bioskop-trenggalek
Ilustrasi Bioskop Trenggalek

Sudah mencoba bioskop baru di Trenggalek? Saya sempat mencobanya. Bioskop baru ini berada di komplek Utama Sport Center (USC), Jalan Mayjen Sungkono 78, Trenggalek. Saya sengaja mencoba nonton bioskop NSC saat soft opening pada 31 Agustus 2018, tepat di hari jadi Trenggalek. Anggap saja bioskop ini hadiah di hari jadi Trenggalek ke 824.

Bioskop di Trenggalek adalah bioskop yang berada di dalam jaringan NSC atau New Star Cineplex. Setelah tahun 2010 bisnis perfilm-an mulai berkembang, ditandai dengan dicabutnya industri film dari daftar hitam investasi pemerintah di tahun 2015. Selain NSC, setidaknya ada 3 jaringan bioskop besar di Indonesia seperti 21 Cineplex, CGV, & Platinum Cineplex serta beberapa bioskop kecil di kota-kota kecil di Indonesia.

Kembali ke soal bioskop baru di Trenggalek, yang sudah sangat ditunggu-tunggu anak milennial Trenggalek, mewakil generasi milennial yang haus akan hiburan. Biasanya kami harus jauh-jauh ke Tulungagung hanya buat nonton. Padahal sampai sana ketemunya juga dengan orang-orang Trenggalek lagi. Karena saya datang saat soft opening di hari Jumat, saya harus bayar tiket seharga Rp. 35.000 per orang. Harga tiket hari Senin-Rabu Rp. 30.000; Kamis-Jumat Rp 35.000 dan sabtu minggu Rp. 40.000. Hari itu saya kebetulan mengajak Puput, seorang creator film & pengajar di IKJ untuk merasakan sensasi nonton di Trenggalek.

Kami berminat nonton Wiro Sableng untuk merasakan sensasi nonton film Indonesia dengan rasa Hollywood  di bioskop baru.  Begitu masuk, saya parkir sepeda motor dengan Rp. 2.000, kemudian beli tiket seharga Rp. 35.000. Eiits… jangan bilang mahal dulu, harga segitu kita dapat voucher sebesar Rp.5.000 yang bisa ditukarkan air mineral 600 ml atau popcron ukuran kecil.

Jika kita nonton di luar Trenggalek dengan harga tiket sama, kita tidak dapat air mineral atau popcorn. Kalaupun kita beli paket minuman & popcorn itu seharga Rp.15.000- Rp.25.000, tergantung bioskop & kotanya.  Karena bersamaan waktunya dengan soft opening, jadi kita nonton bareng para pejabat: ketemu dengan Bupati Emil & Wabup Arifin. Dan karena opening, jadi pihak NSC bagi-bagi  dorprize mulai jam dinding hingga smartphone.

Sebelum masuk studio, seperti biasa harus ke toilet dulu. Nah di sini karena memang mengejar soft opening toilet laki-laki belum siap 100%; pintu kamar mandi tidak bisa di tutup karena daun pintu ukuranya melebihi kusen & sekat antar-toilet. Semoga besok segera diperbaiki. Kami masuk ke studio 2 kalau tidak salah, duduk di deret A kursi nomor 8 & 9. Karena  masih baru, kursi terasa sangat empuk, kemudian sandaran kepala tinggi, jadi sangat nyaman. Kursi di NSC Trenggalek juara menurut saya.

Setelah acara seremonial pidato & bagi-bagi hadiah, mulailah kami nonton Wiro Sableng. Sebelum masuk film, ada beberapa iklan layanan masyarakat, kami sempat pesimis karena di salah satu iklan tersebut gambar pecah. Sepertinya operator salah download format & ukuran videonya, setelah iklan layanan masyarakat mulailah dengan suara khas sound system dolby, kalau tidak salah bioskop ini menggunkan seri 5.1. Sudah lebih dari cukup untuk Trenggalek & untuk layar memang masih terlihat kain. Ukuran layar juga lumayan besar jika dibanding dengan layar bioskop kota sebelah.

Tapi ada beberapa momen yang cukup mengganggu saat menonton, seperti ada penonton yang sepertinya  undangan tidak duduk di kursi, tetapi duduk di jalan. Kemudian penonton yang merekam film dan lampu studio yang menyala saat film masih kurang 10 menit sebelum credit title muncul.

Pengalaman nonton film di Trenggalek memang terasa lain. Karena tidak bisa dibandingkan dengan jaringan bioskop yang lain, bagi saya bioskop NSC ini lebih dari cukup untuk masyarakat Trenggalek. Saya sangat mengapresiasi pemilik & investor yang berani membuka bioskop di Trenggalek. Mungkin saya mau nonton lagi di sana jika pulang ke Trenggalek lagi. Sepertinya film Crazy Rich Asia menjadi film yang menarik ditonton di bioskop ini. Harapan saya sih semoga bioskop ini sekali waktu memutar film produksi anak-anak Trenggalek, sebagai bagian dari CSR usaha bioskop.

TINGGALKAN KOMENTAR