29.1 C
Trenggalek
Jumat, Agustus 12, 2022
FeatureMenelusuri Sumber Mata Air di Desa Ngadimulyo

Menelusuri Sumber Mata Air di Desa Ngadimulyo

Masyarakat Trenggalek tidak butuh tambang emas yang membuat hidup semakin sengsara. Tapi, masyarakat butuh sumber air yang menghidupi kehidupan selama-lamanya.

Pukul 10.00 WIB, Sabtu 18 Juni 2022. Saya menelusuri sumber mata air di Desa Ngadimulyo, Kecamatan Kampak, Kabupaten Trenggalek. Desa ini merupakan salah satu desa yang masuk ke dalam konsesi tambang emas PT Sumber Mineral Nusantara (SMN).

Salah satu kekhawatiran warga dengan keberadaan tambang adalah hilangnya sumber mata air yang mereka gunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Dengan mengendarai motor, saya memulai penelusuran sumber air di Dusun Suwaru. Di sana, terlihat aliran sumber air di dekat Pasar Suwaru. Saya naik ke atas tebing untuk mencari sumber airnya. Setelah sampai di atas, saya bertemu warga yang bermukim di sana. Namanya Painah, seorang ibu, yang berbaik hati untuk menunjukkan lokasi sumber air.

Lokasi sumber air tak jauh dari rumahnya. Nama sumber air itu adalah Karangrejo (mirip nama desa di Kecamatan Kampak, yang juga masuk konsesi tambang emas). Painah mengatakan kalau warga menggunakan sumber air untuk kebutuhan sehari-hari.

“Setiap hari sumber air ini juga ‘dibersihi’ [dirawat],” ujar Painah.

Suara gemercik airnya begitu menenangkan pikiran. Air yang mengalir ditampung oleh dua drum. Ada sanyo tradisional (bentuknya mirip kotak pos) yang digunakan untuk membantu pengaliran air. Ada beberapa selang dan pipa yang mengalirkan air dari drum itu.

Lokasi Sumber Air Karangrejo, di Dusun Suwaru, Desa Ngadimulyo, Kecamatan Kampak Trenggalek
Lokasi Sumber Air Karangrejo, di Dusun Suwaru, Desa Ngadimulyo, Kecamatan Kampak Trenggalek/Foto: Wahyu AO

“Selain sumber air ini, setiap hari kami menggunakan air dari sungai yang besar, namanya Kali Soo [Sungai Soo],” jelas Painah.

Usai mendatangi lokasi Sumber Air Karangrejo, kami kembali ke rumah Painah. Di rumah itu, saya bertemu Kodi, kakek yang setiap hari merawat Sumber Air Karangrejo. Ada juga Sarmo, suami Painah. Suara lantunan tayub dari alat pengeras suara mengiringi obrolan kami.

Selain menanyakan lokasi lain dari sumber air di Desa Ngadimulyo, saya juga menanyakan pendapat mereka tentang tambang emas. Kodi dan Sarmo mengatakan kalau pihak PT SMN beberapa kali melakukan pengeboran di Desa Ngadimulyo. Pengeboran terakhir dilakukan tahun 2020.

Lek ditinggal gek ndak diterusne kan rugi lek usung-usung alat kyok mbiyen kan? [Kalau ditinggal dan tidak diteruskan, kan rugi kalau usung-usung alat seperti dulu kan?]” kata Kodi.

Yo ra enek rugine lho kang lek ngunu kui, nyatu wong sugih. Kan sewaktu-waktu mereka wes eruh lokasine, ngko dibaleni maneh [Ya tidak ada ruginya lho kang kalau begitu itu, karena emang orang kaya. Kan sewaktu-waktu mereka sudah tahu lokasinya, nanti diulangi lagi],” sanggah Sarmo.

Sumber Air Karangrejo, di Dusun Suwaru, Desa Ngadimulyo, Kecamatan Kampak Trenggalek
Sumber Air Karangrejo, di Dusun Suwaru, Desa Ngadimulyo, Kecamatan Kampak Trenggalek/Foto: Wahyu AO

Sarmo, Kodi, dan Painah bekerja sebagai petani Kapulaga. Sarmo mengatakan, ia bersama warga Desa Ngadimulyo lainnya pernah mendapatkan sosialisasi dari pemerintah desa terkait tambang emas. Tapi warga Desa Ngadimulyo sepakat untuk menolak. Mereka khawatir, keberadaan tambang bisa menggusur pemukiman dan merusak sumber air.

Sampun ditolak teng Kampak niku. Lek [pemerintah] desa ngijinne, kan kasile desa niku kathah. Kathah banget. Tapi ndak mikir masyarakate. Masa depane piye masyarakate? Ndak mikir teko kunu [Sudah ditolak tambang emas di Kampak itu. Kalau pemerintah desa mengijinkan, kan hasilnya itu banyak. Banyak banget. Tapi tidak mikir masyarakatnya. Masa depannya gimana masyarakatnya? Tidak mikir sampai di situ,” jelas Sarmo.

Lek lurahe arep ngijini, yo didemo. Lha niku tiang setunggal, nggih kalah kalih masyarakat e seng kathah [Kalau Kepala Desa mau mengijinkan tambang emas, ya didemo. Lha situ satu orang, ya kalah sama masyarakatnya yang banyak],” tegas Painah.

Dari Sumber ke Sumber

Jam menunjukkan pukul 13.00 WIB. Setelah berbagi informasi tentang sumber air dan penolakan tambang emas, saya pamit untuk menelusuri sumber air lainnya. Dari Dusun Suwaru, saya menuju Dusun Karanganyar.

Di tengah perjalanan, saya bertanya kepada warga tentang lokasi Sumber Air Karanganyar. Jalan menuju Sumber Air Karanganyar tidak sulit. Hanya saja, jalannya panjang dan terus menurun dari jalan utama.

Sumber Air Karanganyar, di Dusun Karanganyar, Desa Ngadimulyo, Kecamatan Kampak Trenggalek
Sumber Air Karanganyar, di Dusun Karanganyar, Desa Ngadimulyo, Kecamatan Kampak Trenggalek/Foto: Wahyu AO

Lokasi Sumber Air Karanganyar berada di dekat rumah warga. Sesampainya di lokasi, terlihat penampungan yang besar serta air yang jernih. Ada juga beberapa selang berwarna hijau dan biru, serta pipa yang mengalirkan air dari wadah penampung.

Sumber air ini digunakan warga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari serta pengairan lahan pertanian. Selain digunakan warga Dusun Karanganyar, sumber air itu juga digunakan untuk kebutuhan warga Dusun Tuban hingga Dusun Watubangkong.

Kemudian, saya melanjutkan perjalanan menuju Dusun Buluroto. Butuh waktu tempuh sekitar 20 menit dari Dusun Karanganyar. Di tengah perjalanan, saya kembali melihat selang berwarna biru dan hijau di pinggir jalan.

Warga sekitar bernama Giran, seorang bapak-bapak, mengatakan kalau selang-selang itu berasal dari Sumber Air Soo. Ingatan saya kembali ke perkataan Painah sebelumnya, kalau ia juga memanfaatkan air dari Sumber Air Soo. Kemudian, saya bertanya kepada giran Giran terkait arah-arah jalan menuju Sumber Air Soo.

Selang di pinggir jalan yang mengalirkan air di Dusun Suwaru, Desa Ngadimulyo, Kecamatan Kampak Trenggalek
Selang di pinggir jalan yang mengalirkan air di Dusun Suwaru, Desa Ngadimulyo, Kecamatan Kampak Trenggalek/Foto: Wahyu AO

Setapak mlebet e. Saget o nggih mudun, angel. Ngikuti mawon selang niki [jalan setapak masuk ke sumbernya. Bisa masuk tapi ya harus turun, sulit. Ikuti saja selang ini],” ucap Giran.

Mendengar jawaban Giran, saya tertantang untuk menelusuri jalan setapak yang sulit dilalui itu. Saya segera berangkat ke lokasi yang diarahkan oleh Giran. Setelah memarkir motor di pinggir jalan, saya jalan kaki menelusuri lokasi Sumber Air Soo.

Dan benar kata Giran. Jalannya sempit, licin, dan berbatu. Sayangnya Giran salah dalam satu hal, yaitu tidak ada selang di sekitar jalan setapak yang menjadi penunjuk arah menuju Sumber Air Soo. Tapi, saya terus jalan dan masuk ke hutan.

Ini menjadi pengalaman pertama saya untuk memasuki hutan tanpa ditemani, dan tanpa penunjuk arah yang pasti. Hanya berbekal naluri alami atau insting.

Sumber Air Soo, di Dusun Soo, Desa Ngadimulyo, Kecamatan Kampak Trenggalek
Sumber Air Soo, di Dusun Soo, Desa Ngadimulyo, Kecamatan Kampak Trenggalek/Foto: Wahyu AO

Setelah 10 menit berjalan kaki, secara kebetulan saya menemukan Sumber Air Soo. Terlihat juga selang-selang berwarna hijau dan biru di sekitarnya. Ternyata selang-selang itu dialirkan langsung melewati hutan. Entah bagaimana caranya warga bisa mengalirkan. Tak terlihat ada jalan khusus untuk selang-selang itu.

Penampung air di Sumber Air Soo, Dusun Soo, Desa Ngadimulyo, Kecamatan Kampak Trenggalek
Penampung air di Sumber Air Soo, Dusun Soo, Desa Ngadimulyo, Kecamatan Kampak Trenggalek/Foto: Wahyu AO

Sumber Air Soo berbentuk seperti tangga. Ada satu wadah air di bawah, dan di atasnya ada dua wadah lagi. Di sekitar Sumber Air Soo, juga ada wadah penampung air berbentuk persegi.

Di wadah penampung itu ada pipa menuju bawah tanah yang mengalirkan air dari Sumber Air Soo. Selain warga Suwaru, aliran airnya juga digunakan sampai ke warga Watubangkong.

Tolak Tambang Emas Trenggalek

Berjalan kembali ke tempat parkir motor, waktu menunjukkan pukul 15.45 WIB. Perjalanan berikutnya ke Dusun Buluroto. Tempat yang sebelumnya pernah dilakukan eksplorasi tambang emas oleh PT SMN.

Melewati jalur Dusun Jerambah, butuh waktu 15 menit untuk sampai ke Dusun Buluroto. Ketika hampir sampai di Dusun Buluroto, jalannya semakin sulit karena penuh bebatuan. Harus ekstra hati-hati supaya tidak terjatuh saat mengendarai motor.

Saya sampai di Dusun Buluroto pukul 16.00 WIB. Karena waktu semakin sore, saya hanya mengunjungi salah satu sumber air di Dusun Buluroto yang dekat dengan pemukiman warga. Lokasi sumber airnya juga dekat dengan SDN 3 Ngadimulyo.

Sumber air di Dusun Buluroto, Desa Ngadimulyo, Kecamatan Kampak, Trenggalek
Sumber air di Dusun Buluroto, Desa Ngadimulyo, Kecamatan Kampak, Trenggalek/Foto: Wahyu AO

Sumber air itu digunakan untuk kebutuhan sehari-hari warga. Ada selang dan pipa yang disambungkan ke sumber air. Pipa dan selang itu mengalir ke rumah-rumah warga Buluroto.

Dusun Buluroto menjadi lokasi terakhir saya untuk menelusuri sumber mata air di Desa Ngadimulyo. Pengalaman hari itu semakin menguatkan kalau keberadaan sumber air sangatlah vital bagi kehidupan warga Desa Ngadimulyo.

Terancamnya sumber mata air di Desa Ngadimulyo dari tambang emas semakin nyata, tatkala Kementerian Energi Sumber Daya dan Mineral (ESDM) mengizinkan PT SMN untuk melakukan kegiatan eksplorasi lanjutan hingga eksploitasi di Kecamatan Kampak.

Pada 12 Februari 2022, Kementerian ESDM membalas surat penolakan tambang emas PT SMN oleh masyarakat bersama Bupati Trenggalek. Dalam poin pertama surat itu, Kementerian ESDM menerangkan bahwa area yang digunakan untuk kegiatan operasi produksi (project area) adalah seluas 396,5 Ha.

Berdasarkan dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) Tambang Emas PT SMN, lokasi awal eksploitasi yaitu di pegunungan Dusun Sentul (Desa Karangrejo) dan Buluroto (Desa Ngadimulyo), Kecamatan Kampak. PT SMN menyebutnya sebagai Prospek Sentul-Buluroto.

Berbagai fasilitas pertambangan emas akan dibangun di wilayah Prospek Sentul-Buluroto. Seperti disposisi area, bukaan tambang pit, jalan tambang, kantor administrasi tambang, gudang bahan peledak, dan lain-lain.

Tolak tambang emas Trenggalek. Setidaknya, empat kata itu menjadi suara bersama masyarakat Trenggalek yang tidak ingin ruang hidupnya dirusak oleh tambang emas.

Seperti yang dikatakan Painah sebelumnya, masyarakat siap untuk mempertahankan ruang hidup dan menolak tambang emas di Trenggalek. Masyarakat Trenggalek tidak butuh tambang emas yang membuat hidup semakin sengsara. Tapi, masyarakat butuh sumber air yang menghidupi kehidupan selama-lamanya.

Wahyu AO
Wahyu AO
Dulunya pers mahasiswa INOVASI di UIN Malang. Sekarang penulis di nggalek.co dan jurnalis di kabartrenggalek.com. Menulis Buku Bertahan dari Kekerasan Negara (Peluru Pensil, 2021).
ARTIKEL TERKAIT

Ramai dibicarakan

Artikel Terbaru