abdul-hamid -wilis

Saya pernah dua kali ke rumahnya bersama seorang teman. Tahun kemarin, ketika saya masih begitu amat bergairah menulis tentang masa lalu Trenggalek. Ketika tulisan saya baru ada beberapa puluh halaman saja. Hari menjelang maghrib itu, hari kemarin (Sabtu, 1 Pebruari), adalah kedatangan saya yang ketiga. Sewaktu kaki saya menjejak di halaman rumah sederhana itu, saya hanya melihat suasana di sekitar yang sepi. Dan tak langsung menemukan sosoknya lagi dari ketiga kali saya pernah datang mengunjungi rumahnya. Akhir tahun 2013 kemarin, sebenarnya untuk pertama kali saya sudah sempat bertatap muka dalam launching buku Turonggo Yakso. Dia rawuh. Barangkali karena undangan.

Malam kemarin, saya ke rumahnya sekitar pukul 5 sore, dengan mengajak teman yang berbeda. Kendati saya sempat lupa arah, karena masuk melalui jalan yang berbeda. Dia sedang keluar, kata istrinya. Saya menunggu karena menurut istrinya, sebentar lagi pasti pulang. Sebab ia hanya mengantarkan anaknya ke terminal yang hendak ke Banyuwangi, begitu kata istrinya lagi. Saya menunggunya hingga maghrib. Saya masih menunggunya sampai saya bersama teman, kemudian ikut sholat magrib di masjid depan rumahnya. Dan ternyata ia belum datang ketika jamaah sudah turun dari masjid.

Tidak berapa lama setelah magrib itu, dia rawuh dengan mengendarai sepeda motor. Saya sempat menebak sejak diberitahu pergi di awal tadi, bahwa dia menaiki onthel. Sebab, saya tahu pertama bertemu bahwa ia sudah sangat sepuh dan saya sudah cukup lama menunggu. Hampir semua rambut di kepalanya tidak ada yang hitam. Rata putih. Saya menunggunya selesai memarkir motor dan disambut istri. Lalu saya menyalaminya, sebelum tadi ia sempat minta tolong untuk membukakan helm yang dikenakannya, karena tidak bisa membukanya sendiri. Ia masih belum menduga tamunya, karena di depan rumah sinar lampu remang. Setelah saya dipersilakan masuk, ia baru tahu kalau tamunya adalah saya dan seorang teman saya yang kebetulan tadi saya ajak. Ia masih mengenali saya.

Setelah kami sama-sama mengatur letak duduk. Saya mulai masuk mengawali perbincangan dengan membawanya: atau lebih tepat menyinggung, ihwal kisah gerilya Pak Dirman di Trenggalek. Tema ini sudah saya persiapkan untuk saya sodorkan sebagai salah satu bahan ngobrol sejak sebelum berangkat. Saya telah baca dari buku dan saya ingin mengecek kebenaran sekaligus ketepatannya: ihwal perjalanan Soedirman ke Trenggalek dalam rangka gerilya itu, setelah tadi sempat berbasa-basi sebentar. Tema ini saya tanyakan karena saya berkepentingan iseng menulis cerpen bertema gerilya Soedirman di Trenggalek.

Ia langsung masuk pada tema itu dan berlaku sebagai orang yang tahu dan memang dia sangat tahu apa yang dibicarakannya dan menguasai. Ia langsung bercerita banyak-banyak tentang alur perjalanan Panglima Soedirman itu–seperti yang pertama saya singgung–kebanyakan adalah fakta yang belum saya tahu. Bahkan, ceritanya, membuat apa yang kemarin saya duga, tentang rute masuknya Pak Dirman ke Trenggalek, melenceng. Saya keliru mengira, karena bekal yang saya baca tidak selengkap dan sedetail ceritanya. Malam itu, ceritanya cukup mengikis rasa penasaran saya akan sosok gerilyawan tangguh itu, sewaktu bergerilya di Trenggalek. Di tengah cerita, terkadang saya tak bisa untuk tak memotong pembicaraan karena pada peristiwa-peristiwa tertentu saya tak tahan untuk mengorek lebih dalam. Atau terkadang menanyakan lagi tema yang tadi telah dibicarakan, untuk mengecek ulang, sebagaimana kebiasaan saya.

Saat di tengah-tengah obrolan itu, saya juga sempat mengutarakan maksud untuk meminjam salahsatu buku karangannya yang kemudian ditanggapi dengan mengutip kata-kata seseorang, yang intinya dia macam orang pelit dipinjami bukunya mesti banyak syarat dan ketentuan-ketentuan. Hal yang saya anggap wajar sebagaimana juga saya kalau dipinjami buku. Namun saya sempat meyakinkannya untuk mengembalikan, bahkan walau saya harus meninggalkan sesuatu supaya buku itu kembali: semacam KTP dan sejenisnya. Kendati kata-kata saya ini, kemudian ditanggapinya secara tak enak sendiri. Saya menduga karena ia pernah punya pengalaman buruk terhadap si peminjam buku. Mungkin bukunya pernah dipinjam dan tak dikembalikan atau persoalan terkait begitu-begitu.

Kadang saya mengajukan peristiwa-peristiwa tertentu minta tanggapan dan pendapatnya. Sesekali ia juga membuat pembicaraan mengarah ke bukan inti persoalan: membicarakan keluarga dan teman-teman seangkatannya dulu. Sebentar mengenang mereka dan kemudian lalu membicarakannya. Kemudian balik ke tema perbincangan semula. Saya kagum, beliau dengan usia yang kini barangkali sudah 75 tahun itu masih begitu bersemangat mencari dan mempelajari. Mencatat dan duga saya, terjun langsung ke lapangan dengan cucunya untuk memotret berbagai hal yang masih tersisa dari apa saja terkait peninggalan sejarah di Trenggalek. Sekadar sebagai bukti atau untuk pelengkap narasi.

Ia sempat cerita ketertarikannnya dengan sejarah di awal mula, semenjak meneliti sejarah Trenggalek itu, sebenarnya dengan ditunjuk. Bukan atas inisiatif sendiri. Dan dia meminta diajari di awal mula oleh seorang yang memang menguasai cara dan metode penulisan sejarah. Ia ceritakan awal ia menulis itu dan siapa-siapa saja orang yang cukup berjasa mengajarinya. Membuatnya sebagai orang yang tekun dan mengabdikan diri sepenuhnya ke ranah sejarah sebagai sesuatu yang dicintai seperti saat ini. Bukan hanya cinta dan tekun, ia juga adalah tipe pembelajar otodidak. Saya berangan-angan, andai banyak orang (tua saksi sejarah) seperti dia: masing-masing menulis sendiri pengalaman historisnya (?).

Malam itu yang jelas saya dibikin terperangah: dia tahu banyak. Bahkan hal-hal yang saya tak menduga. Misalnya ia bicara tentang negara, posisinya ketika terjadi perang sipil. Awalnya terkait tragedi komunis di Indonesia yang dia anggap dan atau entah yakini mula-mula sebagai tragedi perang sipil. Sehingga posisi negara biasanya menunggu. Menunggu untuk menunjukkan kepemihakannya pada siapa. ”Negara menanti untuk memihak pada kubu yang kelihatannya akan menang,” ungkapnya. ”Ketika seorang maling tertangkap masyarakat, polisi datang sering ketika maling telah babak belur dan benjut digebuki massa. Dan baru diketahuilah saat itu, polisi memihak ke siapa” ia kasih semacam gambaran.

Saya cuplik salahsatu pembicaraan malam itu. Ia mengatakan, persoalan komunis di Indonesia mulanya adalah peristiwa perang sipil. Mungkin ia melihat dan membaca dari serentetan peristiwa di Trenggalek dan ia lalu mengatakan itu. Karena itu, misalnya lagi, masih pendapatnya, bahwa Partai Komunis Indonesia itu jahat. Saya sepakat untuk konteks di sini, karena pengalamannya di Trenggalek memang begitu. Banyak pengikut partai ini, di Trenggalek, yang sekaligus adalah anggota rampok, begal dan maling, kendati tidak semuanya. Terlebih ketika bikin kerusuhan, di Bendungan, di Karangan, di Kampak, di Munjungan dan seterusnya. Dan beliau di lapangan banyak bertemu dengan orang-orang macam itu. Tapi saya akan menegasi jika itu dijadikan sarana gebyah-uyah persoalan serupa di beberapa tempat dan kota lain.

Ia menceritakan ulang ingatan-ingatannya melalui pengalaman yang pernah ia alami sendiri sekaligus amati. Bahkan ia punya beberapa kesimpulan terhadap banyak peristiwa-peristiwa itu. Ia mengatakan semuanya dengan cerita yang penuh bersemangat seperti bukan lelaki tua. Dengan senang ia bercerita, menggali-gali ingatannya. Dan menceritakan ulang sebagai sajian yang memang perlu didengar. Meski terkadang ingatannya juga tersengal-sengal, karena ia sendiri mengaku soal usia yang banyak bikin lupa. Tapi kalau ingat, ia akan segera bercerita dengan detail.

Malam itu saya belum lunas mendengar cerita-ceritanya dan entah kenapa saya tak terlalu begitu semangat mendengarkan seperti biasanya. Padahal ia juga sangat antusias untuk didengarkan. Rasanya ada yang bolong-bolong dari kuping saya, menangkap seluruh cerita-ceritanya yang bertempo lumayan cepat, yang semuanya seolah ingin ia muntahkan. Dan karena itu, sesekali saya tergagap mendengarkan. Saya yakin, ia lelaki yang cukup cerewet untuk disuruh bercerita. Dan ia mengakuinya sendiri. Di ruang tamunya yang serba meleseh itu, saya hanya menjadi pendengar sambil manggut-manggut. Dan berusaha menjadi pendengar yang baik sedari awal. Mungkin teman saya juga begitu. Kendati semangat mendengarkan saya malam itu agak drop. Saya masih berusaha mendengarkan ceritanya, sedetail-detailnya. Untuk saya sambung-sambungkan sendiri dengan pengetahuan yang saya punyai. Namanya Abdul Hamid Wilis. Lelaki kelahiran 1939 ini saya anggap sebagai ensiklopedi sejarah Trenggalek. Semoga sehat selalu, Mbah Hamid.

BERBAGI
Artikel sebelumyaTiga Tokoh Hebat yang Mengubah Kota Trenggalek
Artikel berikutnyaGek kesenian kuwi blangkrah apa, ta!
Misbahus Surur
Kelahiran Munjungan, Trenggalek. Menulis buku Turonggo Yakso Berjuang Untuk Eksistensi (Yogyakarta: Syafni Press, 2013) dan menyunting buku Rengkek-Rengkek: Senarai Catatan dan Kisah (Per)jalan(an) di Kota Trenggalek (Trenggalek: Tuhālas Biblioteca, 2015).