Home Esai Munjungan (Sedang Tidak) Baik-Baik Saja

Munjungan (Sedang Tidak) Baik-Baik Saja

0

Sekitar 3 mingguan yang telah lewat, tepatnya di awal-awal bulan Agustus 2021, saya terkena sakit. Sekitar 10 hari lebih. Tiga hari pertama disertai demam dan linu-linu di beberapa bagian tubuh. Empat hari terakhir ada sakit tenggorokannya, yang kalau digunakan untuk menelan ludah rasanya seperti menelan mata kail—istilah saya untuk menamai ungkapan Jawa lokal pancingen.

Tiga hari di awal badan terasa lungkrah, sendi-sendi serasa mau copot, kemudian suhu tubuh naik. Ketika terasa mau sakit, sejak hari pertama, saya memang sudah bersiap menelan beberapa pil, seperti paracetamol, untuk menurunkan panas.

Sudah cukup lama saya tidak merasakan demam. Barangkali kemarin saya sedang tidak fit dan di rumah, bapak saya sedang sakit. Waktu itu saya sedang berada di Munjungan. Bisa jadi saya ketularan bapak, yang memang terkena demam paling awal.

Di rumah, bapak adalah orang yang mobilitasnya paling tinggi. Bapak paling sering keluar rumah, lagi paling susah diimbau melakukan protokol. Seperti sering cuci tangan kalau dari luar rumah atau menggunakan masker kalau hendak berkerumun dengan banyak orang seperti dalam acara undangan yasinan, tahlilan dan seterusnya.

Setengah bulan lalu, banyak tetangga dan keluarga di desa, terkena semacam penyakit yang gejalanya satu sama lain mirip: ada demam, flu, batuk, nyeri di persendian, hilang nafsu makan, hingga mual dan sebagian juga mengalami anosmia (kehilangan indera penciuman). Ada yang sudah sembuh, ada juga yang sampai sekarang, meski sudah tidak seberat di awal, masih merasakan sakit.

Saya sendiri pada mulanya merasakan badan lungkrah sehari kemudian muncul linu-linu di tulang, baru kemudian demam datang melanda. Agak sedikit flu dan sedikit sesak napas. Meski minus anosmia. Tapi di lidah pahit. Sakit yang mirip itu lantas mengenai seluruh keluarga, termasuk istri. Ada sekitar 10 harian lebih dari sejak saya sakit hingga betul-betul hilang semua sakitnya. Apakah saya, beberapa anggota keluarga dan para tetangga itu terkena Covid? Saya tidak tahu, karena untuk mengetahuinya perlu swab. Tapi kata seorang teman, itu gejala umum yang melanda desa-desa dengan gejala mirip Covid, tapi mungkin bukan Covid. Semoga saja iya.

Ada banyak sekali informasi di Munjungan ihwal setelah melakukan atau ikut acara kumpul-kumpul, beberapa orang tiba-tiba mengalami, bahasa orang Munjungan—sebagaimana ayam—nderek (bunyi kedua huruf e sama dengan kata pada dengkul). Biasanya kata ini, digunakan pada kawanan ayam yang tiba-tiba sakit. Lantas ayam tersebut bersiap disembelih, agar tidak kedahuluan mati.

Di desa-desa beberapa bulan terakhir memang Covid-19 tengah membandang. Buktinya adalah banyaknya jumlah kematian yang tak biasa. Bahkan setiap hari dari toa masjid seperti selalu terdengar suara yang memberi kabar orang meninggal. Saya kerap mendengar kabar lelayu dari toa masjid tersebut, baik saat di Malang maupun ketika di Trenggalek. Dan itu juga dialami banyak teman di media sosial. Dari fenomena tersebut, jelas bahwa angka kematian yang melaju tinggi itu nyata dan bukan fiksi.

Menurut sebuah laporan koran Kompas 4 Agustus 2021, berjudul “Ketika Tsunami Covid-19 Masuk Desa”, selama Juli 2021, kematian di sejumlah desa di Pulau Jawa memang melonjak hingga 10 kali lipat dari rata-rata per bulan. Baik di Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY maupun Jawa Timur. Ada yang selama sebulan satu desa meninggal hingga 50 orang, dan dari jumlah tersebut hanya 5 orang yang dimakamkan menggunakan protokol Covid-19. Di sebuah desa di Yogyakarta, bahkan dalam sebulan, pada bulan Juli 2021, terdapat 98 kematian. Padahal biasanya, saat tidak di masa pandemi, dalam sebulan paling banter 10 orang meninggal.

Kata para tetangga di Munjungan, sakit begitu biar cepat pulih harus diatasi dengan banyak makan. Kalau tidak makan banyak, sembuhnya lama. Padahal, umumnya kalau sedang sakit nafsu makan justru turun. Tapi kemarin saya mempraktikkan apa kata tetangga dengan makan banyak.

Ikan bakar dan sambel plelek – Foto Misbahus Surur

Mumpung di Munjungan dan ikan laut lebih mudah didapat, tiap pagi saya membuat sarapan dengan lauk ikan bakar sambal plelek. Terbukti, nafsu makan meningkat dipicu oleh: makan ikan bakar sambal plelek pedas. Makan dengan lauk begitu dalam kondisi sakit, rasanya menu lainnya lewat. Apalagi kalau makannya berjamaah dengan kondisi sehat.

Ikan bakar dan sambel plelek – Foto Misbahus Surur

Begitulah pengalaman sakit aneh serentak di sepanjang Juli-Agustus tahun ini. Semoga Covid 19 di desa-desa makin melandai. Dan masyarakat desa segera terbebas dari pandemi. Terutama, supaya aktivitas ekonomi di desa-desa dapat bergeliat kembali.

NO COMMENTS

Exit mobile version