Saturday, September 21, 2019
njajah desa milang kori


J(el)ajah Pule-Panggul, Menghitung Cagar Budaya

Trigus bersama istrinya datang ke Tugu tepat jam 8 pagi, sesuai janji kami malam harinya, ketika saya baru saja selesai…

By Misbahus Surur , in Feature , at 14 Januari 2019 Tag: , , , ,


Trigus bersama istrinya datang ke Tugu tepat jam 8 pagi, sesuai janji kami malam harinya, ketika saya baru saja selesai mandi. Sembari menunggu Ima selesai beres-beres, saya ajak keduanya sekalian sarapan. Bersama beberapa kawan, pagi itu kami berencana menyusuri desa-desa lagi. Sudah cukup lama tidak melakukannya. Kali ini tujuannya Panggul, melalui Pule kemudian tembus Dongko sebagai rute pulang. Kami berangkat lewat Pasar Gondang, Tugu, menuju Desa Ngepeh berlanjut ke rumah Ajar Shidiq di Jombok, Pule. Nanti Ajar yang bakal jadi juru penunjuk jalan.

Sesampai di rumah Ajar, gantian kami yang menunggu Doni dan Amrul. Kami sudah tiba di rumah Ajar sejak jam 09.30, menunggu Amrul dan Doni yang menyusul kira-kira pukul 11.30. Sesudah kami ngobrol ke sana kemari dengan Ajar berserta keluarga, silaturahim di rumah Ajar dipungkasi dengan acara makan bersama. Oh ya, rumah Ajar terletek di lereng perbukitan dengan pemandangan sawah dan baris pegunungan di depannya. Rasanya nyaman sekali tinggal di lereng pegunungan berhawa sejuk begini.

Tadi sembari menunggu rombongan yang menyusul, Ajar menawari saya melihat Watu Gurit, sebuah lempeng batu yang—meski kini sudah aus—konon pada permukaannya pernah tergurat tulisan Jawa kuno. Batu gurit ini tentu bisa menjadi bahan menguak sejarah Desa Jombok, dan Trenggalek umumnya. Batu ini sudah pernah ditranskrip oleh arkeolog yang datang ke sana. Tandanya di belakang lempengan, sebagaimana telah ditunjukkan Ajar dan saya juga sempat memeriksanya, masih ada bekas nomor inskripsi. Tapi kami tidak sempat lagi mampir ke Gunung Jompong di Desa Sukokidul, lokasi cagar budaya situs Gunung Jompong berupa serakan batu-batu selinder semacam di Gunung Padang.

Njajah desa rame-rame

Tepat jam 12.00, kami memulai perjalanan dari Pule dengan start rumah Ajar di Jombok. Karena menimbang waktu yang agak kesiangan, kami sempat ingin potong kompas dari Pule langsung menuju Dongko, lalu ke Cakul. Tapi, malah meneruskan rute yang sudah kami susun semalam.

Ber-tuju kami bergerak ke arah simpang lima Kasrepan, Jombok, lalu mengambil arah barat. Menyusuri desa-desa di Kecamatan Pule bagian barat menuju selatan, mengarah ke wilayah Panggul bagian utara. Kami menggunakan lima motor: tiga orang bermotor sendirian, sementara dua lainnya berboncengan, saling menyalip dan mendahului secara silih berganti. Nanti kami berhenti di pertigaan Desa Tangkil, Panggul, salah satu desa yang terletak di ketinggian. Dan turun ke arah selatan melewati desa-desa di Panggul bagian tengah. Sekira setengah jam kemudian, kami sudah berada di Desa Bodag, tepatnya di rumah bersejarah bekas peninggalan Panglima Soedirman sewaktu bergerilya di masa agresi militer Belanda.

Dari kiri: Ajar, Trigus, Surur, Doni, Amrul dengan latar belakang rumah singgah Panglima Soedirman saat gerilya
Peta rute gerilya Panglima Soedirman yang terpampang di rumah petilasan

***

Dalam jelajah kali ini saya ingin memberi catatan ihwal dua hal: pertama perihal letak desa-desa dan permukiman penduduk di Trenggalek serta bagaimana mayoritas penduduk Trenggalek tinggal. Kedua, ihwal bangunan dan benda cagar budaya yang tersebar di Trenggalek, lebih khusus di Pule dan di Panggul, yang mungkin tidak terdapat di kecamatan lain.

Kita tahu, permukiman-permukiman penduduk Trenggalek jamak berada di lereng-lereng pegunungan. Keberadaan desa-desa tersembunyi dari penglihatan para pendatang, yang bertebaran di kaki-kaki bukit atau di lembah-lembah pegunungan ini menjadi karakter desa-desa di Trenggalek. Tanpa keberadaan desa-desa tersebut, niscaya kota kecil—yang sudah akrab dengan kebupaten nggunung—ini tidak menyakinkan adanya. Kalau kita lihat dari atas, misal dari google map atau langsung dari desa-desa di bagian atas, kita akan merasakan situasi Trenggalek yang berbeda.

Di masa ketika jumlah penduduk masih minim, misalnya pada abad ke 18 atau abad ke 19, kemungkinan Trenggalek masih menjadi semacam daerah perlintasan. Bukan wilayah pusat kota urban. Saat itu, Trenggalek masih menjadi bagian dari kota-kota besar lain yang berada di bagian barat atau timurnya. Seperti ketika masih menjadi bagian dari wilayah Ponorogo (masa Wengker, atau Mancanegera Wetan di masa Mataram, atau zaman Residen Madiun) atau menjadi bagian Kediri (Daha, maupun zaman Residen Kediri) atau bahkan saat digabungkan dengan Kabupaten Ngrowo (Tulungagung).

Bagi orang-orang Trenggalek di bawah sana, yakni mereka yang bermukim di dataran rendah, seperti di Kecamatan Trenggalek, Karangan, Pogalan, Durenan, ketika melihat permukiman di atas gunung dan di lereng-lereng perbukitan, pada saat mereka naik ke Panggul, Pule, Bendungan, Dongko, Kampak, Munjungan juga ke Watulimo, khususnya di wilayah-wilayah bagian atas, mungkin mereka masih merasa “terheran-heran”, melihat rumah/permukiman di wilayah atas.

Bagi orang luar Trenggalek yang mengunjungi kabupaten ini, sikap terheran-heran begitu bisa dimaklumi, namun rasa heran bagi masyarakat Trenggalek jadi semacam anggapan bahwa nrutus nggalek e kurang adoh… Bukan-kah dari jumlah 14 kecamatan, mayoritas memang berada di dataran tinggi (wilayah perbukitan-pegunungan)? Sebagian kecil saja, kira-kira hitungan kasarnya 6 kecamatan, yang berada di wilayah dataran rendah.

Jadi, perlu juga kita sering-sering naik ke atas, memasuki kampung-kampung di wilayah Panggul, Dongko, Pule, Bendungan, Watulimo dan Munjungan. Biar mengetahui lokasi dan desa-desa Trenggalek bagian atas secara lebih dekat. Bagaimana masyarakat di kecamatan-kecamatan tersebut membuat rumah di lereng-lereng bukit (tanah-tanah miring) dan bagaimana pula mereka berinteraksi dengan sesama warga kampungnya. Bertetangga dengan rumah di atas dan di bawahnya. Atau melihat bagaimana mereka hidup sehari-hari, dengan posisi permukiman di atas maupun di bawah jalan. Begitu pula, bagaimana kesiap-siaga-an mereka bertetangga dengan mara bahaya seperti longsor, tanah bergerak juga kerepotan air saat tiba musim kemarau.

Selain sebagian mengulari lereng gunung, jalur Pule-Panggul ini juga berada pada lintasan di atas ketinggian: di puncak bukit dan gunung. Sementara di sisi kanan dan kirinya, penduduk membuat rumah-rumah. Jalan di desa-desa bagian atas ini tentu jarang yang mendatar dan lurus. Rata-rata posisi jalanan turun naik dan berkelok. Banyak jalan berbentuk leter s atau zig-zag, dengan turunan curam atau naik menanjak. Dan saat musim hujan, jalanan sering diselimuti kabut tebal.

Cagar budaya di Kecamatan Panggul

Kedua, Panggul adalah wilayah unik di Trenggalek karena faktor masyarakat dan tinggalan historisnya, khususnya masa kolonial. Di Panggul setidaknya masih ada 4 bangunan cagar budaya yang lestari sampai kini meski kondisinya kurang terawat. Di antaranya, bekas kantor kawedanan, bekas dapur kantor wedana, bekas penjara kecil yang terletak di depan kantor wedana, juga cagar budaya bekas rumah tinggal Jenderal Soedirman sewaktu gerilya dan menginap di Desa Bodag. Tiga rumah cagar budaya yang awal semuanya terletak di selatan kantor Kecamatan Panggul. Meski dua bangunan paling belakang, bagian dinding dan atapnya sudah rapuh dan hendak runtuh. Oh ya, masih ada tempat penginapan wedana di sebelah selatan kecamatan, yang kini difungsikan sebagai Balai Rakyat.

Cagar budaya di Kecamatan Panggul

Panggul adalah wilayah bersejarah di Trenggalek. Kota yang membangun desa-desa di kawasan pegunungan selatan. Di masa lalu, Panggul punya ikatan yang kuat dengan wilayah Pacitan. Pasca Perjanjian Giyanti (1755), Panggul dan Munjungan memang pernah menjadi bagian dari Pacitan, saat itu di bawah Kasultanan Yogyakarta. Sementara daerah Trenggalek bagian utara berada di bawah Kasunanan Surakarta.

Tentu akan muncul cerita-cerita yang bisa dianyam dari keberadaan bangunan-bangunan lama di masa Kawedanan Panggul ini, meski terlebih dahulu perlu menelusurinya lebih jauh biar bisa menghasilkan catatan sejarah. Ini antara lain yang terhitung benda cagar budaya berbentuk bangunan rumah. Kabarnya di Trenggalek bagian kota juga masih ada cagar budaya berupa rumah, yakni rumah tinggal Martoprawiro, terletak di Desa Sumbergedong. Saya sendiri belum pernah melihatnya.

Sekian cagar budaya yang mengandung kisah dan nilai sejarah di Panggul ini dan mungkin kalau ada di tempat lain, sebetulnya bisa “dibangun” kembali untuk menarik wisatawan. Rumah-rumah peninggalan zaman kolonial di Panggul ini penting dipertahankan dan diberi perhatian, sebab kemungkinan peninggalan-peninggalan kolonial serupa, yang berbentuk bangunan, di kecamatan-kecamatan lain malah sudah tidak ada, terlebih di wilayah perkotaan Trenggalek.

TINGGALKAN KOMENTAR