Pertemuan-Imajiner-Petani-d

Menjelang Zuhur cuaca terik. Semilir angin pegunungan yang berhembus mengurangi cucuran keringat Supardan—seorang petani desa. Ia sudah berkemas hendak pulang ketika Samino—seorang penyuluh pertanian–menyapanya dengan ramah. Jadilah mereka berdua berhenti dan duduk-duduk di bawah pohon cengkih di tepi jalan desa. Ngobrol dengan akrab.

Samino mengeluarkan rokok dari dalam jaketnya dan Supardan menuangkan kopi dari teko, sisa bekal yang ia bawa tadi pagi. Mereka begitu akrab dan saling menanyakan kabar juga keadaan keluarga masing-masing. Obrolan mengalir dari mulut mereka ditingkahi suara gemericik aliran sungai pegunungan yang jernih.

Samino adalah penyuluh pertanian yang sudah bertugas hampir 2 tahun di desa itu. Tepatnya ia membawahi 2 desa binaan dengan lebih 10 kelompok tani di dalamnya. Karena sudah menjadi tugasnya, ia dituntut memahami hal-hal teknis pertanian di wilayahnya, baik tanaman pangan, perkebunan, peternakan maupun kehutanan. Ia penyuluh pertanian polivalen, demikian istilahnya.

Seminggu 2 kali ia menyambangi kelompok tani binaannya di lapangan dan selalu ada hal-hal baru yang ia bincangkan dengan petani. Bagi warga desa, Samino sendiri bukanlah orang asing. Ia penduduk desa sebelah dan terbilang sebagai pemuda yang sukses karena bisa mengenyam pendidikan tinggi di kota—bidang pertanian tentunya. Sesuatu yang langka untuk desa saat itu.

Samino sangat mencintai tugasnya. Itu cita-citanya sejak kecil. Menjadi penyuluh pertanian. Sebuah pekerjaan yang menurutnya sangat mulia. Samino menyadari bahwa pertanian merupakan tulang punggung perekonomian daerah seperti Trenggalek ini. Selain untuk mencukupi kebutuhan pangan daerah itu sendiri, pertanian juga menjadi sumber bahan baku industri.

Daerah harus memiliki kemandirian pangan untuk mencukupi kebutuhan sendiri. Sementara beberapa komoditas pertanian yang memiliki daya saing tinggi bisa diekspor keluar daerah. Sebut saja ketela pohon. Trenggalek memiliki surplus produksi yang tinggi. Sementara untuk tanaman pangan yang lain, jagung, kedelai, umbi-umbian, sayuran dan sebagian besar buah-buahan, Trenggalek masih perlu mendatangkannya dari daerah lain. Juga daging dan telur.

Supardan dan Samino bercakap layaknya saudara yang lama tidak berjumpa. Akrab tanpa jarak. Samino tahu hal-hal kecil yang dihadapi Supardan dalam bertani, karena secara rutin ia menyambangi lahan Supardan, melihat tanamannya  atau masalah-masalah yang ada dalam usaha taninya. Dan ia selalu memberi solusi atas persoalan Supardan.

Samino menyadari, dalam membangun pertanian di Trenggalek, perannya sangatlah penting, bahkan menjadi penentu keberhasilan atau sebaliknya, kegagalan pembangunan pertanian. Di benaknya, seperti yang sering ia pelajari atau dapatkan dalam diklat, dalam pembangunan pertanian ada 3 hal utama yang harus dilakukan secara bersama, yaitu kemajuan teknologi serta inovasi, ketepatan kebijakan ekonomi pemerintah dan kelembagaan sosial yang menunjang. Samino tahu hal-hal yang menyangkut on farm ada dalam pundaknya, sementara faktor yang lain merupakan kebijakan pemerintah dan ia tinggal melaksanakan.

Sebagai tenaga yang sejak lama dididik dalam penyuluhan pertanian, ia tahu penyuluh harus mengikuti perkembangan teknologi dan inovasi bidang pertanian. Menyangkut mekanisasi pertanian, pengembangan bibit dan varietas unggul serta berbagai sarana produksi pertanian. Pertanian tidak hanya mengejar peningkatan produksi dan produktivitas, tetapi juga keberlangsungan, kelestarian dan keseimbangan alam.

Karena itu, berbagai metode budidaya pertanian ramah lingkungan dan pembatasan penggunakan bahan-bahan kimia menjadi perhatiannya. Ini bisa dipahami, sebagian besar lahan pertanian Trenggalek adalah lahan pertanian upland, di mana erosi merupakan momok utama kesuburan dan produktivitas lahan. Karena itu, tidak salah bahwa selama ia mengabdi sebagai penyuluh, pola pertanian lahan kering merupakan pola usaha tani yang disarankan di Trenggalek oleh para ahli dan peneliti. Meskipun pertanian lahan basah di daerah lowland tetap harus mendapat perhatian juga, karena menjadi penyangga pangan daerah.

Pola pertanian lahan kering memberi penekanan pada konservasi tanah dan air, baik secara vegetatif maupun sipil teknis. Meski dari hasil penelitian dan aplikasinya, dalam beberapa titik demplot di DAS Brantas, bahwa konservasi vegetatif-lah yang lebih direkomendasikan melalui tanaman penguatan teras utama seperti flemingia, glereside, kaliandra dan sonosiso untuk mencegah erosi, penyediaan hijauan dan perbaikan produktivitas tanah.

Selain pada dasarnya Samino seorang otodidak yang tangguh, adalah suatu keberuntungan ia sangat mencintai pekerjaannya sebagai penyuluh. Kantornya pun sering mengirimnya ke berbagai pelatihan kepenyuluhan. Samino sangat paham bahwa selain kebijakan-kebijakan pemerintah dalam pertanian, teknologi produksi menjadi salah satu faktor kunci pembangunan pertanian. Karena itu, hal-hal teknis harus benar-benar ia pahami. Rekomendasi teknologi produksi ini umumnya, selain ia dapatkan dari penelitian lapangan (on site research), juga berasal dari penelitian-penelitian di perguruan tinggi atau lembaga penelitian pertanian.

Kemajuan pertanian melalui introdusir teknologi pertanian juga ditentukan oleh hubungan interaktif antara Peneliti – Penyuluh – Petani. Samino miris bahwa begitu dalam jurang komunikasi antara penyuluh dan petani. Dalam suatu evaluasi misalnya, didapatkan bahwa perlu lebih dari 6 bulan suatu teknologi pertanian yang direkomendasikan dapat diadopsi oleh petani, meski faktor komunikasi bukan satu-satunya kendala. Dapat dibayangkan apabila lembaga kepenyuluhan terbengkalai, tentu lebih dari itu waktu yang diperlukan.

Sambil menyeruput kopi dan menikmati umbi rebus, Supardan mendengarkan sungguh-sungguh apa yang diceritakan Samino. Ia harus tahu dan mengikuti saran Samino untuk kemajuan pertanian dan peningkatan kesejahteraannya. Sebaliknya, ia juga tidak sungkan menyampaikan permasalahan di lapangan atau memberi masukan dan pendapat.

Samino melanjutkan ceritanya, bahwa idealnya pembangunan sektor pertanian haruslah berjalan melalui 3 tahap pokok, yaitu: pertanian primitif dengan pola usaha tani skala kecil dan subsisten, pola pertanian keluarga campuran dan terdiversifikasi serta usaha pertanian modern yang secara khusus mengarah pada usaha-usaha perdagangan dengan tingkat produktivitas tinggi.

Namun ahli ekonomi pembangunan pertanian dan kawasan perdesaan, Michael P. Todaro, dalam studi intensifnya tentang pembangunan pertanian dan kawasan perdesaan di negara-negara Asia Tenggara, Amerika Selatan dan Afrika, menyarankan bahwa pada wilayah-wilayah tersebut—karena berbagai persoalan jangka pendek dan menengah—nampaknya transisi menuju usaha tani komersial sulit terwujud. Artinya, pembenahan praktik-praktik pertanian campuran berskala kecil dan menengah tidak hanya akan meningkatkan pendapatan dan hasil panen rata-rata, tetapi juga menyerap tenaga kerja yang melimpah. Untuk menyusun strategi pembangunan pertanian yang tepat, pemerintah (daerah) harus mengidentifikasi sumber-sumber pokok kemajuan pertanian dan kondisi-kondisi dasar yang sekiranya akan mempengaruhi pencapaian kemajuan tersebut.

Ada 3 sumber sumber kemajuan pertanian berskala kecil, yaitu kemajuan teknologi dan inovasi, kebijakan ekonomi pemerintah yang tepat dan kelembagaan-kelembagaan sosial yang menunjang. Semua unsur penting ini saling terkait membentuk jalinan hubungan yang kompleks, tetapi harus dikenali untuk merumuskan strategi yang tepat. Kata Samino, teknologi dan inovasi baru bidang pertanian yang utama adalah mekanisasi pertanian dan inovasi biologis, berupa varietas unggul berikut produk-produk kimia penunjangnya. Terutama pupuk dan pestisida serta teknologi produksi.

Yang terakhir inilah yang sering ia rembug bersama petani, yaitu hal-hal yang menyangkut on farm, teknologi produksi. Untuk mendapatkan paket teknologi produksi dan usaha tani yang tepat, diperlukan berkembangnya lembaga penelitian yang baik dan kemudian pembuatan demplot secara masif dan representatif sebelum paket teknologi itu disampaikan kepada petani untuk diadopsi. Tentu disertai dengan kebijakan-kebijakan yang kondusif yang menjadi insentif bagi petani untuk mengadopsi teknologi usaha tani tersebut.

Pengenalan inovasi baru dan teknologi akan berjalan dengan baik bila kebijakan pemerintah dan kelembagaan sosial mendukung. Dalam implementasinya, sering paket-paket kebijakan pemerintah di bidang pertanian bias dalam pelaksanaannya, baik karena petugas yang tidak memiliki komitmen, intervensi politik atau adanya “penumpang gelap” kebijakan. Karena itu setiap program pemerintah harus dikelola secara transparan, adanya penyuluh-penyuluh yang kompeten dan memiliki komitmen yang tinggi serta pemberdayaan petani penerima program.

Mengingat pembangunan pertanian sangat ditentukan oleh petani-petani kecil dengan tingkat pendapatan yang rendah, maka untuk mencapai tujuan pembangunan pertanian dan kawasan perdesaan pada umumnya, diperlukan upaya-upaya untuk meningkatkan pendapatan riil petani dari usaha-usaha non-pertanian melalui penciptaan lapangan kerja non-pertanian, industrialisasi di pedesaan dan peningkatan layanan dasar yang memadai.

(bersambung…)

TINGGALKAN KOMENTAR