Bersepeda gembira di jalur gegog

Satu hal yang saya sukai tinggal di kota kecil adalah udara yang masih segar dan terhindar dari kemacetan. Masih terbayang macetnya kota Surabaya 10 tahun yang lalu. Pulang kerja jam 4 Sore dalam keadaan capek, sudah begitu harus berjuang melawan kemacetan yang panjang. Dalam kondisi jalan yang lancar saja, perjalanan bisa memakan waktu 45 menit. Kalau jalanan macet bisa jadi 2 jam baru sampai di rumah. Belum lagi, kalau hujan jalanan pasti banjir dan pasti bisa lebih lama untuk sampai di rumah.

Di Trenggalek, jalan macet cuma di bulan-bulan tertentu, Agustus dan September saja misalnya. Karena pada kedua bulan tersebut sedang berlangsung karnaval memperingati Kemerdekaan RI dan Hari jadi Kabupaten Trenggalek. Oh ya, satu kali lagi macet saat penyambutan Bupati dan Wakil Bupati Trenggalek yang baru digelar beberapa bulan kemarin. Padahal sebelum-sebelumnya, tidak pernah diadakan seremoni seperti itu. Mungkin karena bupati dan wakil bupati muda yang ganteng dan pintar ini banyak penggemar. Meski tetap tidak membuat saya tergerak untuk memilihnya. Mereka tidak pernah kelihatan naik sepeda, berbeda dengan dua bupati sebelumnya yang rajin naik sepeda MTB ke desa-desa. Terlebih, karena KTP saya masih ikut Kabupaten Blitar, jadi ya tidak boleh nyoblos.

Bersepeda dengan jalur gegog bisa dilakukan pada pagi atau sore hari. Saat yang paling tepat adalah pagi di hari Minggu. Sebetulnya hari Sabtu pagi juga banyak yang bersepeda namun saat hari Minggu kendaraan benar-benar sepi sehingga udara pegunungan terasa sangat segar. Start untuk jalur ini bisa dimulai dari mana saja. Kalau ingin bersepeda bersama, enaknya janjian di Alun-alun Trenggalek. Alun-alun Trenggalek merupakan titik temu yang pas karena hari Minggu pagi biasanya ada car free day. Di sini juga banyak orang yang bersepeda berputar-putar di alun-alun.

Oh ya, penamaan jalur gegog ini hanya rekaan saya saja. Saya menyebutnya demikian karena kebanyakan pesepeda berhenti/finish di warung gegog sebelum balik arah ke rumah masing-masing. Sedang dalam memilih warung gegog sebagai pemberhentian sangat tergantung pada kekuatan dengkul mereka masing-masing. Jika dikatakan tergantung pada kekuatan dompet, agak terdengar lucu. Harga nasi gegog ditambah teh hangat cuma sekian rupiah.

Dari Alun-alun kita meneruskan perjalanan ke arah utara menuju Bendungan. Nasi gegog memang berasal dari Kecamatan Bendungan. Konon nasi ini biasa digunakan untuk bekal ke hutan. Nasi yang hanya berkomposisi nasi dan teri pedas ini dipilih sebagai bekal  karena praktis dan tidak cepat basi. Kalau ingin menikmati nasi gegog sebetulnya tidak usah jauh-jauh ke Bendungan. Di alun-alun saat ada CFD (Car Free Day) biasanya tersedia nasi gegog. Penjual nasi ini biasa mangkal di pojokan pertigaan sebelah utara alun-alun. Jika makan nasi gegog di alun-alun berarti naik sepedanya tidak usah dilanjutkan saja. Medan menanjak di jalur selanjutnya bisa membuat perut Anda kram. Anda tidak masuk dalam hitungan level yang akan saya sebutkan sebentar lagi di bawah ini.

Level berdasar warung gegog ini pertama kali saya dengar dari Bapak Noeroedin Budi. Seorang penggiat sepeda MTB yang saya kenal sewaktu masih bekerja di Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Trenggalek dulu. Saya tidak tahu pasti apa ini level standar untuk para penghobi sepeda. Yang pasti, bagi saya pribadi pelevelan ini cukup berguna untuk mengukur kemajuan kita dalam bersepeda. Berikut level seorang pesepeda di jalur gegog:

1.Level PlayGroup
Dikatakan sudah menyelesaikan level playgroup apabila sudah mencapai warung gegog sebelum tanjakan pertama. Warung kecil di sebelah timur jalan ini biasanya menjadi tempat peristirahatan pesepeda motor sebelum naik ke Bendungan. Mereka biasanya sarapan nasi gegog dan sekadar minum kopi atau sekadar mampir untuk membeli bensin eceran.

Kalau saya amati sangat jarang pesepeda yang mampir di warung ini. Biasanya, kalau tidak kuat menanjak mereka memilih putar balik dan pulang. Maklum saja, saya yang kebetulan berhenti untuk memperbaiki rantai diteriaki dan diolok-olok oleh pesepeda yang melintas. Mungkin saya dikira tidak kuat menanjak dan berencana berhenti di level playgroup.

Panjang rute ini dari alun-alun Trenggalek kira-kira 2 km. Bagi pesepeda pemula jalur ini masih sangat ringan karena merupakan jalan halus dan datar. Di kiri dan kanan jalur adalah perumahan penduduk. Fasilitas umum yang dilalui adalah Lembaga Pemasyarakatan Trenggalek dan Kampus STKIP PGRI Trenggalek.

2. Level TK A
Untuk menyelesaikan level ini perlu persiapan dan latihan fisik yang teratur. Walaupun check point alias warung gegog selanjutnya cuma berjarak tak lebih dari 500 meter, jalan menanjak yang lumayan terjal bisa membuat stamina terkuras habis. Banyak pesepeda termasuk saya pernah gagal dan cuma sampai tikungan kedua. Kita bisa duduk santai di situ sembari menunggu kiriman teh hangat dan nasi gegog dari teman yang sudah di level selanjutnya.

Pemandangan jurang dan gunung yang hijau sangat nyaman untuk berlama-lama di situ sambil memutuskan pulang atau melanjutkan perjalanan. Bagi yang tidak kuat sebaiknya tidak usah memaksakan diri karena medan selanjutnya akan lebih berat lagi. Sebaiknya Anda rutin bersepeda untuk bisa mencapai level selanjutnya.

3. Level TK B
Level ini finish di warung gegog kiri jalan dekat hutan pinus. Untuk mencapai ke sini, kita harus bersepeda menelusuri jalan yang terus menanjak. Kira-kira sekitar ????? km. Titik terberat di jalur ini adalah tanjakan sebelum penampungan air PDAM yang atas. Perjalanan akan terasa makin berat apabila kita naik berbarengan dengan truk pengangkut sampah. Nafas kita yang tinggal satu dua dan terkena asap truk yang mengandung gas CO akan membuat kita semakin lemas. Belum lagi aroma sampah yang memaksa kita untuk sejenak menahan nafas. Serasa mau pingsan.

Untunglah biasanya di pagi hari banyak pula yang bersepeda. Walaupun tidak kenal pesepeda Trenggalek, yang terkenal ramah akan menyemangati kita. Keberhasilan dari bersepeda naik gunung adalah bagaimana cara kita mengatur ritme nafas dan teknik kita bersepeda. Kalau sedikit-sedikit TTB (TunTun Bike atau istilah menuntun sepeda jika menjumpai tanjakan) maka dipastikan gagal mencapai puncak tanjakan.

4. Level SD
Perjalanan mencapai check point selanjutnya adalah perjalanan yang paling santai di antara level-level sebelumnya. Jalur ini berupa sedikit tanjakan dan beberapa turunan. Sungguh sayang apabila sampai di seputar TPA Trenggalek namun tidak melanjutkannya ke level selanjutnya. Finis di level ini berupa 3 buah warung gegog. Biasanya para pesepeda memilih di warung gegog bu ??. Mungkin karena tempatnya terbuka, membuat para pesepeda lebih leluasa untuk mendinginkan badan. Peluh yang bercucuran lebih enak kalau makan gegog sambil ngisis di luar.

Sambil menikmati gegog dan segelas teh hangat, sangat gayeng kalau ngobrol seputar sepeda. Sepeda yang baik dan onderdil yang baik (baca: lebih mahal) tentunya akan lebih enak digenjot ke atas gunung. Beberapa orang bergerombol memegangi sebuah sepeda yang bagus. Wah ternyata harga frame sepeda itu 7 juta kalau bekas. Belum termasuk biaya pengecatan ulangnya. Untung polygon broadway’ kesayangan saya diparkir agak jauh dari situ. Harganya cuman 2 juta yang mungkin cuman dapat sepasang wheelset sepeda mereka. Sambil menghibur diri saya berkata dalam hati, “Yang penting upgrade dengkul dulu, hehehe…”.

Untuk level selanjutnya terus terang saya belum berani mencoba. Kata yang sudah mahir bisa juga dari warung gegog ke arah timur nanti pulangnya lewat Parakan, Kecamatan Trenggalek. Bisa juga turun ke arah selatan kemudian pertigaan sebelah gegog ambil belok kanan. Wah, saya tidak berani mencoba. Lebih baik pulang saja.

Saat pulang adalah saat yang paling menyenangkan. Jalurnya adalah jalur yang kita lewati tadi. Jalur yang terus menurun akan sangat berbahaya kalau kita tidak berhati-hati. Teknik yang tepat untuk menurun adalah:

  • Pertama turunkan sadel agar kaki kita bisa menekuk dan bisa mengangkat sedikit pantat kita.
  • Kalau memakai topi, lebih baik topi kita balik agar tidak lepas tertiup angin. Sudah ada teman yang jatuh gara-gara topinya mau lepas. Jadi lebih baik pakai helm saja yang lebih aman.
  • Jangan menurun terlalu cepat apalagi di tikungan. Jangan mengerem mendadak.

Itulah jalur bersepeda favorit saya. Jalur up hill yang menyenangkan dengan finish di warung gegog. Saya memilih jalur gegog karena down hill sudah telalu mainstream.

Salam bersepeda

  • eko

    ndak pecah mung ilang 😀
    Ayo ayo jalur gegog apa jalur sate?

  • Pulung

    Petjah endok e, ayo kapan” sepedahan mas