Tambang Emas di Trenggalek Tak Punya Masa Depan

Menurut Bupati Trenggalek tambang emas di Trenggalek tak punya masa depan.

Belakangan, melalui saluran Youtube, saya suka mengamati bagaimana hewan-hewan seperti kanguru, harimau, juga panda, dilahirkan dan diasuh oleh induknya. Mungkin awalnya sentimentil karena terbawa perasaan saat istri melahirkan. Dari mengamati kelahiran bayi manusia, beralih mengamati proses kelahiran binatang. Saluran-saluran Youtube menyediakan itu semua: dari proses kelahiran hewan melata, berbagai jenis burung, hingga binatang buas.

Dalam ingatan masa kecil saya, pada musim tanam petak-petak sawah di desa, selain terisi air, segera akan digenangi telur-telur katak yang menjulur ke segala arah. Rangkaian telur itu sekilas mirip jalinan biji gotri dalam lubung sedotan. Beberapa hari kemudian, telur-telur itu tumbuh menjadi kecebong yang bergerak lincah ke sana kemari. Mula-mula dengan menampakkan ekornya yang menjuntai pipih. Dan dalam beberapa hari selanjutnya, muncul kaki-kaki mungil di antara ekor tersebut.

Dulu sawah-sawah di timur rumah dipenuhi kul (nama lokal bagi keong sawah bercangkang hitam). Dan sekarang sudah tak lagi bisa saya temui wujudnya di petak-petak persawahan. Sawah-sawah itu kini didominasi oleh kul/keong bercangkang kuning—yang zaman dulu diternak orang, dan saking banyaknya sekarang menjadi hama. Sungai-sungai juga dipenuhi segala jenis ikan, kini ikan-ikan di sungai tak seberagam waktu itu.

Pergilah ke sekitar. Cermatilah kondisi alam. Ia menyediakan pemandangan untuk kita renungkan. Ada yang menyenangkan, tak sedikit pula yang tidak mengenakkan. Yang kurang menyenangkan itu seperti meranggasnya daun-daun oleh cerobong asap pabrik. Juga ikan-ikan yang mati membusuk di sungai, sebab keracunan limbah-limbah industri di kotamu.

Alam memang terus berubah, baik dari penampakan global yang bisa kita saksikan dan baca di layar televisi, portal berita, dan koran pagi, maupun dari penampakan lokal yang bisa kita amati dan rasakan saat di sawah dan sungai sekitar rumah. Ini bisa dibaca bahwa hubungan manusia dengan lingkungan menunjukkan perubahan, yang sebagian malah mengarah ke pola kesenjangan. Bagaimanapun aktivitas manusia di zaman kita telah ikut mengubah keanekaragaman komposisi alam, mungkin sebagian malah menyumbangkan kerusakan.

Diakui atau tidak, manusia punya pengaruh dominan terhadap perubahan alam. Dan, aktivitas destruktif manusia terhadap alam, disadari atau tidak, juga ikut memberi pengaruh menurunnya keanekaragaman hayati. Padahal alam sekitar telah berjasa besar bagi keberlangsungan hidup manusia. Jasa alam ini tak mampu manusia kalkulasi. Modal air bersih misalnya, banyak disumbang dari bagaimana cara manusia mengelola dan menjaga alam: seperti tidak menebangi pohon besar di hutan, tidak menyedot air tanah dengan rakus, juga tidak membuang limbah dan sampah sembarangan ke selokan, ke sungai dan pinggir laut.

Pengrusakan alam sering menyebabkan bencana yang kadang kita tak mengerti skenario globalnya. Tahu-tahu begitu saja tiba-tiba terjadi bencana banjir. Skenario tersebut barangkali prosesnya mirip ungkapan dalam teori efek kupu-kupu: “Kepak sayap kupu-kupu di hutan belantara Brazil mengakibatkan badai tornado di daratan Texas beberapa hari kemudian”.

Kalimat tersebut mengandung pelajaran sebab-akibat yang patut direnungkan. Tindakan kecil kita terhadap alam, sadar atau tanpa kita sadari, bisa menyebabkan perubahan kondisi alam di lokasi lain. Apalagi tindakan destruktif, seperti membuang sampah sembarangan, penggundulan hutan, hingga aktivitas ekstraktif pertambangan. Barangkali teori kupu-kupu dalam pikiran kita random belaka. Tetapi ketika semua telah terjadi, biasanya kita baru mau mengakui atau terlambat menyadarinya.

***

Dalam situasi pandemi Covid-19 yang meneror dan telah membunuhi banyak orang, makna kebahagiaan bagi orang di desa, menurut tafsiran saya, barangkali bisa berwujud saat masyarakat bisa leluasa kembali bekerja dan cari makan di pasar, di sawah dan di ladang. Atau ketika semua orang telah mendapatkan vaksin secara gratis dan merata. Tapi arti kebahagiaan bagi tuan borjuis (para oligark dan korporat pengusaha tambang) berbeda.

Bagi orang-orang di lingkungan akar rumput di desa, arti kebahagiaan terkadang bukan perihal mendapatkan limpahan materi, melainkan ketika dijauhkan dari marabahaya seperti bencana dan sesuatu yang menyengsarakan lainnya. Ide ini saya ambil dari renungan George Orwell terhadap arti kebahagiaan bagi kelas sosial proletar (masyarakat sipil/akar rumput) dan kelas borjuis (para oligark dan korporat) dalam esai “Can Socialists Be Happy?

Dalam konteks rencana tambang emas di Trenggalek, arti kebahagiaan bagi para petani-peladang di wilayah Kampak dan Watulimo misalnya, bisa berupa dicabutnya izin tambang emas yang akan berdampak ke lokasi pertanian, ke air bersih dan ancaman bencana longsor dan banjir ke permukiman.

Bagaimana tidak, dalam aktivitas tambang, kita tahu, yang pertama-tama akan dilakukan adalah membuka atau mengupas tanah (pit), lalu dilakukan peledakan. Dari sana bentang alam dirombak, pohon-pohon ditebangi, dan sudah pasti tata air lokal akan ikut rusak. Pada tahap ini saja, aktivitas ekstraktif bisa menyebabkan terganggunya tata air setempat, risiko pergerakan tanah, lalu bencana longsor dan banjir. Padahal dalam perjalanannya nanti, tambang emas dikenal sebagai industri paling rakus terhadap air: untuk memroses pengolahan batuan menjadi bijih logam. Tambang itu butuh air dalam skala gigantik, lalu dari mana air bisa didapat? Sudah relakah masyarakat sumber mata airnya dikuras?

Apalagi wilayah pertambangan di Trenggalek mayoritas berlokasi di hutan, yang bisa mengancam kawasan karst, juga menghilangnya keanekaragaman hayati (hewan dan tumbuhan) di wilayah hutan, yang bisa jadi penting untuk manusia dan pertaniannya. Belum ancaman bahaya lingkungan di masa depan dari limbah tailing yang mengeluarkan sianida dan merkuri: yang bisa merembes ke sumber dan sungai, meracuni airnya dan membunuhi ikan-ikan di sana.

Semua kerugian ini tidak bisa disejajarkan dengan kesenangan sekejap misalnya dengan menerima upah kerja kasar antara Rp 150-300 ribu per hari di lokasi pertambangan, dalam jangka waktu yang terbatas. Tapi bekas dan residu tambang akan meninggalkan jejak kerusakan terhadap alam untuk selamanya. Efek tambang bisa menjadi mata rantai segala bencana di masa depan: perubahan tanah, muka geografi dan lanskap ekologi hutan secara umum. Juga bisa menyebabkan peri sosial-ekonomi masyarakat pecah. Sementara generasi masa depan kehilangan orientasi terhadap tanah kelahiran.

Bagaimanapun juga dalam agama, menolak bahaya lebih diutamakan ketimbang menerima manfaat. Ingat, uang bisa habis, tapi kerusakan lingkungan sulit diperbaiki. Dalam sebuah kaidah ushul fiqih disebutkan ”dar’ul mafasidi muqoddamun ‘ala jalbil mashalihi”. Bahwa menolak atau menghindari bahaya (mafsadah) lebih utama ketimbang menerima kebaikan/kemaslahatan. Bahwa menolak bahaya tambang yang mengerikan, seperti yang sedikit telah disebut di muka lebih diutamakan, daripada menerima kebaikan berupa lapangan pekerjaan di tempat tambang.

Lagi pula, menurut Bupati Trenggalek, M. Nur Arifin (dalam wawancara acara “Fakta” di Tv One, Senin 22 Maret 2021), tambang emas di Trenggalek ini tak punya masa depan. Masa depan daerah Trenggalek adalah pertanian dan semua sektor agraris. Sesuai dengan kondisi masyarakatnya sendiri yang mayoritas berkultur agraris.

Kelahiran Munjungan, Trenggalek. Menulis buku Turonggo Yakso Berjuang Untuk Eksistensi (Yogyakarta: Syafni Press, 2013) dan menyunting buku Rengkek-Rengkek: Senarai Catatan dan Kisah (Per)jalan(an) di Kota Trenggalek (Trenggalek: Tuhālas Biblioteca, 2015).
Exit mobile version