24.7 C
Trenggalek
Senin, Desember 6, 2021
BerandaEsaiMendidik lewat Permainan Tradisi

Mendidik lewat Permainan Tradisi

Semua guru sangat paham bahwa kata mendidik mengandung dua arti, yaitu ’mengajar’ dan ’mendidik’. Mengajar adalah kegiatan menyampaikan ilmu kepada siswa, misalnya ilmu kimia, biologi, akuntansi, dan lain-lain. Mendidik berarti menanamkan nilai-nilai kepada siswa seperti kejujuran, keberanian, sopan santun, kerja keras, dan lain-lain.

J. Drost, pakar pendidikan tersohor, mengatakan bahwa kegiatan di Sekolah Taman Kanak-Kanak, semuanya pendidikan. Pengajaran baru diberikan di Sekolah Dasar, yaitu anak-anak diajari membaca dan berhitung. Makin tinggi kelasnya, makin banyak pengajaran yang diberikan. Di SMP, pengajaran diberikan lebih banyak lagi dan pendidikan secara bertahap dikurangi, diserahkan kepada orangtua. Di SMA kadar pengajaran mendekati seratus persen. Hal itu berarti bahwa pendidikan siswa SMA hampir semuanya menjadi kewajiban dan tanggung jawab orangtua siswa.

Jika kita sepakat dengan J. Drost, berarti masa anak-anak adalah masa yang paling tepat untuk menyampaikan pendidikan. Salah satu cara menyampaikan pendidikan kepada anak-anak itu melalui permainan tradisi. Benarkah permainan tradisi banyak mengandung unsur pendidikan? Dengan pertanyaan lain, dapatkah mendidik lewat permainan tradisi? Tulisan singkat tentang beberapa permainan tradisi berikut mencoba menjawabnya.

Egrang

Egrang/Foto: wikimedia

Permainan egrang biasanya dilakukan oleh anak laki-laki, karena memerlukan keberanian dan keterampilan khusus. Pemainnya harus berlatih berulang-ulang dalam waktu yang cukup lama agar dapat berdiri dan berjalan dengan dua batang bambu. Pemain yang sudah mahir dapat berlari atau menggunakan egrang berukuran tinggi.

Bambu yang digunakan biasanya bambu kering berukuran sedang atau agak kecil agar tidak terlalu berat. Tingginya dua meter atau lebih. Tumpuan tempat berdiri dibuat 50 cm dari atas tanah atau sesuai kebutuhan. Dengan kata lain, egrang untuk pemain pemula tumpuannya bisa dibuat rendah, dan untuk yang sudah terampil bisa dibuat lebih tinggi.

Cara belajar berjalan dengan egrang pun bermacam-macam. Ada yang belajar sendiri dengan risiko sering jatuh, ada yang dipegangi orang lain supaya tidak jatuh. Nah, jika sudah bisa, pemakainya bisa berlomba adu cepat dengan pemain lain.

Unsur pendidikannya: (1) menumbuhkan keberanian (berjalan dengan titian), (2) berani mengambil risiko (jatuh terpelanting), (3) meningkatkan kreativitas (membuat egrang), (4) mau berkompetisi (adu cepat).

Gasing

Gasing/Foto: Pariwisata Indonesia

Gasing terbuat dari kayu, biasanya sebesar lengan, berbentuk silinder mirip tabung. Bagian atas diruncingkan, diberi kepala untuk menyangkutkan tali. Bagian bawah juga diruncingkan sebagai tumpuan berputar. Ada gasing yang bagian bawahnya sengaja diberi potongan paku untuk melukai gasing lawan jika diadu. Biasanya, bahan gasing dipilih dari kayu yang cukup berat seperti pohon asam, petai cina, atau jati. Lebih bagus jika kayu itu diambil terasnya agar lebih berat dan lebih kuat.

Cara memainkan gasing yang biasanya dilakukan oleh anak laki-laki itu amat unik, yaitu tali dililitkan di bagian atas, kemudian gasing dilemparkan sambil menarik tali. Dengan tali yang masih terpegang, gasing berputar dan berdiri beberapa waktu di tanah (halaman). Makin kuat melempar dan menarik tali, makin lama pula gasing berputar dan berdiri.

Cara mengadu gasing ada dua macam. Pertama, diadu kemampuannya berputar dan berdiri. Dua atau lebih gasing dilemparkan bersama-sama. Gasing yang paling akhir berdiri dan berputar dinyatakan sebagai pemenang, karena gasing itulah yang berdiri dan berputar paling lama.

Kedua, gasing diadu satu dengan yang lain. Pemain yang kalah dalam undian harus “menghidupkan” gasingnya agar berdiri dan berputar di tanah. Kemudian, pihak yang menang melemparkan gasingnya ke arah gasing yang berputar itu. Jika lemparannya tidak kena, atau kena tetapi gasing yang dilempar masih “hidup” lebih lama daripada gasing pelempar, pihak pelempar menjadi pihak yang kalah dalam permainan berikutnya. Permainan gasing ini akan lebih seru jika dilakukan berkelompok.

Unsur pendidikannya: (1) meningkatkan kreativitas (membuat berbagai bentuk gasing), (2) menumbuhkan sportivitas (mengakui kekalahan), (3) ikhlas melayani orang lain (yang menang).

Kelereng

Kelereng/Foto: Pixabay

Cara bermain kelereng amat sederhana, yaitu hanya dengan menjentikkan kelereng dengan jari agar mengenai kelereng lawan. Pemainnya dua sampai lima orang. Ada pula yang dimainkan lebih dari lima orang, tetapi paling banyak sepuluh orang. Mengapa? Jika pemainnya terlalu banyak, “hukuman” bagi yang kalah terlalu berat.

Cara bermainnya sebagai berikut. Pertama, pemain harus membuat sebuah lubang kecil di tanah. Lubang itu dipakai sebagai pusat permainan. Kedua, para pemain melemparkan kelereng ke arah lubang dari jarak tertentu, misalnya  enam meter. Pemain yang kelerengnya langsung masuk lubang, mendapat skor sembilan dan mendapat giliran pertama menjentikkan kelerengnya ke kelereng lain untuk memperoleh skor sepuluh. Tetapi, jika tidak ada kelereng yang masuk lubang, giliran secara berturut dari pemain yang kelerengnya paling dekat dari lubang.

Skor pertama harus diperoleh dengan memasukkan kelereng ke lubang. Skor berikutnya bebas, boleh ke lubang atau menjetikkan kelerengnya ke kelereng musuh. Sekali masuk lubang, atau sekali menyentuh kelereng musuh, mendapat skor satu. Jika seorang pemain gagal memasukkan kelerengnya ke lubang atau tidak berhasil menyentuhkan kelerengnya ke kelereng lawan, dia “mati” dan digantikan pemain lawan. Seorang pemain dinyatakan menang jika sudah memperoleh skor sepuluh. Jadi, untuk memperoleh kemenangan, seorang pemain harus berusaha lebih dahulu memperoleh skor sepuluh. Pemain yang tidak berhasil mendapatkan skor sepuluh (satu orang terakhir) dinyatakan kalah.

Pemain yang kalah, biasanya dihukum oleh pemain yang menang. Hukumannya berupa “siksaan” yaitu telapak tangannya diletakkan di bibir lubang dengan bagian punggung di atas. Pemain yang menang secara bergilir menjatuhkan semua kelereng yang digunakan bermain, satu persatu, biasanya dari ketinggian kepala yang menghukum, ke arah bagian belakang telapak tangan pemain yang kalah. Tentu saja yang ”dihukum” meringis kesakitan. Jika kelereng yang dijatuhkan itu masuk lubang, maka kelereng yang belum dijatuhkan dikurangi sejumlah kelereng yang masuk lubang. Dengan demikian, “hukuman” yang istilahnya digender itu dikurangi sebanyak kelereng yang masuk lubang.

Yang dihukum hanya pemain yang tidak dapat memperoleh skor sepuluh. Kalau misalnya pemainnya lima orang, yang kalah akan dihukum dengan dijatuhi kelereng 20 kali (5 kelereng X 4 pemain). Memang agak sakit. Tapi, permainan ini amat mengasyikkan.

Unsur pendidikannya: (1) mengembangkan kemampuan melakukan strategi (upaya agar menang), (2) berani mengambil keputusan (menjentikkan kelereng ke arah mana), (3) berani menanggung resiko, yaitu ”disiksa” dengan dijatuhi kelereng.

Demikian bukti nyata bahwa permainan tradisi selain kaya pesona, juga kaya unsur pendidikan yang dapat digunakan untuk membentuk manusia yang berwatak. Oleh karena itu, seyogyanya anak-anak diarahkan dan diberi peluang bersosialisasi dengan cara melakukan permainan tradisi yang disukainya.

Asul Wiyanto
Lahir di Tulungagung tahun 1975. Hobi berpidato dan menulis. Tidak kurang dari 50 judul buku pernah ditulisnya. Setelah pensiun dari SMA Taruna Nusantara, Magelang, kini ia tinggal di Desa Malasan, Durenan, Trenggalek.
Exit mobile version