Ilustrasi ngisi bensin - Pixbay

Sebagai pemuja kecepatan, kebutuhan kita pada bahan bakar minyak, tak bisa diredakan dengan tawaran sepeda onthel atau jalan kaki begitu saja. Sebagai salah satu pengendara motor dan kendaraan sekawananannya, kebutuhan saya akan bahan bakar sudah menjadi kebutuhan yang tak bisa ditawar-tawar. Dan saya yakin juga bagi Anda. Kebutuhan tersebut, lantas mau tak mau membawa kita pada akses kantong-kantong bahan bakar di seluruh jalur yang dalam keseharian biasa kita lewati. Menurut saya, kebiasaaan mampir SPBU itu kemudian menciptakan hubungan dalam kesan-kesan tertentu yang saya dan Anda ciptakan sendiri.

Di sini, SPBU yang secara sengaja maupun tidak terekam di otak adalah mengenai pelayanannya. Tentu dari beberapa SPBU yang berada di kawasan Trenggalek. Tulisan ini bukan bermaksud mempromosikan satu dan mencacat yang lain dari sebanyak SPBU yang terdaftar. Saya hanya memilih SPBU yang biasanya saya kunjungi. Mungkin dengan tulisan ini bisa dipahami dalam kapastitas: agar SPBU yang masih belum maksimal memberikan pelayanan pada konsumen, kemudian bisa meningkatkan pelayanannya. Anggaplah tulisan ini kritik atau masukan membangun.

Dalam hal lain, tentu kita bisa merasakan senang ketika pelayanan SPBU makin maksimal dan para konsumen menjadi lebih nyaman. pada di sisi lain juga bisa makin meningkatkan omzet SPBU yang bersangkutan. Menurut saya, SPBU di sekitar kota Trenggalek dan kecamatan tetangga, yang biasa menjadi jalur yang saya lalui memberi kesan pelayan yang satu sama lain berbeda. Saya urutkan ranking SPBU yang saya buat berbasis pada pengalaman pribadi. Urutan ini mulai dari yang paling maksimal pelayanannya, kemudian disusul dengan beberapa SPBU yang berada di bawahnya.

SPBU dengan pelayanan paling prima menurut pengalaman saya—sebagai orang yang lahir dan dibesarkan di Trenggalek—adalah sebagai berikut:

1. SPBU Durenan. Setelah beberapa kali mengisi BBM di beberapa tempat berbeda di kawasan Trenggalek kota, SPBU Durenan saya nobatkan sebagai SPBU dengan pelayanan yang paling memuaskan. Ini saya simpulkan karena di SPBU Durenan, para karyawannya selalu memberikan sapaan yang akrab kepada konsumen. Dan itu membuat konsumen (termasuk saya sendiri) merasa lebih nyaman dalam membeli.Selain itu, dari segi sportivitas dalam memberikan kembalian uang konsumen, SPBU Durenan juga sangat sportif. Pengalaman saya, karyawan di SPBU Durenan selalu berusaha mengembalikan kembalian uang seberapapun besarnya. Jadi kiranya layak saya nobatkan sebagai SPBU paling prima dalam memberikan pelayanan di kawasan Trenggalek.

2. SPBU Karangsuko. Selanjutnya adalah SPBU Karangsuko yang menurut saya sebagai SPBU terbaik di bawah SPBU Durenan. Hampir setara dengan Durenan. Hanya dari sisi karyawan yang melayani, bagi saya ke-grapayak-annya masih kalah dari SPBU di Durenan. Sebab, menurut saya kenyamanan konsumen bisa sangat terpengaruh: oleh pelayan yang diberikan pada pelanggan. Dalam aspek-aspek yang lain seperti bagaimana model memberikan uang kembalian, saya pikir di SPBU Karangsuko sudah cukup sportif kepada para konsumennya.

3. SPBU Kranding. SPBU ini saya dudukkan pada peringkat ketiga. Di SPBU Kranding pelayanannya belum bisa setingkat SPBU di posisi pertama dan kedua. Pelayan di SPBU Kranding meski sesekali pelayannya menyapa konsumen, namun mereka lebih sering acuh tak acuh alias kerap mengabaikan konsumen. Artinya belum ada kehangatan interaksi kepada konsumen. Sehingga ikatan antara konsumen dan pelayanan SPBU belum bisa terbangun secara intens. Padahal, dengan sekadar menyapa saja, bisa membuat konsumen nyaman dan merasa dihargai saat membeli BBM.

4. Berikutnya adalah SPBU yang ada di dekat terminal Trenggalek. Kenapa SPBU ini saya taruh pada nomor 4, karena di SPBU ini saya rasa pelayanannya kurang atau bahkan bisa dibilang tidak maksimal. Tidak ada interaksi sama sekali pada konsumen. Bahkan saya juga pernah menjumpai, seorang konsumen yang uang kembaliannya tidak diberikan meski bilangannya kecil. Jadi, di SPBU tersebut model dengan menggenapkan total uang yang harus dibayar konsumen, misal habis 19.700, begitu saja digenapkan dalam jumlah 20.000. Tanpa harus merasa bersalah dan meminta izin dalam penggenapan uang kembalian.

5. Terakhir adalah SPBU kota yang berada di dekat lampu merah Widowati. SPBU Ini saya dudukkan diurutan buntut, karena sering sekali tutup menjelang sore hari. Saya tidak tahu kenapa. Barangkali memang sudah habis persediaannya. Di SPBU ini pelayanan terhadap konsumen sangat kurang. Saya sendiri sedikit kurang nyaman ketika membeli BBM di SPBU ini.

Nah, itulah beberapa SPBU yang bisa saya “isengi” berdasarkan pelayanannya dari yang prima  sampai yang buruk. Dan sejauh ini, hanya sejumlah lima SPBU tersebut yang bisa saya ranking. Ya, karena hanya lima SPBU itu saja yang biasanya kerap saya kunjungi dalam keseharian. Mungkin bisa Anda teruskan sendiri, dengan pelayanan di SPBU daerah masing-masing Anda. Bagaimana ranking saya ini menurut Anda?

  • Gondes

    Mas Tasbbihul Mamnun pernah nggak dicolek-colek waktu beli bengsin di pom. Yang nyolek bapak-bapak sambil mengisi bensin. Temanku ada dan sejak itu gak pernah balik lagi ke salah pom bengsin yang njenengan sebutkan