jalan lintas selatan munjungan

Pada akhir musim kemarau kemarin, saya merekam situasi yang saya rasakan sewaktu di Munjungan, kampung saya di Trenggalek bagian pesisir selatan. Dua hari di awal pergantian musim, hujan turun tidak begitu lebat. Hujan hari itu sudah bisa membasahi petak-petak sawah, yang sebagian besar memang kekeringan. Bulan-bulan pada akhir kemarau itu mestinya memang musim tanam. Setelah dari jauh-jauh hari, hawa panas dan harapan turun hujan tak kunjung tiba. Barangkali tersebab siklus yang tak lagi tepat waktu, sebagaimana terjadi di tahun-tahun lalu. Siklus yang sudah bergeser dan sulit diprediksi ini menggusarkan para petani.

Situasi seperti ini tak bagus bagi kondisi yang mesti dihadapi para petani hari ini dan di masa mendatang. Sebab pekerjaan bertani semenjak dahulu memang sangat bersandar, bahkan secara besar menggantungkan diri pada siklus yang bisa diprediksi. Hari sebelumnya—sebelum hujan dua hari itu—saya menyaksikan petak-petak sawah yang mlethek (pecah-pecah). Kemarau panjang telah menciptakan kekeringan hingga mengguratkan tanah. Para petani yang sengaja, kalau tak malah memaksakan diri, ”menyawah” (mengawali musim tanam) meski air tak ada, harus rela mengantri air dari sungai kecil yang mengalir dari hulu. Mereka harus mengantri jatah dengan kondisi seperti ini: pada siang hari sawah-sawah di hulu mesti lebih dahulu dipasok air, lalu menyusul sawah-sawah yang berada di bagian hilir. Karena itu, sawah-sawah yang berada di hilir, sering dapat jatah terlambat: baru mendapat pasokan air di malam hari. Bahkan, hingga sekitar pukul 2 atau 3 dini hari, sawah-sawah di bagian hilir itu baru bisa terpasok air. Sebagian sawah-sawah di hilir tersebut, bahkan terjatah di pagi harinya, demi menerima pasokan air dari hulu yang sudah tak seberapa besar.

Udara di Munjungan beberapa hari itu terasa sedikit berbeda. Pada saat malam dan siang hari, kadar panasnya hampir setara. Ketika tiba malam hari, sementara badan kita hanya mengenakan kaos oblong, lebih-lebih kemeja, bakal segera gobyos oleh kucuran keringat yang keluar. Kembloh terasa pada saat bangun tidur. Seolah-olah seperti sedang bermalam atau tinggal di sebuah kota industri macam Surabaya. Sebetulnya situasi serupa dapat dirasakan pada saat di Kecamatan Watulimo: hawa panas dan udara yang bikin gobyos ketika malam hari. Apakah ini efek dari pembangunan (pengaspalan jalan dan penebangan pohon di pinggir-pinggir jalan)? Perubahan udara yang mendadak dan tak biasa, sedikit-banyak mungkin berkaitan dengan pembangunan jalan. Kita tahu pengaspalan jalan bisa menyerap panas siang hari dan melepaskannya di malam hari. Kebetulan saat itu, Jalur Lintas Selatan (JLS) di Munjungan, mulai dibangun: tahap pengaspalan.

Bahkan, karena pengaspalan tersebut di sepanjang kota kecamatan: dari kantor kecamatan ke timur hingga jembatan. Tampak jalanan terlihat sangat berbeda. Orang bisa dibuat gagap saat berbelok ke gang-gang kiri atau kanan di sepanjang jalan yang diperbarui: dilelehi aspal. Ditambah pembangunan trotoar yang mengapit kanan-kiri jalan serta efek ketebalan jalan yang tampak mengubah apa yang sebelumnya menandai indra dan pikiran kita untuk menghafal sudut-sudut jalanan selama ini. Perbaikan (pelebaran, peninggian dan perubahan struktur jalan) sudah pasti membuat penghuni sekitar jalan, kehilangan memori pada karakter jalanan yang dahulu telah mereka akrabi dan hafali di luar kepala. Satu lagi, karena jalan itu diaspal secara hotmix dan diperlebar sedemikian rupa memenuhi permintaan hitam di atas putih, jadilah jarak dari kecamatan hingga Sungai/Kali Tengah misalnya—oleh efek pelebaran (ukuran) jalan—yang mulanya tampak jauh malah semakin dekat belaka.

Melihat kondisi perubahan jalan di area Kecamatan Munjungan, dan sebentar lagi JLS (Jalur Lintas Selatan) bakal betul-betul dibuka aksesnya: dilalui berbagai kendaraan lintas kota. Tak ragu, Kecamatan Munjungan dan juga kecamatan-kecamatan lain di pesisir selatan Trenggalek—mulai Paggul, Munjungan, hingga Watulimo—bakal menjadi lebih ramai dari sebelumnya. Bisa jadi, keramaian lalu-lintas akan mengalahkan keramaian ibu kota kabupatennya yang berada di utara sana. Dan satu lagi, di kota-kota kecamatan pesisir ini ketika jalan-jalan itu sudah dibuka—yang sebelumnya teramat susah dilalui dan dikunjungi, karena melalui jalanan pegunungan yang turun-naik, khususnya Munjungan—bakal jadi daerah-daerah yang tak lagi terdengar ”angker” sebagaimana sebelumnya: baik dari kondisi jalan, situasi tempat dan seterusnya. Bukankah efek pembangunan sedari dulu memang ada kaitannya dengan ini: membuat yang ”angker-angker menjadi tak lagi terasa angker”.

Selain membuat yang penuh kehijauan pohon-pohon menjadi bisa (dengan berbagai alasan) digunduli; membuat yang asri, rindang dan penuh semilir udara menjadi panas dan berkeringat. Jadi, sudah siapkan masyarakat pesisir Trenggalek ini berubah? Perubahan yang lebih hebat dari sekadar sisi infrastruktur tersebut. Sudah siapkah SDM kita menyesuaikan perubahan lingkungan, yang mula-mula memang diawali pembangunan infrastruktur jalannya ini? Akankah masyarakat—karena tak siap secara mental untuk pula terbangun—kelak cuma akan mengekori laju perubahan dan menjadi sampah pembangunan, karena SDM yang tak juga ikut terbangun.

Ketika infrastruktur jalan (JLS) terbangun dengan baik, fasilitas penunjang yang kelak paling berpeluang untuk dibangun oleh masyarakat di sepanjang jalur sekurangnya adalah: tambal ban/perbengkelan, restoran/warung, pusat jajanan atau oleh-oleh, pasar kerajinan, lapak-lapak penjualan buah-buahan/hasil bumi, tempat beristirahat, dan hiburan seperti karaoke dan panti pijat. SDM yang pas-pasan dan cenderung kurang siap menghadapi peluang akan cenderung terperosok mengisi 2 peluang terakhir: karaoke dan panti pijat tersebut. Dua peluang yang dikhawatirkan malah akan menjadi lahan subur bagi tumbuhnya prostitusi terselubung.

Kalau ingin pembangunan ini selaras dengan aspek manusianya, mestinya SDM-nya harus (siap) dibangun pula. Ia harus menjadi pengendali pembangunan dengan disesuaikannya karakter pembangunan dengan karakter lingkungan, alam, kebudayaan, adat-istiadat, tradisi dan terutama manusianya. Bukan malah manusianya yang tak siap dibangun dan mereka sendiri yang justru dikendalikan oleh dehumanisasi pembangunan. Yang pada akhirnya nanti akan ikut teresidu pembangunan.

Kita harus banyak–banyak belajar pada lingkungan, adat-istiadat dan kebudayaan khas kita sebagai karakter untuk membangun; semacam juru mudi untuk mengarahkan pembangunan daerah-daerah pesisir ini. Secara pribadi saya tak ingin kelak masyarakat pesisir Trenggalek digempur oleh kebudayaan yang dibawa oleh arus pembangunanisme (developmentalisme), hanya karena SDM kita tak siap dibangun. Alam sekitar kita yang kita cintai digempur dan diubah; sementara alam kemanusian kita tertinggal jauh dari pembangunan. Kalau ini yang terjadi, rencana pembangunan akan menjadi ironi. Karena pembangunan seharusnya tak cuma membangun kawasan dengan berbagai kemodernan infrastrukturnya, sementara manusianya tertinggal jauh di belakang.

BERBAGI
Misbahus Surur
Kelahiran Munjungan, Trenggalek. Menulis buku Turonggo Yakso Berjuang Untuk Eksistensi (Yogyakarta: Syafni Press, 2013) dan menyunting buku Rengkek-Rengkek: Senarai Catatan dan Kisah (Per)jalan(an) di Kota Trenggalek (Trenggalek: Tuhālas Biblioteca, 2015).