Banyu Tritis: Foto Roin J. Vahrudin
Banyu Tritis: Foto Roin J. Vahrudin

Sampai hari ini, yang sudah diawali tahun lalu, cuaca di Trenggalek sedang memasuki masa ngrecih. Bukan hanya di Trenggalek, di daerah lain sama. Masa di mana hujan hampir setiap hari menyambangi bumi, masa di mana tanah-tanah selalu basah seperti rambut temanten baru. Basah dan selalu basah di setiap paginya. Musim ngrecih sebenarnya untuk mengusir masa-masa kemarau. Jika musim kemarau tiba, hampir sebagian tanah di Trenggalek kering kerontang, tanah tandus, sumber air mati dan penduduk bingung mendapatkan air.

Masa kemarau sangat bertolak belakang dengan masa hujan. Ketika musim ngrecih sudah tiba, maka segala akibat dari kemarau tidak lagi kentara. Curah hujan tinggi tanpa diimbangi resapan air memadahi, berakibat tingginya kadar air pada tanah. Sifat tanah di Trenggalek yang subur abyur, mengakibatkan tanah mudah sekali larut dan hanyut terbawa arus. Jika terdengar berita longsor di Trenggalek, bukan merupakan berita baru lagi. Karena sejatinya hal itu sudah masuk dalam hitungan logika. Apalagi dibarengi dengan adanya pembalakan liar pohon-pohon di hutan, semakin jelaslah bahwa bencana di Trenggalek sudah direncanakan tanpa sadar.

Bukan hanya tanah yang berada dilereng-lereng bukit, tanah yang di dataran pun juga terkena imbas musim ngrecih. Sesaat yang lalu, beredar meme-meme kerusakan di beberapa titik jalanan Trenggalek, baik jalan nasional, provinsi maupun jalan daerah. Pengaspalan yang sebelumnya sudah gripis, mudah sekali terkikis hingga dapat membuat warga meringis.

Senada dengan apa yang disampaikan oleh Bupati Trenggalek yang memang sudah ahli dalam teknis pembangunan infrastruktur. Di sela-sela pidatonya pada acara milad Muhammadiyah Trenggalek, ia sempat mengatakan jika memang jalan nasional kranding, sudah jelek dari sononya. Bahwa jalan tidak dibangun sesuai rencana idealnya. Saat terkena gerimis tiap hari, jalan-jalan aspal di situ rapuh: pasir dan semen berlarian, batu methungul memunculkan umpatan warga yang tiap hari punya kepentingan akses jalan di situ. Jancuk. Meme-meme tersebut muncul dalam bentuk sindiran, misalnya menyamakan jalan rusak sama dengan jalanan pada jaman penjajahan. Disertai efek foto tua dan ngeblur. Jalan-jalan tersebut memang terlihat seperti jalan aspal ketika masa romusa sedang digalakkan.

Meme tersebut mengatakan, “Bendorejo tempoe doloe” atau “Jika Anda berhasil melewati jalan ini tanpa kejeglong, berarti Anda telah mengurus SIM dengan benar”. Astaghfirulah. Bisa jadi meme-meme tersebut adalah satir. Namun bisa jadi juga itu adalah bentuk protes warga terhadap fasilitas jalan nasional. Atau malah bentuk protes yang menunjukkan keluguan masyarakat Trenggalek. Coba saja ditanyakan kembali kepada mereka semua? Selama ini apa sudah ikut menjaga jalan-jalan tersebut supaya tetap bagus? Minimal ikut membersihkan drainase selokan, supaya airnya tidak mampat (khususnya jalan yang ada drainase-nya).

Komplekstitas masalah di Trenggalek ini rupa-rupanya sering ditanggapi secara sporadis, baik oleh pemerintah kabupaten maupun masyarakatnya. Setidaknya itulah asumsi saya yang dari lahir juga suka nyinyir. Sinergi berbuah masalah secara bersama ini telah menjadikan tatanan kabupaten kita menjadi semakin runyam. Masyarakat yang sak karepe dewe dalam memperlakukan alam, pemerintah yang mengedepankan ego sektoralnya daripada kerjasama yang baik untuk pembangunan wilayahnya, mengakibatkan kabupaten kita lumpuh. Iya lumpuh, bukan lagi pincang.

Pohon-pohon habis, tebing semakin curam, dan sungai yang semakin dangkal, setidaknya memberikan kelonggaran air untuk membuat semacam gertakan pada para penghuninya. Dengan melorotkan tebing yang telah dikeruk manusia. Maka air tidak lagi menjadi sahabat bagi manusia, air lebih memilih untuk segera melewati manusia dengan cepat lewat banjir, ketimbang bertahan di antara manusia. Dalam persepsi saya, ini adalah air yang lari dan ingin menjauh dari manusia. Pernah terjadi beberapa waktu yang lalu di beberapa lokasi di Kabupaten Trenggalek. Seperti Gandusari, Kampak, Munjungan, Watulimo, dan baru-baru ini terjadi tanah amblas di Panggul.

Ironi memang, di saat seperti ini kita semua tidak menghendaki adanya bencana yang mendatangkan musibah bagi manusia. Namun disisi lain, kita masih saja senang melakukan pencemaran dan pengrusakan terhadap alam. Sisi lain kita berupaya untuk menanggulangi bencana supaya tidak terjadi, namun disisi lain pula kita membuat bencana itu terus terjadi. Pada saat gerimis, tanpa sengaja saya mendapatkan pencerahan secara nyata.

Pada saat itu saya sedang duduk santai di emperan rumah, kemudian terjadilah hujan. Halaman rumah yang saya tempati terbagi menjadi dua bagian, sisi kiri sengaja dibiarkan rimbun oleh tanaman, dan sisi kanan sengaja dibuat tanpa tumbuhan. Ketika air hujan sudah terjadi beberapa menit, intensitas air hujan yang sama mengakibatkan halaman tanpa tumbuhan cepat tergenang. Air mengumpul jadi satu kemudian mencari tempat rendah untuk dialiri. Sedang halaman dengan rimbunan tanaman, airnya terpecah oleh dedaunan, menjadi percikan ketika menyentuh tanah, kemudian air cepat terserap oleh tanah. Intensitas air yang jatuh sama jumlahnya, namun mengakibatkan dua kejadian berbeda pada tempat yang berbeda. Mungkin begitulah perkiraan perlakuan air pada tanah. Jika tanahnya tidak berpenghalang oleh tumbuhan, air akan cepat berlalu menuju lokasi yang lebih rendah. Hasilnya? Ya banjir bandang.