OpiniTidak Ada Kehidupan di Planet yang Mati

Tidak Ada Kehidupan di Planet yang Mati

Masalah lingkungan memang masalah yang sangat kompleks. Kalau kata orang, masalah yang ruwet untuk diselesaikan. Namun apakah kita hanya berdiam diri melihat kekacauan ini?

Ini planet Bumi, tempat kita hidup sampai mati. Tapi pernahkah kita berpikir bahwa kita-lah yang membuat planet ini mati?

Kita tahu, kondisi bumi kita sedang tidak baik-baik aja. Bahkan sudah berada di ambang kehancuran. Mungkin ketika kita masih kecil dulu, kita masih sering membayangkan di saat ini kita masih bisa bermain layangan di sawah, memancing bersama teman-teman, mandi di sungai, pergi ke pantai dengan keluarga, bersepeda ketika berangkat kerja sambil menikmati pemandangan yang hijau.

Nyatanya, itu semua hanyalah khayalan. Yang kita lihat sekarang hanyalah sampah menumpuk di pojokan jalan, asap kendaraan bermotor dengan suara bisingnya, sungai yang sudah tidak lagi berwarna jernih namun seperti susu coklat, hamparan sawah yang hilang digantikan dengan bangunan pabrik yang kokoh.

Jika bicara tentang Sains, ini semua ada kaitannya. Perubahan iklim dimulai sejak adanya revolusi industri dengan ditemukannya mesin uap. Di situlah mulainya kejayaan teknologi dan industri. Planet yang dulunya hanya rindang dengan pepohonan kini sudah tidak lagi.

Poster dalam aksi global climate strike 2022 di Surabaya
Poster dalam aksi global climate strike 2022 di Surabaya/Foto: Dokumen XR Surabaya

Bukankah adanya kemajuan teknologi itu bagus? Tapi mengapa bumi kita malah hancur dengan adanya kemajuan teknologi?

Bumi menyediakan segalanya untuk manusianya. Sebelum revolusi industri, jumlah manusia dan kegiatan yang dilakukannya di sektor apa pun masih relatif sedikit. Alam mampu memenuhi semua kebutuhannya. Namun, saat ini, alam sudah mengalami ketegangan dan krisis untuk memenuhi semua kebutuhan manusia.

Satu hal yang pasti, kita, manusia bukan memanfaatkan apa yang diberikan alam kepada kita dengan semaksimal mungkin tapi justru mengeksploitasinya. Memakainya secara berlebihan hingga sudah tidak ada lagi yang tersisa di alam ini.

Lantas, apakah semua bisa diperbaiki, apakah bumi dapat dikembalikan seperti semula?

Itu terlalu terlambat untuk melakukannya.

Masalah lingkungan memang masalah yang sangat kompleks. Kalau kata orang, masalah yang ruwet untuk diselesaikan. Namun apakah kita hanya berdiam diri melihat kekacauan ini?

Linggar Budi Nuansa, di tengah jalan bentangkan poster dalam aksi global climate strike 2022 Surabaya
Linggar Budi Nuansa, di tengah jalan bentangkan poster dalam aksi global climate strike 2022 Surabaya/Foto: Dokumen XR Surabaya

Saya pernah mendengar kalimat yang begitu mengerikan. “Manusia sudah berada di ambang kepunahan massal keenam”. Begitu mendengarnya, yang ada di kehidupan saya hanya kecemasan akan apa yang terjadi di masa depan.

Apakah saya bisa menikmati keindahan bumi ini dengan anak cucu saya?

Rasanya tidak mungkin jika saya melihat kondisi bumi saya saat ini.

Perubahan iklim nyata adanya. Bumi ini sudah dipenuhi emisi karbon beracun hasil pembuangan asap pabrik, pertambangan, asap kendaraan, tumpukan sampah yang menggunung. Emisi ini memicu kenaikan suhu yang sangat ekstrem.

Saat ini upaya dunia dalam mengatasi krisis iklim masih berada jauh dari target yang ditetapkan oleh Perjanjian Paris, yakni untuk menahan laju kenaikan suhu rata-rata dunia di bawah 1,5°C. Dilansir The Conversation, kebijakan-kebijakan dunia saat ini justru masih berisiko memanaskan bumi sekitar 2,2 – 3.5℃ dalam waktu 80 tahun. Laporan BMKG Indonesia juga menyebutkan, saat ini suhu kota Jakarta sudah meningkat 1,5°C, padahal seharusnya kenaikan suhu sebesar itu terjadi di tahun 2030.

Lantas apa dampak dari semua itu? Bukankah kita setiap hari melihat berita adanya bencana banjir tanah longsor, angin puting beliung, kekeringan, kebakaran hutan, gagal panen, keracunan, gelombang panas mengerikan.

Jika kita harus menentukan siapa yang salah. Jawabannya hanya satu, manusia. Manusia memang diciptakan dengan sifat serakah, tidak pernah berpuas diri dengan apa yang sudah diterimanya.

Aksi bentangan poster saat pawai budaya HUT Surabaya, 28 Mei 2022
Aksi bentangan poster saat pawai budaya HUT Surabaya, 28 Mei 2022/Foto: Dokumen XR Surabaya

Karena itu saya menilai diri saya sendiri sebagai hipokrit (munafik). Bagaimana tidak? Saya aktif dalam mengampanyekan krisis iklim di mana-mana. Saya aktif dalam ikut aksi jalanan dengan membawa banner bertuliskan “Deklarasikan Krisis Iklim”.

Namun, usaha saya masih tidak cukup untuk menyelamatkan bumi ini. Bumi butuh massa yang banyak untuk memulihkannya. Perubahan besar bukan hanya perubahan individual yang hanya segelintir manusia.

Perubahan yang setidaknya dilakukan 3,5% dari populasi setempat. Itu semua diperlukan kerjasama antar-berbagai pihak, masyarakat, pemerintah, akademisi, peneliti, siapa pun itu.

Sudah seharusnya para pemangku kepentingan, para pembuat kebijakan berpikir untuk membuat kebijakan yang melindungi lingkungan bukan hanya semata-mata meningkatkan perekonomian demi nafsu para korporat. Sudah seharusnya masyarakat, kita semua belajar kembali, refleksi diri kembali, apakah selama ini kita hidup sudah bermanfaat bagi makhluk hidup lainnya?

Generasi saat ini hanyalah meminjam bumi untuk generasi yang akan datang. Bukankah jika kita hanya meminjam, kita harus merawat apa yang dipinjamkan kepada kita? Generasi saat ini lah penentu bumi di masa depan.

Linggar Budi Nuansa
Linggar Budi Nuansa
Perempuan asli Trenggalek. Pluviophile, kpopers, sedang belajar hidup minimalis.
ARTIKEL TERKAIT

Ramai dibicarakan

Artikel Terbaru