Monday
18 November 2019
Njajah Desa Milang Kori


Sri Durung Bali

Sri di kota asyik dengan pekerjaan mapan yang diharapkan orang sekelilingnya waktu di desa, meskipun hal itu jauh dari kebahagiaan sederhana bapaknya.

Sebuah CERPEN Feature dari Dian Meiningtias terbit pada 19 Oktober 2019 — Tag: , , — Artikel ini dibaca normal dalam 4 menit.

Mereka yang tabah justru mereka yang sering menangis. Namun wujudnya tidak untuk tampak; Mereka menyimpan rapat dengan penampilan upaya, lalu menumpahkan resah dalam hati mereka. Menangis dalam pendefinisian tabah adalah kekuatan untuk menyentuh kelemahan diri bahwa sekuat-kuatnya manusia; mereka lemah di bawah kuasa Pencipta. Dan yang tampak dari mereka adalah terus berusaha.

Dian Meiningtias

Sepintas, tak ada yang salah dengan diriku, orang tuaku, kerabatku, pun lingkungan tempat tinggalku. Biar aku perinci cerita ini menjadi sesuatu kisah yang mudah dipahami, tentang aku, diriku, posisiku dan aktivitasku.

Semula aku meyakini bahwa aku bukan sebatas diriku, aku adalah realitas jamak di mana segala hal tentang kebertubuhanku adalah doa-doa yang hadir dalam gelombang elektro lalu mewujud dalam kesemestaanku. Dan menjadi individu utuh yang melebur menjadi komunitas besar bernama masyarakat. Hal yang tidak bisa kita lepaskan adalah dimensi ruang di mana kita tinggal. Tumbuh dan besar di desa menjadikan diriku apa adanya; aku sendiri pun lumayan sederhana dalam memandang segala. Karena yang aku bisa cuma hal biasa dan yang aku punya juga adalah sesuatu yang sederhana.

***

Dari kejauhan, kulihat bapak pulang dari ladang dengan membawa pakan ternak. Nampak darinya keringat membasahi pakaian kusam yang ia kenakan. Bercucuran pula keringat dari kening hingga pelipis, membuat raut wajahnya nampak semakin kelelahan sekalipun dia biasa-biasa saja. Bapak tidak sendiri, menjadi petani adalah realitas dalam lingkungan kami dan wajah yang ditampilkannya adalah potret sekeliling masyarakat desa ini.

Bapak adalah salah satu dari sekian orang bergaris keturunan petani desa yang hidupnya biasa saja. Tapi menjadi petani adalah keputusan yang dia pilih dengan rasa senang. Bapak mencintai pekerjaan ini. Mungkin di tempat lain, ada petani berhasil yang hidupnya berkecukupan. Bapak tidak terlalu mempersoalkan. Dia bekerja karena ia suka. Maka jangan sebut hidup sederhana orang-orang seperti bapak dengan perilaku kurang piknik, seluruh kehidupan yang dilakukan  dengan rasa senang adalah liburan itu sendiri.

Wes wayah ngasaran, Sri. Wedhus durung dipakani”, lanjutnya sambil meletakkan pakan kambing lalu memangilku untuk membantu.

Panjenengan tilar, Pak,” jawabku mengambil posisi siap membantu memberi pakan. Nampak tergesa Bapak meletakkan pakan, mengambil waktu untuk mandi dan sembahyang.

Namaku Sri; bersama Sri-Sri yang lain, nama kami adalah gelar kemuliaan. Sementara dalam keluarga petani, nama Sri diambil dari Dewi Kesuburan; Dewi Sri—Dewi Padi. Tentu nama kami adalah doa bagi rentetan panjang hajad hidup dan cita-cita. Maka mempunyai anak perempuan dinamai Sri adalah sebuah peneguh harapan lewat anugerah kelahiran, harapan akan kesejahteraan.

Tapi apa keluarga kami keluarga yang sejahtera? Keluarga kami adalah keluarga yang bahagia.

***

Najan asile Bapakmu ora okeh dadi wong tani, tapi penggawean iki halal. Dadi hasil saka tani lek kanggo nyekolahne anak moga ilmune isa mbarokahi, isa manfaati. Aja lali ndonga kelancaran ya Sri, sekolahmu ya sing tenan”, ungkap ibuku, saat aku pamit untuk meneruskan sekolah tingkat atas di salah satu Perguruan Tinggi di kabupaten.

Sebagai pekerjaan turun temurun dan menjadi mata pencaharian mayoritas penduduk desa,  menjadi petani sukses adalah cita-cita. Sudahkah Kalian dengar orang punya cita-cita jadi petani? Atau pendefinisian petani sukses itu bagaimana? Jangan terbahak mendengar cita-cita itu. Itu cita-cita bapak dan orang-orang di desa kami. Mereka ingin menjadi petani. Sukses adalah bonusnya.

Tapi berapa banyak petani sukses yang Kalian temui hari ini? Bahkan ada yang bilang menjadi petani itu sebuah kesialan apabila mahalnya kehidupan tak bisa ditukar dengan hasil tanam di ladang. Tapi cita-cita bapak dan beberapa orang di desaku adalah petani. Bahkan sekalipun dianggap sebelah mata dalam tataran profesi oleh orang lain, bapak memilih menjadi petani, kalau bisa jadi petani sukses. Menjadi petani adalah ikrar bapak untuk terus merawat ladang peninggalan bahkan membeli lahan baru sebagai tabungan. Sementara menanam, merawat dan memanen adalah kehidupan sendiri baginya. Ada siklus pembelajaran yang bisa diambil setiap waktu sebagai laku petani bagi Bapak, untuk menanen hasil orang perlu terlebih dahulu menanam, dan untuk mendapat hasil terbaik orang perlu merawat.

Ibu, kenapa dulu mau menikah dengan bapak?”, Tanya kakak sulungku pada sebuah pagi di dapur. Sambil tersenyum kecil ibu menjawab dengan bahagia, “ Selain ibadahe apik, bapakmu ya tani”. Sebuah jawaban yang menasbihkan bahwa tani berindikasi giat dalam bekerja. Sehingga keyakinannya tumbuh bersama sifat yang dibawanya.

Di desa, tidak sulit orang menemukan petani dengan lahan garap luas. Namun orang akan kesulitan menemukan hasil pertanian bagus sepanjang tahun karena cuaca. Sulitnya mendapat pupuk, pun harga jual panen yang rendah. Tapi orang di desa yang bahagia sekalipun tidak dilabeli sejahtera, mereka tetap hidup cukup. Sekalipun penghasilan tidak pasti, tentu karena mereka bertani. Ada ilmu ikhlas yang telah dimiliki para petani dalam menjalani pekerjaan ini.

Sebuah cangkupan mendalam bahwa menjadi petani bukan sebatas dedikasi mewujudkan pangan keluarga ataupun menumbuhkan swasembada pangan bagi negara. Tetapi rasa cinta pada kegiatan menabur benih kehidupan, merawatnya dengan kasih dan melihatnya tumbuh menjadi tanaman. Bukan tanpa keahlian lain, tapi kegiatan turun-temurun yang diwariskan nenek moyang desa kami telah menempa mereka menjadi ahli. Pun rasa suka atas kebiasaan yang tidak mudah hilang karena mereka mengilhami.

***

Selepas lulus sekolah, aku putuskan pulang kampung karena rindu lingkungan kecilku. Selain rindu pada kebiasaan keluarga, kuambil jeda atas rutinitas mengejar waktu dalam rapor akademis. Sebuah upaya meredam jenuh yang mampir dalam kepala. Maka aku ingin melihat kehidupan di luar kehidupanku, aku ingin melihat tanaman di ladang. Membantu orang rumah dengan ikut ke ladang menyiangi padi juga mencari pakan ternak untuk dibawa pulang sore hari.

Namun hari ini, saat kebutuhan hidup semakin meningkat dan standar hidup sedemikian tinggi, orang-orang mengkonstruksi bekerja sebagai sesuatu yang menghasilkan rupiah semata. Dan semenjak lulus sekolah, pekerjaan harian yang aku kerjakan dalam membantu keluarga di lingkungan desa hanya melabeli diriku dengan nama pengangguran. Sementara bagi orang tua, bekerja sebagai petani dianggap sebagai pekerjaan juga. Memang tidak ada keharusan kerja tani harus berpakaian rapi serta tidak ada jaminan kerja ini tersengat terik matahari. Tapi, apa orang berpendidikan tidak diperbolehkan bertani? Apa bertani itu bukan suatu kegagalan? Yang ada “cuma tidak sejahtera,” katanya .

Maka yang aku temui di lingkungan sekitarku hari ini, cara berpikir yang jauh dari cita-cita bapakku. Menjadi petani bukan cita-cita masyarakat kita, sekalipun wilayah negara subur dan iklim tropis menjanjikan produksi hasil pertanian. Menjadi petani tidak mengindikasi keberhasilan bagi pandangan sekitar. Bahkan saat kau menjadi manusia merdeka, menjadi petani kerap dilihat sebelah mata. Menjadi petani di tengah masyarakat kita hari ini bukan sebuah pencapaian. Maka siapa yang sebenarnya yang memutus rantai minat generasi kami terhadap kegiatan bertani? Kita semua yang menggantungkan segala hal atas nama kesejahteran, namun nyatanya kesejahteraan itu menjadi relatif atas dasar kebahagiaan.

“Mau ke mana Sri, kok terlihat sibuk wira-wiri?” tanya Joko, tetangga rumahku.

“Persiapan pemberkasan mau ke kota, Jok.”, jawabku dengan gembira.

“Oalah, sudah dapat kerja rupanya, Selamat ya,” ucap Joko, sepertinya ikut bahagia.

***

Waktu berjalan. Sri di kota asyik dengan pekerjaan mapan yang diharapkan orang sekelilingnya waktu di desa, meskipun hal itu jauh dari kebahagiaan sederhana bapaknya. Kini dia sering berkirim uang, meskipun dia jarang pulang. Semoga Sri mulia seperti nama yang diharapkan orangtuanya.

Tulisan persembahan untuk Hari Tani Nasional pada 24 September dan Hari Pangan Nasional pada 16 Oktober. Selamat menjadi bagian dari agen kesejahteraan rakyat Indonesia dan semoga mendapat kesejahteraan bagi kehidupan sebagai rakyat Indonesia.

TINGGALKAN KOMENTAR