Fenomena Wanita Sebagai Tulang-Punggung Keluarga

Mungkin tidak asing bagi kita istilah “tulang punggung”, makanya saya mengambil judul agak nyleneh. Fenomena tersebut, yang akan saya jelaskan nanti, terjadi pada wanita sesama pekerja migran seperti saya sendiri. Mayoritas dari kami, para pekerja migran ini, menjadi tulang punggung keluarga: baik mereka yang sudah berumah tangga atau belum alias masih sendirian. Sebuah keadaan yang memicu para laki-laki bertukar peran menjadi “ibu rumah tangga”. Perempuan bekerja ke luar negeri mencari nafkah sedangkan laki-laki/suami, di rumah mengurus anak.

Perlu digaris bawahi, seringkali keadaan tersebut menjadi masalah ketika para suami tidak berusaha mencari kerja, tetapi mengandalkan kiriman uang dari istri yang bekerja di luar negeri sebagai “babu”. Miris memang, tetapi inilah yang terjadi pada mayoritas masyarakat Indonesia, yang istrinya mbabu ke luar negeri.

Saya sendiri mengenal beberapa teman dari berbagai daerah di Indonesia, 10 dari suami pekerja migran yang saya amati, 8 di antaranya adalah suami yang mengandalkan kiriman dari istri. Dalam situasi seperi itu, suami tampak bersantai, ngopa-ngopi, dan sering bersenda gurau layaknya emak-emak berdaster. Fenomena pergantian peran ini seringkali memicu terjadinya perceraian. Hal tersebut bukan lagi sebuah ketakutan bagi seorang wanita, karena dalam situasi itu si istri semakin berpikir bahwa ada atau tidaknya suami, tidak lagi ada bedanya. Mereka pada akhirnya sudah terbiasa merasakan susah senang sendirian.

Dik, uang jatah rokok, beras, biaya sekolah, sudah habis. Kapan dikirimi?

Kalimat itu sering terdengar dan agak sumbang, tetapi itulah kenyataan. Sedangkan kabar istrinya saja tidak pernah mereka (para suami) tanyakan.

Kami di sini bertaruh nyawa demi orang yang kami cintai, makan seadanya, bahkan di Indonesia belum pernah makan dengan kecap asin, atau makan sega uyah. Tapi justru di sini, di rantau, kami pernah mengalami hanya demi menghemat pengeluaran agar kondisi perekonomian keluarga bisa jauh lebih baik. Jadi, jangan pernah berpikir bahwa kami di rantau bersenang-senang. Memang, sih, ada yang berkelakuan kebablasan, tidak sewajarnya, dan ketika pulang ke negeri sendiri, sering orang bilang: balik kalungan kumplung.

Memang tidak mudah menjadi tulang punggung untuk keluarga. Pertanggungjawaban tak hanya urusan duniawi, tapi berlanjut hingga urusan ukhrawi. Apalagi kini kebutuhan semakin bertambah, baik yang sudah diduga seperti kebutuhan harian dan sekolah anak. Lha tapi kan ada saja kebutuhan yang tidak terduga, seperti kondangan misalnya, kita ini kan hidup di nggalek.

Manusia yang ditakdirkan lahir sebagai laki-laki sebagai kepala keluarga harusnya tahu dong ia diciptakan untuk apa; bagaimana dan perannya sebagai apa? Mosok mengandalkan istrinya yang “mbabu” untuk mencukupi kebutuhan keluarganya?

Belum lagi adanya intervensi dari keluarga pihak laki-laki yang harusnya bisa menjadi penengah dan mengingatkan anak laki-lakinya untuk bertanggung jawab atas keluarganya, justru memperkeruh kondisi keluarga anaknya dengan menyudutkan menantu perempuannya, yang dianggap tidak menghormati, bahkan merendahkan martabat suaminya.

Fenomena seperti ini hanyalah sekelumit dari sekian kisah yang dialami oleh pekerja migran. Menjadi dilema bagi kami, karena ketika speak up dianggap mengumbar aib keluarga sendiri, namun jika dipendam sendiri, bisa-bisa kami modar dewe karena lelah fisik dan mental.

Saya menulis ini tidak lain adalah sebagai harapan dan doa agar para lelaki yang belum sadar, bisa segera sadar dan mengerti arti tanggung jawab kepada istri dan anak-anaknya. Yakni dengan memberi kasih sayang dan mengusahakan kehidupan yang layak semampunya.

Ya, itulah serba-serbi kehidupan di dunia. Semoga para wanita pejuang keluarga di mana pun berada tetap dalam lindungan Allah SWT. Semoga lelahmu menjadi amal baik di akhirat kelak. Amin.

Artikel Baru

Artikel Terkait