ilustrasi menahan baper pada saat puasa | foto pixbay

Alhamdulillah ya, sudah 15 hari umat Islam sedunia melaksanakan puasa –tentu bagi mereka yang melaksanakan. Keberhasil melewati separuh bulan untuk berpuasa itu sudah merupakan sesuatu yang luar biasa, bagi kita yang biasanya sering tak terima bila soal urusan makan dan minum (menahan nafsu) harus dilarang-larang macam di bulan puasa ini.

Berbicara puasa Ramadhan, rasanya kurang lengkap jika tidak mengutip Q.S. Al-Baqarah, ayat: 183-185. Karena, bagi saya pribadi, seperti punya pengalaman khusus pada ayat ini, yakni ketika hampir di setiap jeda antara sholat tarawih dan sholat witir saat mendengarkan kultum di masjid, petugas kultum seperti selalu mengutip firman Allah SWT tersebut. Dan saya merasakan bahwa, pantas ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan puasa Ramadhan itu terus didegungkan: disampaikan kepada umat muslim. Di dalam memang terkandung, di antaranya, sejarah dan tata cara (teknis) puasa.

Maka, untuk mengingatkan kembali kepada para pembaca, sekaligus sebagai upaya saya untuk menyampaikan nasehat “nahi munkar” melalui portal keren, imut, unik dan “yang selalu menundukkan pandangan ini”, saya kutipkan firman Alloh swt tersebut:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian untuk berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa, (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka, barang siapa di antara kalian sakit atau berada dalam perjalanan (lalu berbuka), (dia wajib berpuasa) sebanyak hari yang ia tinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya, (jika mereka tidak berpuasa), membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang mengerjakan kebajikan dengan kerelaan hati, itulah yang lebih baik baginya. Berpuasa lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui. (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur`an sebagai petunjuk bagi manusia, penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu, dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Oleh karena itu, barangsiapa di antara kalian hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, hendaklah ia ber­puasa pada bulan itu, dan barangsiapa yang sakit atau berada dalam perjalanan (lalu berbuka), (dia wajib berpuasa) sebanyak hari yang ia tinggal­kan itu pada hari-hari yang lain. Allah meng­hendaki kemudahan bagi kalian, dan tidak meng­hendaki kesukaran bagi kalian. Hendaklah kalian mencukupkan bilangan (bulan) itu dan hendaklah kalian mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberi­kan kepada kalian supaya kalian bersyukur.” [Al-Baqarah: 183-185]

Sekali lagi, puasa Ramadhan itu wajib bagi umat muslim, tetapi tidak diwajibkan saat itu juga bagi yang berhalangan menjalankannya, misalnya pada saat sedang sakit, sedang dalam perjalanan jauh dan lain-lain seperti tertera pada ayat di atas. Meski begitu,mereka wajib menggantinya sebanyak puasa yang ditinggalkan. Jika puasa Ramadhan dihukumi wajib, maka untuk tata cara dan sikap dalam puasa pun bias juga dihukumi wajib. Kita tahu bahwa puasa itu menahan, bukan hanya menahan makan dan minum, ada banyak hal yang berkaitan dengan hawa nafsu yang di sana juga perlu ditahan dan dikekang. Banyak-banyak mengucapkan istighfar di bulan Ramadhan sangat baik, di antaranya untuk kejiwaan kita serta sarana paling ringan untuk mengekang ini.

Dari berbagai jenis nafsu manusia yang harus dikekang mulai subuh sampai magrib itu, salah satu yang menjadi perhatian saya adalah pengekangan terhadap sikap baper. Mas Editor dalam artikelnya yang berjudul “Baper pada Orang Tua dan Beberapa Penyebabnya” telah menulis banyak hal tentang definisi-konseptual, indikator, peran kebaperan dan efeknya bagi kehidupan 😀 . Baper mulanya adalah singkatan dari “bawa perasaan”. Sikap terbawa perasaan ini adalah salah satu jenis perasaan yang sudah lama sering dirasakan manusia, meski baru saja ngehits di akhir-akhir lantaran telah memiliki nama khusus: baper, yang mungkin dipopulerkan anak-anak muda kekinian. Jika merujukpada apa yang ditulis Mas Editor kemarin, sebetulnya selain menahan diri dari makan dan minum , puasa juga seharusnya menahan diri dari bawa-bawa perasaan di setiap momen yang memungkinkan perasaan itu tumpah-ruah. Nah, baper di dalam berpuasa bisa menyebabkan hilangnya esensi dari puasa itu sendiri, yaitu soal menahan.

Misalnya begini, karena kamu sering banget ngaji bareng ustadz dan berkali-kali mendapatkan amanah—atau doktrin—bahwa puasa itu harus begini dan begitu, ketika kamu melihat ada orang yang tidak sesuai dengan doktrin yang telah kamu terima, lantas kamu menyatakan kalau seseorang, meskipun puasa, puasanya tidak akan terima. Atau bisa jadi orang itu adalah antek asing dari golongan wahyudi , merica maupun kuminis, karena telah sangat berani membuka warung di siang bolong di saat orang-orang sedang sangat lapar-laparnya dan berjuang mati-matian menahan diri dari es dawet, merokok dan ngopi.

Padahal sang ustadz memberikan ilmunya kepadamu niatnya supaya bisa kamu pelajari, kamu mengerti,dan amalkan sepenuh hati. Ranahnya bukan untuk menyalahkan atau mengkafirkan orang, tapi untuk dijalankan sendiri. Baru, kalau diri sendiri sudah bagus lantas mengajak keluarganya untuk berbuat baik. Jika keluarga sudah baik, baru deh kamu boleh nyentuh hati tetangga dan teman (orang lain). Justru yang terjadi sekarang ini sungguh jauh dari cara-cara yang baik dan indah. Kenapa bisa begitu? Jika kamu yang baru saja menerima ilmu agama dari ustads, dan kamu sudah merasa mempunyai ilmu tersebut (padahal praktiknya masih monyah-manyih) dan dengan keras kamu menyerang seseorang, meskipun nyerangnya di medsos, percayalah, yang menggerakkan media sosial juga masih manusia. Itu namanya tidak legawa, tapi sudah kategori baper tingkat biadap yang kudu segera kamu kekang dengan rantai istighfar.

Baper dalam berpuasa itu boleh, tapi bapernya sama diri sendiri saja, jangan kepada orang lain. Emang bisa? Insya Allah bisa, kamu melakukan dosa kecil, lantas kamu menjadi baper karena tahu bahwa Alloh tidak tidur dan mengetahui apa yang kamu kerjakan. Baper ini kemudian membuat kamu selalu mawas diri, supaya tidak melakukan perbuatan yang sama di lain hari lagi dan lagi. Nah, baper kategori ini malah mubah.

Baper yang makruh juga ada bray. Misalnya begini, ada warung yang buka di siang bolong pada waktu bulan puasa, padahal kamu juga sedang berpuasa dan intoleren dengan warung yang buka di siang hari itu. Lalu kamu beranggapan bahwa warung itu tidak punya unggah-ungguh, tidak punya sopan santun dan tidak mau menghormati orang yang sedang berpuasa. Lantas kamu galang massa dan juga meng-sms-i satpol PP juga supaya merazia warung tersebut: dengan maksud hendak mengislamkan warung yang masih kafir tadi. Nah, apakah hanya untuk menegakkan sikap (supaya orang) menghormati orang sedang berpuasa, lantas kamu meniadakan orang-orang yang tidak berpuasa karena banyak faktor di luar sana. Ayolah, ini model toleransi yang bagaimana?

Puasa itu urusan masing-masing pribadi. Niatnya saja sendiri-sendiri, tidak berjamaah. Yang menanggung resiko ketika tidak menjalankan puasa, tentunya juga orang itu sendiri. Oke-oke, kamu beralasan bahwa kasihan kepada orang-orang Islam yang berpuasa dan menemui banyak godaan dari warung-warung makan yang buka di siang bolong, namun tidak dengan menutup hak seseorang karena ingin menonjolkan hakmu sendiri untuk mendapatkan hormat. Ayolah akhi, puasa kan juga butuh godaan dalam bentuk warung yang buka di siang hari. Sebab puasa tanpa godaan,kualitas puasa kita perlu dipertanyakan. Godaan bagian dari ujian. Kalau hanya menahan lapar dan dahaga, kucing pun bisa melakukan. Coba masukkan kucing ke dalam kandang, terus kunci pintunya dan jangan kasih makan. Bukankah kucing sedang berpuasa?

Maka menjadi orang muslim yang dapat menjalankan ibadah puasa dengan baik, adalah dengan menghormat orang lain dan tidak meminta orang lain untuk melakukan penghormatan pada diri kita sendiri.

Yang mewajibkan puasa itu gusti Allah, buka FPI, bukan satpol PP, bukan bupati. Apalagi pak Jokowi. Sekali lagi, saya mengingatkan pada diri sendiri, agar tidak terlalu mengikuti nafsu baper pada orang yang buka warung di sing hari atau orang-orang yang tidak puasa. Baperlah kepada diri sendiri, apakah kualitas puasa sudah baik atau belum. Yang pasti dengan banyak-banyak mengingat Allah dan juga mengingat bahwa kita semua adalah ciptaan Allah, lalu berpuasa dengan mengikuti syariat dengan benar, juga mewajibkan kepada diri sendiri untuk berpuasa dengan iklas, tulus, damai dan lapang. Semoga Ramadhan kali ini dapat membawa manfaat bagi kita semua, amin. Salam lemper, eh baper.