beberapa-jalur-alternatif-trenggalek-ponorogo

Bencana tanah longsor yang secara beruntun melanda Kabupaten Trenggalek beberapa hari ini mengakibatkan arus lalu lintas di beberapa ruas jalan terhambat, bahkan sama sekali tidak bisa dilewati. Seperti yang terjadi di Jalan Raya Trenggalek-Ponorogo, tepatnya km 16 dan 17, yang belum genap dua pekan ini tertimbun longsor hingga 5 kali. Informasi terakhir—yang diperoleh dari Humas Setdakab Trenggalek—longsor tanah yang disertai batu besar mengakibatkan jalur Trenggalek-Ponorogo putus total sejak kemarin. Bahkan diperkirakan hingga beberapa hari ke depan. Pasalnya, longsor dalam skala kecil masih terus terjadi sehingga belum memungkinkan untuk dilakukan proses pembersihan. Meskipun alat berat dan tim dari instansi terkait terus bersiaga.

Putusnya jalur utama Trenggalek-Ponorogo tersebut tentu menimbulkan persoalan tersendiri, utamanya bagi warga Trenggalek yang ingin bepergian menggunakan kendaraan roda empat ke arah Ponorogo, atau sebaliknya. Bahkan tidak hanya warga Ponorogo atau Trenggalek, tetapi  seluruh masyarakat Jawa Timur yang biasanya melintasi jalur ini. Mencari jalur alternatif, oleh karenanya, adalah sebuah pilihan. Seperti pengalaman saya beberapa hari kemarin (Minggu, 27/11), harus pergi ke Ponorogo, ke Pondok Darussalam Gontor, Mlarak, yang tak bisa lagi ditunda. Berbekal informasi yang saya kumpulkan ditambah alat bantu GPS (Global Positioning System), akhirnya saya beserta rombongan berhasil mencapai Ponorogo, meski harus melalui jalur alternatif dengan medan yang cukup berat.

Dari berbagai informasi yang saya kumpulkan: baik informasi resmi seperti dari Humas Setdakab, Koramil Tugu, dan perangkat desa setempat; maupun informasi yang tidak resmi seperti dari kolega, orang yang saya hampiri di sepanjang perjalanan, dan sebagainya, saya menemukan 4 jalur alternatif Trenggalek-Ponorogo yang mungkin bisa dilalui. Pertama, Jalur Pule-Tanggaran (Trenggalek) menembus Ngrayun-Bungkal-Sambit (Ponorogo).

Jalur alternatif yang menghubungkan Kecamatan Pule, Trenggalek dengan Kecamatan Sambit, Ponorogo ini medannya cukup mudah namun lumayan jauh memutar. Karena wilayah Pule berada di dataran tinggi, sangat sedikit ditemui tanjakan tajam di sepanjang rute ini. Meskipun sesekali menemui jalan beraspal yang rusak. Lebar jalan cukup memadai saat dipakai simpangan dengan sesama kendaraan roda empat. Sayangnya, jalur alternatif ini lumayan jauh, dengan waktu tempuh empat kali lebih lama dibanding dengan lewat jalur utama (jalan nasional). Pengalaman saya melewati jalur ini kemarin memakan waktu sekitar hampir 4 jam. Namun demikian, lelahnya perjalanan panjang di jalur ini terobati pemandangan menakjubkan “Watu Semaur” yang terletak di wilayah Ngrayun.

Kedua, lewat Tempuran, Kecamatan Sawo, Ponorogo. Jalur ini melalui rute Dermosari-Tumpak Pelem-Temon-Tempuran-Sawo. Jalur ini diawali dari Pasar Dermosari, kemudian menuju Tempuran, dan berakhir di Pasar Sawo (Ponorogo). Di jalur ini jarak tempuhnya bahkan lebih pendek dibanding dengan jalur jalan nasional (lihat GPS). Namun, karena kondisi jalan yang rusak parah di sejumlah titik, ditambah jalurnya agak sempit, waktu tempuh pun menjadi lebih lama.

Melalui jalur ini, saya kemarin membutuhkan waktu sekitar 1 jam terhitung dari Pasar Sawo hingga Pasar Dermosari. Harus ekstra hati-hati jika turun hujan, karena jalan yang sebagian makadam dan sebagian lainnya beton (disemen) ini akan menjadi sangat licin. Selain itu, di beberapa titik yang masuk wilayah Dermosari, kerusakan jalan sangat parah. Untungnya, sekelompok relawan dari daerah setempat sudah siap di titik-titik rawan dengan membawa peralatan seperti cangkul, tambang hingga kendaraan 4WD yang siap menarik kendaraan yang mengalami selip ban.

Ketiga, lewat Dusun Sooko, Desa Prambon, Tugu, Trenggalek. Saya sebenarnya belum pernah melewati jalur ini, tetapi rute yang ini langsung muncul begitu saya membuka GPS. Dari citra GPS yang muncul, terlihat bahwa rute ini lebih memutar dibanding dengan jalur kedua. Dan lebih singkat dibandingkan dengan jalur pertama. Sementara yang keempat adalah jalur Pulung-Bendungan. Dari wilayah Kecamatan Bendungan, Trenggalek, jalur ini melintasi Jalan Pulung, hingga ke Mlarak, Ponorogo. Jalur ini sebenarnya varian (cabangan) dari jalur Sooko di atas.

Empat jalur tersebut —yang kesemuanya melewati gunung dan hutan—setidaknya bisa digunakan sebagai jalur alternatif selama terputusnya jalur utama Trenggalek-Ponorogo, selain lewat Madiun atau lewat JLS (Jalur Lintas Selatan). Dari keempat jalur tersebut, jika tidak ingin melewati Madiun maupun JLS, jalur kedua, yakni yang melewati Tempuran, lebih saya rekomendasikan. Pertimbangannya, selain jalur paling dekat, hampir di tiap persimpangan di sepanjang rute, sudah diberi tanda arah.

Yang perlu diingat, jika memilih salah satu jalur di atas, sebaiknya tidak hanya mengandalkan alat bantu GPS, meskipun alat tersebut cukup membantu. Karena, kita tahu, tingkat akurasi di wilayah terpencil sangat rendah. Selain, mengantisipasi sinyal yang sulit di daerah pegunungan. Untuk itu, peribahasa “malu bertanya sesat dijalan” penting untuk diperhatikan.

Jalur alternatif tersebut hanya berlaku bagi pengendara roda empat. Karena bagi pengendara roda dua, sudah dibuatkan jalan darurat yang melewati kawasan waduk Tugu: di bawah lokasi longsor. Dan, khusus yang bermotor non-matik, bisa juga lewat Desa Pucanganak-Gading. Demikian.