Monday
14 October 2019
Njajah Desa Milang Kori


Hari Sabtu yang (Tidak) Biasa

Saya lahir akhir tahun 1980-an. Jika dikategorikan berdasarkan umur termasuk generasi milenial. Milenial yang mengalami masa-masa senja tape recorder, radio,…

Sebuah Opini dari Gilang Tri Subekti terbit pada 1 Juni 2019 — Tag: , — Artikel ini dibaca normal dalam 4 menit.

Saya lahir akhir tahun 1980-an. Jika dikategorikan berdasarkan umur termasuk generasi milenial. Milenial yang mengalami masa-masa senja tape recorder, radio, tivi tabung dan VCD Player. Kaset tape saya beli dengan tabungan dari uang saku jajan anak SD (tentu saja sebagian kecil dari harga kaset, sebagian besarnya yang nomboki tetap ibu saya) adalah Mighty Morphin Power Rangers dan Saint Saiya. Acara TV dan anime paling fenomenal masa itu. Sebutkan salah satu tokoh protagonisnya, saya hafal betul nama jurus pamungkasnya. Kalau ingatan tentang radio ya tentu saja acara-acara di radio RKPD Trenggalek, suara serak-serak basah dari ceramah-ceramah almarhum Zainuddin M.Z. tiap sore hari jelang Magrib.

Ingatan masa SD jelang tumbangnya Orde Baru tak hanya diisi oleh apa yang saya sebut di atas. Upacara bendera tiap hari Senin yang diisi dengan pembacaan teks Pancasila, Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 dan pembacaan butir-butir Pancasila (kecuali yang terakhir, dua diawal masih dilakukan sampai sekarang) adalah rutinitas tiap minggu yang masih saya ingat. Dimulai pukul 07.00 tepat waktu (saya heran kenapa tiap upacara masyarakat kita bisa ndak molor), tiap-tiap instansi pemerintah mulai dari tingkat paling rendah yang ada di desa sampai kantor-kantor kementerian di Jakarta melakukan seremonial ini.

Jaman Orde Baru, salah satu termometer ukur nasionalisme adalah seberapa banyak Anda tidak bolos upacara bendera hari Senin. Setelah membubarkan seluruh organisasi-organisasi pegawai negeri sipil di masing-masing instansi, kebijakan penting Mayor Jenderal Amir Macmud, mantan menteri dalam negeri, adalah membentuk Korpri, yang salah satu kewajibannya melaksanakan upacara bendera bagi seluruh anggota.

Hari ini hari Sabtu, tanggal 1 Juni 2019, kebetulan tepat hari di mana Pancasila versi Soekarno dipidatokan olehnya. Isinya jelas berbeda dengan apa yang kita tahu sekarang sebagai Pancasila. Saat itu, Soekarno beserta Soepomo (31 Mei) dan Yamin (29 Mei) membacakan pidato yang berisi tentang pandangan mereka atas asas-asas dasar negara dalam sidang Dokuritsu Junbi Cosakai yang pertama.

Materi sidang Dokuritsu Junbi Cosakai yang pertama memang membentuk dasar negara. 1 Juni masa sidang pertama berakhir. Di sela masa sidang pertama ke kedua, dibentuklah Panitia Sembilan, yang tugasnya menyarikan apa yang Soekarno pidatokan pada 1 Juni. Hasil dari Panitia Sembilan adalah Piagam Jakarta, yang sekarang kita kenal dengan Pembukaan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945. Dasar negara kita berada di dalam mukadimah ini.

Perkembangan selanjutnya bisa Anda cari di internet, tentang pembentukan Dokuritsu Junbi Iinkai, dekrit presiden 1959, sampai pada Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila. Tentang pembentukan asas tunggal dan politisasi dasar negara oleh yang mulia Soeharto beserta kroni-kroninya. Bagaimana pemikiran dan ideologi yang dianggap dan dituduh anti Pancasila, menggunakan legitimasi Pancasila, diberangus dan dituduh subversif. Pancasila (5) yang kata Soekarno bisa diringkas menjadi ekasila(1): gotong-royong, pada masa itu tercerabut dari akar filosofisnya.

Hari ini hari sabtu, tanggal 1 Juni 2019, atas penetapan presiden Republik Indonesia Joko Widodo pada tahun 2016, kita memperingati hari lahirnya Pancasila. 1 Juni yang sebelumnya menjadi tanggal biasa dan hari biasa seperti hari-hari lainnya, menjadi sangat sakral nan magis. Kepadanya wajib kita menyelenggarakan upacara peringatan yang sebelumnya tidak ada. Meme-meme tentang “kesaktian” Pancasila bertebaran. Ucapan dan, meminjam istilah dari isi pidato kepala BPIP hari ini, politik harapan, digaungkan.

Nasionalisme kita seakan-akan kembali membuncah, diperbarui, direproduksi, dibangunkan kembali. Saat bendera merah putih berkibar dan lagu indonesia raya dinyanyikan, kita seperti tentara yang baru saja memenangkan perang melawan penjajah mempertahan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pagi tadi saya merasakan sensasi rasa ini. Tak beda jauh dengan saat sang merah putih dikibarkan di tiap upacara tanggal 17 Agustus.

Politik harapan (istilah keren dari kepala BPIP) memang sangat perlu dan penting di tengah negara kita yang terpolarisasi atas isu-isu sektarian, agama dan politik praktis akhir-akhir ini. Politik harapan tentu saja berdasar atas romantisasi-romantisasi sejarah masa lalu, yang di isi pidato hari ini, menggunakan keragaman atas kehidupan sosiologis dan antropologis masyarakat Indonesia serta kemajemukan flora dan fauna yang ada di Indonesia. Glorifikasinya sama cuma beda bentuk. Apakah ini penting dan perlu, kita bisa berdebat panjang soal ini. Semua yang baik tentu saja perlu.

Sebenarnya, yang paling ciamik dari isi pidato kepala BPIP adalah kesadaran atas keberagaman. Porsinya sangat kecil, hanya 2 paragraf kalau tidak salah, dan berada di akhir pidato. Tapi menurut hemat saya, yang lagi-lagi kepala BPIP menelurkan istilah keren, “taman sari kebudayaan” adalah bentuk final dari Indonesia yang beragam. Menjadi Indonesia bukan tentang menjadi sama (satu) tapi menjadi berbeda-beda.

Hari ini hari Sabtu, tanggal 1 Juni 2019. Upacara bendera telah diselenggarakan di tiap penjuru tanah air Indonesia memperingati hari lahir Pancasila. Saya tentu saja mendukung upaya pemerintah memperingati hari ini dengan menyelenggarakan dan mengikuti upacara. Karena bangsa kita adalah bangsa pelupa. Berapa ratus atau bahkan ribuan penindasan atas rakyat yang berpotensi kita lupakan jika tidak ada tugu (tanggal) peringatan. Tragedi Trisakti, penembakan almarhum Munir, Tragedi Semanggi, Tragedi Talangsari, Wiji Tukul, Marsinah, petani Kendeng, petani Tumpang Pitu dan sebagai dan seterusnya.

Bisa jadi bilamana tanggal 17 Agustus tak diperingati, kita akan lupa tanggal itu adalah tanggal proklamasi kemerdekaan Indonesia. Saudara saya yang bekerja di Papua juga memikirkan hal yang sama. Repot-repot membawa baju batik Korpri pulang agar bisa upacara di kampung halaman. Di pikiran dia yang coba saya baca, upacara memang penting, karenanya perlu diusahakan untuk diikuti. walaupun itu saya yakin betul, bukan alasan utamanya.

Tetapi menjadikan hari ini tetap menjadi hari Sabtu saya rasa jauh lebih penting. Alasannya adalah bangsa yang beradab, masyarakat sipil yang sejahtera, berkeadilan sosial dan peradaban yang maju tak perlu lagi mengingat-ingat tanggal. Semua itu telah menjadi kebiasaan dan laku masyarakat. Kita tak perlu lagi mengingat sila kelima, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, jika hukum ditegakkan tidak pandang kubu.

Kita tidak perlu mengingat ketuhanan yang maha esa jika tiap-tiap warga negara dijamin, DIJAMIN memeluk agama sesuai keyakinan yang mereka yakini. Kita tidak perlu mengingat persatuan Indonesia, jika rasa nasionalisme tidak lagi didasarkan pada heroisme dan romantisme sejarah masa lalu. Nilai-nilai luhur Pancasila akan terpatri dan menjadi pikiran alam bawah sadar seluruh masyarakat Indonesia. Saat Indonesia menjadi bangsa yang kita bayangkan ini, maka tepat slogan yang baru saja pagi ini saya dengar disematkan.

Kita Indonesia, Kita Pancasila

TINGGALKAN KOMENTAR