28.2 C
Trenggalek
Senin, September 27, 2021
BerandaCERPENUntung Diam, Rugi Bilang-Bilang

Untung Diam, Rugi Bilang-Bilang

“Kamu sudah tahu kabar tentang Kang No, belum?”

“Emang kabar apa…?”

“Kang No, katanya, rugi miliaran. Usahanya sedang bangkrut dan kekasihnya masuk rumah sakit.”

“Oh, itu…”

Belum sempat aku menanggapai ucapan Sukir, Kuri menimpali.

“Namanya juga pengusaha. Pasti kayak air laut. Terkadang pasang dan terkadang surut.”

“Hmm… Hmm… Hmm…” jawab aku dan sukir bersamaan.

Kang No merupakan pengusaha muda di kampung kami—Kampung Sukaakur. Walaupun bukan warga asli Kampung Sukaakur, Kang No sudah sekitar 10 tahunan tinggal di sini. Sebab, kekasihnya adalah putri pak lurah kampung kami. Andaikata kampung kami adalah negara, maka Kang No adalah presiden 2 periode kami dan mertuanya adalah donaturnya.

Warga kampung lain mengira bahwa Kang No sangat dermawan; murah senyum; dan sangat sopan, tapi kami tidak pernah merasakan apa yang warga kampung lain sebutkan tentangnya. Dari 365 hari dalam setahun, kehadiran batang hidung Kang No bisa dihitung oleh jari tangan dalam kegiatan warga Kampung Sukaakur. Baik tahlilan, kendurian ataupun kerja bakti. Di kampung kami, tak ada warga yang seperti Kang No dalam hal materi.

“Kamu kata siapa, Kir. Kalau dia rugi miliaran?” tanyaku pada Sukir yang memiliki rambut seperti selebriti.

“Katanya sendiri lah. Tadi pagi aku ke rumahnya ingin meminta sumbangan dana untuk pembangunan pos jaga di pertigaan depan rumah Kaji Pardi. Bukannya dikasih sumbangan dana, malah dikasih sumbangan cerita” jawab Sukir dengan wajah kesal yang tak tulus.

“Memangnya bagaimana ceritanya Kang No bisa rugi sampai miliaran” selidik Kuri pada Sukir.

“Katanya dia ditipu oleh temannya. Temannya datang ke rumah tahun lalu dengan menawarkan proyek yang potensi untungnya sampai miliaran. Setelah mencermati proyek temannya tersebut, dia tergoda dengan penawaran temannya. Akhirnya dia menggelontorkan uang sekitar 2,5M.” jawab Sukir dengan nada berapi-api, meskipun rokoknya belum dinyalakan.

Uang selalu saja jadi penggoda, apalagi dengan jumlah yang banyak. Perihal uang, kawan-lawan bukan hal yang penting selama bisa mendatangkan uang yang banyak. Untung saja kampung kami namanya Kampung Sukaakur bukan Kampung Sukauang, sehinga di kampung kami perihal uang bukanlah perihal penting. Bahasa kerennya, perihal uang, kampung kami melaksanakan program kolektif kolegia.

Teman terkadang adalah bajingan yang menyamar, tapi terkadang juga malaikat yang menyamar. Betapa banyak orang yang menganggap teman layaknya keimanan dan betapa banyak yang menganggap teman layaknya bakso di pinggir jalan. Kampung kami adalah salah satu kampung yang menganggap teman layaknya keimanan. Baik itu warga asli atau pendatang, tapi syarat dan ketentuan berlaku untuk warga pendatang.

“Lalu istrinya sakit apa emang?” tanyaku.

“Katanya kanker payudara. Sudah …”

Belum tuntas Sukir menjelaskan tentang istri Kang No, Kuri menyela seraya mengambil rokok dari bungkusnya. Kuri sudah menjadi salah satu donatur tetap untuk negaranya sejak di bangku SMA sampai sekarang—istri satu dan anak satu—dan barangkali, sampai Kuri menutup kisahnya.

“Halah…Kalau rugi aja baru bilang-bilang, waktu untung hanya diam. Kayak BUMN saja!”

M. Alfiyan
Mahasiswa UIN Maliki Malang, Jurusan Sastra Inggris, kelahiran Semarang. Ia anggota perpustakaan jalanan, Sanggar Baca Bawah Tanah (SABBATH). Tetap giat melaksanakan ibadah ngopi walaupun pandemi.
ARTIKEL TERKAIT

Ramai dibicarakan

Artikel Terbaru