BERBAGI
larung sembonyo di pantai prigi - foto east java vacation packages

Sudah 100 hari dua anak muda memimpin salah satu daerah tertinggal di Jawa Timur. Bukan perkara mudah membangun kabupaten dengan sumber PAD kecil. Perlu sebuah lompatan besar untuk membuat orang di luar sana sekadar mau melirik Trenggalek, tetapi bukan melirik karena ibu bupatinya seorang artis. Kita lepaskan dahulu keuntungan marketing soal ibu bupati yang artis. Trenggalek harus dilirik karena keunggulannya.

Trenggalek adalah salah satu daerah yang memiliki sejarah panjang dalam catatan sejarah. Pernah menjadi daerah singgah Empu Sendok, kemudian pernah menjadi daerah yang dihapus dalam peta Indonesia. Jadi, jangan heran kalau orang Trenggalek, menjadi minder dan selalu direndahkan oleh orang luar, karena pada dasarnya tanah ini pernah dihilangkan secara paksa. Terpilihnya dua orang anak muda itu, membuat sedikit euphoria positif, setidaknya menambah kepercayaan diri orang Trenggalek saat merantau.

Kembali soal pembangunan yang dilakukan pemimpin baru ini. Saya akan coba mengulas soal pembangunan di bidang pariwisata Trenggalek, dari prespektif seorang priyayi Jawa partikelir. Dalam waktu yang singkat, pemimpin baru ini menginisiasi pembentukan dua desa wisata, yaitu desa wisata Dompyong di Bendungan dan desa wisata Sawahan di Watulimo. Dua desa wisata ini memiliki konsep desa wisata berwawasan argobisnis, dengan dua produk agrobisnis yang berbeda: Dompyong dengan tanaman kopi dan Sawahan dengan durian.

Untuk Desa Sawahan, sepertinya saya tidak akan mengritik, karena komoditas utamanya berupa durian, masih aktif dan dicanangkan sebagai hutan durian terluas di dunia oleh kementerian pertanian. Sementara untuk Desa Dompyong, yang komoditas utamanya berupa kopi, hari ini sudah tak lagi ada alias sudah punah dari daerah tersebut. Kepunahaan kopi di daerah Perkebunan Dilem ini juga karena disebabkan berbagai hal. Perlu usaha keras bagi pemerintah kabupaten jika memang ingin memulihkan perkebunan kopi zaman Belanda tersebut. Secara lokasi, desa tersebut memang sangat layak dijadikan daerah agrowisata, karena memang tanah, udara dan airnya sangat mendukung untuk itu. Dan adanya pabrik pengolahan kopi zaman Belanda yang menurut warga sekitar masih bisa digunakan.

Bicara soal desa wisata, kita juga harus bicara soal kesiapan masyarakat desa sendiri. Apa kemampuan masyarakat desa yang bisa ditingkatkan untuk mendukung hal tersebut? Apa produk yang bisa dijual di daerah tersebut selain kopi yang merupakan produk utama,  baru bicara soal kesiapan masyarakat. Ini belum bicara soal infrastruktur pendukung daerah wisata dan lainnya. Jangan sampai desa wisata ini hanya menjadi monumen, yang membuat masyarakat hanya dapat melihat saja.

Ini baru bicara soal desa wisata, bagaimana dengan pengembangan destinasi wisata potensial di Trenggalek seperti pantai-pantai di kawasan Watulimo, sebagai daerah utama destinasi wisata. Apakah infrastruktur di sana sudah layak? Bagaiman pula promosi wisatanya? Yang membuat saya tergelitik adalah begitu gencarnya pemerintah melakukan eksplorasi wilayah untuk mencari daerah destinasi wisata baru, saya jadi bertanya-tanya siapa yang akan menjadi konsumen destinasi wisata baru tersebut? Jika semua daerah menjadi target eksplorasi. Ingat eksplorasi destinasi wisata baru, juga memiliki potensi “merusak”.

Jika kita lihat daerah-daerah destinasi wisata baru ini, adalah daerah wisata yang bukan merupakan daerah mass tourism, untuk itulah perlu kebijaksanaan dari stakeholder untuk membuat kategori-kategori destinasi wisata, agar tidak terjadi korban di kemudian hari. Ini baru soal kategorisasi daerah wisata, belum soal destinasi wisata baru itu berada di lahan siapa. Apakah lahan pemerintah Kabupaten Trenggalek atau lahan Perhutani? Jika punya Perhutani, bagaimana dengan pemerintah kabupaten, apakah mendapatkan presentasi bagi hasil atau tidak; belum lagi soal masyarakat di sekitar daerah destinasi wisata.

Jangan sampai kejadian yang terjadi di loket masuk Wisata Cengkrong terjadi lagi, karena masalah komunikasi pengelola dan warga hingga beberapa kali terjadi pembakaran loket. Kejadian-kejadian seperti inilah yang membuat pariwisata Trenggalek tidak akan terangkat, hanya disebabkan masalah komunikasi antarstakeholder. Kita semua paham bahwa pariwisata memiliki multiplier efek yang luar biasa. Kita bisa lihat Kota Batu dan Kabupaten Bandung, bisa memiliki PAD yang luar biasa dari pariwisata. Ini baru dari PAD. Berapa jumlah perputaran uang di daerah wisata pada level masyarakat? Tapi jangan lupa efek negatif  dari pariwisata, khususnya bagi alam dan masyarakat.

Jika kita bicara pariwisata, berarti kita juga harus bicara juga soal wisatawan, selama ini Trenggalek dan daerah-daerah yang bukan merupakan destinasi wisata nasional dan provinsi, selalu memiliki keterbatasaan untuk meningkatkan wisatawan yang berkunjung di daerahnya. Beberapa cara konvesional yang sering dilakukan oleh pemerintah kabupaten  adalah mengikuti pameran wisata dan promosi baliho. Ini memang cukup efektif, tapi biayanya juga lumayan mahal, untuk  sebuah cara yang berefek kecil.

Oh ya, saya lupa, Trenggalek mestinya segera dan wajib untuk memiliki pusat informasi wisata yang bisa efektif melayani wisatawan. Karena tidak semua tentang Trenggalek bisa dicari di Google, khususnya untuk ukuran daerah seperti Trenggalek. Kembali ke masalah meningkatkan wisatawan. Sepertinya pemerintah perlu melakukan sedikit improvisasi bisnis, kerjasama dengan biro perjalanan wisata, mengingat Trenggalek dilalui bus pariwisata tujuan Yogyakarta dan Bali. Artinya, sebagai daerah penghubung antarkota, ini bisa dimanfaatkan seperti yang dilakukan Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Kediri misalnya.

Cara berikutnya adalah, memanfaatkan jaringan media social, atau bisa saya bilang ini seperti teori promosi getok-tular. Pemerintah bisa memanfaatkan media sosial dengan miliki akun-akun sosial yang membahas soal wisata. Berikutnya adalah dengan mengunakan cara yang sangat mahal, yaitu dengan menggunakan jasa media televisi. Yang terakhir adalah cara paling murah, dengan tingkat keberhasilan yang cukup tinggi, yaitu pemerintah bisa memanfaatkan jaringan mahasiswa dan masyarakat asal Trenggalek yang berada di luar Trenggalek. Dengan gerakan satu orang Trenggalek, membawa satu orang luar Trenggalek. Dengan itu wisatawan akan naik tajam, dan perputaran ekonomi di Trenggalek akan cepat serta PAD juga akan meningkat.

Untuk tahap selanjutnya pemerintah akan harus membuat festival sepanjang tahun untuk meningkatkan kunjungan wisatawan. Sehingga kunjungan wisatawan tidak hanya saat hari-hari tertentu. Dengan kegiatan festival yang regular pemerintah dan masyarakat juga akan mendapatkan manfaat yang besar. Selain festival, pemerintah juga harus menyiapkan oleh-oleh khas Trenggalek dalam berbagai bentuk. Selain festival dan oleh-oleh, pemerintah Trenggalek juga harus menyiapakan masyarakat yang peduli dengan wisata dan lingkungan. Untuk stakeholder juga harus bisa menjaga  kearifan lokal daerah wisata. Karena dengan kearifan lokal, kita memiliki keunikan tersendiri di dunia pariwisata.