian ingin bunuh diri. Percayalah.

Mendungan, 01 Februari 2019

Catatan:

Ulasan ini ditulis untuk acara bedah buku Cinta yang Bodoh Harus Diakhiri yang diadakan di Warung Mojok, Februari 2019. Buku tersebut sudah berganti sampul dan Artie Ahmad sudah menerbitkan novel lagi di tahun 2020 berjudul Manusia-Manusia Teluk.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Artikel Terbaru

Suara Gugatan Warga Desa Wadas kepada Gubernur Jawa Tengah yang Menerbitkan Ijin Baru untuk Pertambangan

“Bersama-sama kita jaga Desa Wadas tercinta, tuk kelangsungan hidup sampai anak cucu kita, bahkan sampai akhir dunia” – Mars GEMPADEWA...

More Articles Like This