view teluk prigi dari bukit ngrancah

Watulimo adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Trenggalek yang sebagian besar wilayahnya berlingkungan hutan. Dulu, yang dikategorikan hutan identik dengan suatu kawasan yang ditumbuhi pepohonan dan tumbuh-tumbuhan secara lebat. Kawasan-kawasan semacam ini terdapat di berbagai wilayah yang luas di dunia dan memiliki bermacam-macam fungsi. Untuk saat ini, yang disebut hutan sepertinya sudah berubah arti, khususnya bagi sebagian besar masyarakat yang berada di Watulimo. Bagi mereka, sekarang hutan tak lagi seperti dahulu, tapi menjadi ladang yang menurut meraka tempat untuk ditanami bermacam tanaman produksi.

Dilihat dari puncak ketinggian gunung yang berada di Watulimo, daerah ini masih sangat terlihat hijau oleh kekayaan pohonan. Tapi jika dilihat secara lebih detail, pepohonan yang ada di Watulimo bukanlah pohon-pohon khas yang disebut oleh hutan zaman dulu, tapi didominasi oleh pohon pinus. Karakter hutan seperti ini, pikir saya, tak cuma terjadi di Watulimo. Saya kira banyak daerah lain yang hutannya bernasib sama dengan yang terjadi di sini. Fenomena semua ini sangat bisa mengakibatkan beberapa fungsi dari hutan tidak berjalan sebagaimana semestinya. Salah satunya adalah tak lagi tersedianya sumber mata air yang baik bagi masyarakat sekitar hutan.

Kita tahu, di setiap musim kemarau, sumber air menjadi tak lagi mengucurkan aliran air. Persoalan seperti ini menyebabkan masyarakat mengeluh dan lebih ekstrem lagi, keluhan mereka akan menjadi umpatan atas kondisi tersebut, tanpa menyadari bahwa manusia sendiri, termasuk mereka sebenarnya, punya andil dalam menyebabkan semua yang kini mereka rasakan: kelangkaan air, perubahan iklim serta udara lingkungan sekitar dan seterusnya.

Berkemah misalnya bagi kami adalah salah satu kegiatan manusia pecinta alam. Kegiatan ini sering dianggap sebagai suatu kegiatan yang tak ada manfaatnya secara riil, selain bersenang-senang di alam bebas. Kegiatan ini juga sering dianggap sekadar kegiatan refreshing. Padahal, di dalam acara perkemahan ada banyak pelajaran yang jauh lebih bermakna selain dari apa yang dianggap oleh mereka yang belum memahaminya, tetapi sudah menaruh anggapan dan pandangan kurang baik.

Awal bulan April, tepatnya tanggal 2 dan 3 April kemarin, terdapat puluhan orang—yang kebanyakan pemuda—melaksanakan kemah bersama di salah satu puncak gunung yang berada di Watulimo, puncak tersebut adalah puncak Ngrancah. Di puncak Ngrancah, dengan view yang hampir bisa untuk melihat seluruh wilayah Watulimo dari atas perbukitan, kita mudah memandang jauh ke lembah, sawah hingga pantai Watulimo. Mereka, para pemuda ini adalah kumpulan pemuda yang tergabung dalam organisasi pecinta alam NIPONK, yang sedang melaksanakan kegiatan intern organisasi: di antaranya pendidikan dan pelatihan dasar bagi anggota baru. Tak hanya berkemah, mereka juga berbagi pengalaman, memberikan pengetahuan dan pendidikan tentang alam. Di NIPONK, para anggota baru ini juga dididik melatih dan menumbuhkan kepekaan (kesadaran) terhadap alam sekitar mereka. Maka, kegiatan-kegiatan di acara tersebut sudah pasti bersinggungan langsung dengan alam sekitar.

Organisasi pecinta alam - Niponk
Di Puncah Ngrancah – Organisasi pecinta alam Niponk

Saya yang pada saat itu terlibat dalam acara, kadang-kadang banyak memperhatikan Watulimo dari tempat saya berada: di puncak gunung. Betapa kaya-nya Watulimo ini. Sungguh beruntung kota Trenggalek. Pada saat sedang tenggelam dalam perenungan mensyukuri anugerah Tuhan berupa keindahan bukit dan gunung Watulimo, saat itu pula menyelinap dalam pikiran saya perasaan trenyuh sedemikian rupa. Ketrenyuhan itu mulanya disebabkan satu hal saja yakni kondisi air. Seperti yang di awal tadi telah saya sebut, masyarakat Watulimo sering mengeluh akan berkurangnya debit air di sumber mata air di setiap tahun, tanpa menyadari bahwa mereka juga menjadi bagian dari akibat terjadinya kelangkaan air tersebut. Hutan yang tak lagi bisa dikatakan hutan ideal; pepohonan yang bukan lagi pepohonan homegen, sungai yang tak lagi difungsikan dan dirawat seperti seharusnya, batu yang diekspolitasi, tanah yang tak lagi menjadi tumbuhnya pohon-pohon penyimpan air adalah rangkaian persoalan yang menimpa hutan kita kini, khususnya di alam lingkungan Watulimo.

Pohon-pohon yang dulu begitu banyak terdapat di Watulimo, kini sangat berkurang jauh jumlahnya. Dan secara otomatis, ini terjadi pada hewan-hewan yang bergantung pada keberadaan pohon-pohon tersebut untuk hidup, tentu juga akan semakin berkurang. Bahkan, tak jarang pepohonan dan hewan yang dulu pernah ada kini sulit ditemui di hutan maupun sungai yang ada di Watulimo. Padahal dulu berbagai jenis satwa itu ada. Contoh kecil saja cobalah ke sungai, masih banyakkah belik yang ada di sana, di pinggir sungai itu, juga jenis-jenis ikan yang dulu beragam? Masih adakah anggang-anggang di permukaan dan di sekitar sungai? Tampaknya beberapa hewan dan tumbuhan sudah banyak yang hilang. Ah, lingkungan kita ternyata sudah berubah cepat.

Saya tak ingin bila pemerintahan baru di Trenggalek nanti terlalu ambisius dengan cita-cita besar memajukan kabupatennya, tapi melalaikan pembangunan dari dalam semisal membangun hutan dan menjaga lingkungan bukan hanya dari membangun sisi fisik. Saya mendengar wacana soal pengadaan tambang di berbagai daerah di Trenggalek yang salah satunya di Watulimo. Saya sungguh khawatir kalau itu terjadi, tentu yang akan hancur adalah alam indah di Watulimo ini.

Pendapat pribadi saya, manusia pembangun saat ini disebut sebagai pembangun hanya dalam definisi mereka yang membangun apa yang tampak saja: fisik semata semacam infrastruktur. Dan apapun itu, pembangunan seperti itu pastilah sedikit banyal bisa merusak alam meskipun dengan dalih memakmurkan masyarakat. Memangnya tak ada cara lain untuk mennyejahterakan ummat selain pembangunan dalam kriteria seperti di atas? Ayolah pemimpin di Trenggalek, perbanyaklah silaturahmi kepada rakyat, perbanyaklah berbincang dengan mereka, juga perbanyaklah ngopi dengan mereka. Lantas dalami apa kebutuhan mendasar yang sebetulnya mereka butuhkan. Jangan hanya membangun melalui kacamata kalian sendiri yang belum tentu benar-benar dibutuhkan masyarakat.

Bagaimanapun juga pertambangan hanyalah eksploitasi dengan topeng kemakmuran, kesejahteraan, lapangan pekerjaan, dan kekayaan bagi masyarakat. Banyak contoh sudah terjadi seperti di depan mata, saat saya berada di pulau Borneo beberapa tahun lampau, bahwa pertambangan hanya menghancurkan alam. Janji untuk mengurangi apa yang telah mereka hancurkan, ah, jangan harap! “Habis manis sepah dibuang” adalah ungkapan yang tepat bagi aktivitas pertambangan yang telah dilakukan oleh korporasi-korporasi kapital yang menguras sumber daya alam negara kita ini. Dan parahnya, pemerintah sepertinya sering tak mampu atau mungkin memang tak mau tahu dengan apa yang telah mereka lakukan.

Watulimo, dengan kekayaan alam, sejarah, dan kearifan lokalnya—kalau boleh saya analogikan—akan menjadi gawang yang bersiap kalau-kalau diserbu barisan striker ganas yang tak peduli fairplay di lapangan hijau. Meski mereka belum menghajar Watulimo dengan beberapa goal yang akan mereka cetak, kami sudah bersiap. Saya dan kawan-kawanku pecinta alam Watulimo beserta masyarakat di sini akan menjadi barisan pemain bertahan andai kiper dicederai oleh barisan striker lawan. Kami akan tetap bertahan meski kami tahu sangat kecil kemungkinan kami tak kebobolan goal. Kami akan tetap berjuang hingga peluit akhir berbunyi. Bukankah perjuangan yang baik adalah berjuang secara ksatria lagi sampai pada babak akhir?