Saat hujan turun, masyarakat diliputi perasaan was-was dan cemas tapi juga waspada. Sebab hujan sering menimbulkan banjir dan tanah longsor. Tanah longsor melanda hampir merata di beberapa daerah. Banjir bandang yang disertai tanah longsor terjadi karena tanah sudah gempur dan tak bisa menahan air. Lahan hutan juga mulai habis digunduli. Dan masih banyak penyebab lainnya.

Sementara banjir terjadi karena sungai yang menampung curah air hujan dari hulu ke hilir tak mampu dialirkan dengan baik. Air seharusnya mengalir lewat anak sungai, meluap ke daratan (pemukiman). Banjir pun jadi cerita dan berita, bahkan di kawasan yang bukan langganan banjir.

Membincangkan banjir tak lagi milik Jakarta atau kota-kota besar lain. Kata banjir juga akrab di lidah orang yang hidup di pinggiran kota, termasuk di daerah yang secara geografis terbilang terletak di daerah dataran tinggi seperti Trenggalek. Kenyataannya, daerah tinggi yang seharusnya menjadi pencegah banjir atau longsor, malah tak mampu menahan curah hujan yang cukup tinggi juga. Trenggalek menjadi kawasan berlabel “waspada” banjir.

Trenggalek yang memiliki lanskap pegunungan yang membentang—beberapa wilayah berada di dataran tinggi—harusnya menjadi kawasan tanggap bencana dan menjadi hutan lindung. Hutan yang seharusnya ditanami tumbuhan jangka panjang: pohon-pohon besar dengan akar yang kokoh atau tumbuhan konservasi, yang berfungsi sebagai penyerap air, malah tak berfungsi. Tak heran kalau Trenggalek kini sering koyak olah banjir, tanah longsor dan  tanah retak pula.

Misalnya saja longsor yang berada di jalur Trenggalek-Ponorogo. Banjir pada 12 November 2016 tahun kemarin, juga menggenang kawasan di 4 Kecamatan, yakni kecamatan Kampak, Gandusari, Watulimo dan Munjungan. Hal itu terjadi lantaran sungai besar tak mampu menahan besarnya air yang melintas di masing-masing kecamatan. Dan masih banyak lagi cerita dan berita tentang Trenggalek dan banjir.

Banjir ataupun tanah longsor yang telah terjadi menyisakan tumpukan-tumpukan kayu maupun tumbuhan lain, seperti nampak glondongan kayu tersapu oleh banjir di depan pabrik gondorukem beberapa bulan yang lalu. Banjir tersebut mengisyaratkan bahwa manusia tak mengindahkan pohon-pohon yang seharusnya menjadi tanaman jangka panjang, sebagai penahan erosi.

Tetapi kota semakin tumbuh modern. Kabupaten Trenggalek pun juga mengikuti kemajuan supaya tidak tertinggal dan terhinggap dengan kejumudan kota, maka Trenggalek mau tidak mau juga mengikuti perkembangan kota-kota besar di Indonesia. Tumbuhnya pohon pun wajib memenuhi kaidah arsitektur berbasis kota hijau. Banyak yang berdalih pohon, dahan dan ranting yang bandel mesti dipatuhkan. Pohon hanya punya hak hidup di tempat yang telah ditentukan. Pohon-pohon mesti berbaris rapi di pinggir-pinggir atau tengah jalan. Pun tak sembarang pohon boleh tumbuh di sana. Pohon-pohon hidup sejahtera di sudut-sudut berlabel ruang terbuka hijau, hutan kota, atau taman kota.

Pohon-pohon habis dibabat oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab, yang memikirkan kepentingan dan keuntungan pribadi. Mereka tak mengindahkan kehidupan ekosistem di sekitarnya, termasuk dampak yang bakal dialami manusia sendiri. Oleh karena penebangan berdalih pertumbuhan ekonomi akan berdampak pada pengorbanan dan kerusakan lingkungan. Sejenak kita bernostalgia dengan wajah ganteng Leonardo DiCaprio, bolehlah kita mendengarkan dengan takzim pidato kemenangannya di penghargaan film bergengsi Academy Awards 2016. “Perubahan iklim nyata dan sedang terjadi. Jangan sia-siakan bumi [dengan menebangi pohon-pohon]” (Solopos, 1 Maret 2016).

Saat pemerintahan Soetran yang memperkenalkan penanaman pohon cengkih di beberapa wilayah Trenggalek sangat terasa dampaknya hingga saat ini bahkan ke depannya nanti. Kita bisa lihat lahan perbukitan, terutama di wilayah saya, banyak bukit dan hutan disulap dan diolah jadi lahan pertanian. Tetapi pohon-pohon besar dengan usia panjang telah habis ditebang, diganti oleh tanaman-tanaman berkomoditas.

Adanya cengkih, secara ekonomi beberapa wilayah Kabupaten Gaplek ini lumayan memperbaiki kondisi masyarakat. Bahkan beberapa orang mampu menunaikan rukun Islam ke lima dari hasil sektor pertanian. Tetapi perlu diketahui,  pohon cengkih bukan tanaman jangka panjang, melainkan tanaman komoditas. Kita juga perlu menanam pohon-pohon yang mampu menahan air. Karena hutan dan pohon adalah paru-paru dunia. Hutan dan pohon adalah penyuplai tumbuhan yang menyediakan oksigen yang kita hirup setiap hari. Hutan dan pohon adalah menyangkal banjir banding dan tanah longsor.

Seharusnya masyarakat peduli dengan keseimbangan ekologi hutan. Kenangan tentang pohon melesatkan diri ke lanskap hutan-hutan hijau lebat menyejukkan, seketika mengajak pikiran untuk menggunakan mata kesadaran ekologis. Pohon berprofesi paling mulia menjaga kelangsungan hidup sekalian makhluk bumi. Penyedia udara, pengurai polusi. Kenangan segera diburamkan oleh penebangan besar-besaran terhadap pohon yang terjadi di berbagai belahan dunia.

Namun, kenyataan di lapangan, kesadaran untuk mempedulikan kehijauan hutan masih rendah. Kita sering mengesampingkan kestabilan ekosistem hutan dan tumbuhan. Manusia sering meremehkan dan mengotori saluran aliran atau sungai. Banyak yang membuang sampah di sungai tanpa berpikir dampak di kemudian hari.

Sudah sewajarnya di desa-desa (termasuk di Kabupaten Trenggalek) keberadaan pohonan dalam kota adalah persenyawaan tak terpisahkan. Sebab, di kota-kota besar, rumah-rumah sering berhimpitan tidak menyisakan ruang untuk tumbuhnya pohon-pohon. Apakah Trenggalek makin hari makin melenyapkan pohon yang akibatnya banjir menggenang rumah-rumah warga? Lalu kenapa banjir sering menggenang wilayah perkotaan Trenggalek? Tentu tak ada yang mau banjir menghantui setiap hari dan merenggut waktu istirahat kita.