ekspresi kebawa perasaan (baper) | foto by pixbay

Saya tidak ragu, bahwa secara ”pola dan model”, masing-masing kita memiliki kapasitas dan peluang yang sedikit-banyak dibentuk-tularkan oleh alur hidup, peran dan kebiasaan-kebiasaan yang kita buat dan rawat sendiri sejak semula (tapi bukan sejak dalam pikiran). Bentuk pikiran pun, dalam taraf tertentu, bisa juga dicetak oleh kebiasaan keseharian. Jadi, perihal watak, mental dan gelagat seseorang dalam sekilas gampang ditebak saat acuannya serangkaian indikator: kebiasan, minat, hobi, alur pikiran dan seterusnya yang digelutinya. Bahkan, ke sininya, terkait ”sifat remeh berefek besar” macam tingkah lebay, caper, baper, dan kepo-nya seseorang di dunia maya maupun nyata pun, punya muasal yang nyaris bisa dikembalikan pada kebiasaan sehari-hari yang ajeg dipelihara.

Sifat baper yang salah tempat (karena baper kadang bisa dalam situasi yang tepat), bisa muncul sering dalam kondisi ketika ”pikiran negatif”—termasuk kebiasaan banyak berasumsi—yang menyambangi seseorang, terlampau diberi ruang, ketimbang merawat ”pikiran positif”. Sifat baper ini tumbuh, selain oleh alur hidup yang terbentuk sedari kecil, macam ”pemanjaan orangtua”; lekatan puja-puji sedari balita; derita panjang yang kerap dialami seseorang—di mana baper sanggup membiak, meski seseorang telah beranjak tua—juga bisa dibentuk oleh sikap terlampau memberi tempat bagi ”pemujaan terhadap diri sendiri”: baik secara blak-blakan atau dengan cara memanfaatkan orang.

Sikap ”kekanak-kanakan” (tersebab baper) yang mestinya sudah hilang, bisa kembali muncul pada diri orang tua, di antaranya disebabkan oleh terlampau bersemangat merawat (ke)aku(an) seperti itu. Seperti semangat membangun citra, berperilaku arogan dan tendensius, takut tersaingi dan seterusnya. Sifat kekanak-kanakan pada orang tua yang didahului oleh sikap ke-baper-an bisa-bisa tiap hari tumbuh makin lebat bak kumis atau jambang, dan melekat erat tak lekas hilang seperti lem (pada) kaca. Andai sifat dan sikap seperti ini terus-menerus dirawat, sudah pasti akan lupa mendarat dan buta jalan pulang. Kalau sudah begitu, ia menjelma parasit atau serupa jamur (panu) di tubuh yang nyaman, meski mengganggu keindahan kulit.

Nah, kita tahu penyakit baper, lebay dan caper ternyata tak melulu melekat pada remaja, karena penyakit ini bisa mendadak dan tiba-tiba menyerang orang tua. Efeknya adalah orang tua bisa dibuat menjadi kekanak-kanakan. Ini tentu efek yang—secara tak sadar—bisa merangkul siapa saja, kapanpun dan di mana pun, terutama sekelompok manusia yang ke-aku-annya tinggi tak mau disaingi tapi juga capernya setengah mati.

Di keseharian, sikap baper juga bisa muncul oleh serangkaian tanggapan kita pada situasi, yang terlalu dini; belum begitu genap dan utuh diamati, sementara seseorang punya kecenderungan dan atau memang hobi—bahkan sering dengan amat gegabah—menanggapi secara negatif thinking, ambisius, latah lagi asersif. Memberi ladang pada sikap iri dan dugaan-dugaan buruk yang belum pasti untuk berkecambah di musim yang salah. Pada diri orang tua, dengan kebiasaan-kebiasaan ber-sosialisasi dengan teman-teman se-model; berkongkow-kongkow dengan banyak obrolan tak penting, sifat ini mudah timbul dengan paradigma yang terbangun dari sudut meja-kursi dunia per-kongkow-an dengan aspek-aspek tak memadai yang ada di sana. Ketiadaan sudut pandang lain atau pilihan jenis perbandingan, bisa dengan mudah membuat kita tersandera baper yang tak diharapkan. Bukankah ”jika yang kau miliki hanya palu, segalanya akan tampak seperti paku (dan bukan arit),” demikian olok Wittgenstein.

Sikap baper juga kerap tumbuh dari perasaan teraniaya, perasaan tidak dianggap, lagi merasa tidak diperhatikan oleh orang-orang tertentu yang di-caper-i. Bahkan sikap baper yang ”keras kepala”, ”buta hati” dan ”gelap mata”, selain bisa menyebabkan kalap juga bisa menyebabkan seseorang sampai menggalang massa yang loyalnya minta ampun dari yang se-kelompok-seperjuangan (cari sesuap nasi). Sikap baper lalu mengetuk hati untuk (umpamanya) membuat serangkaian gambar-gambar dan aneka tulisan bernuansa megalomania nan memojokkan, yang—sedianya diharapkan menunjang gagasan kebaperannya, padahal—dari sudut pandang ”kebudayaan”, malah semakin meningkatkan mutu kebaperan.

Baper memang sifat yang begitu menyamankan, perlu di kalangan politisi dan pejabat, tapi sangat tidak cocok untuk kalangan masyarakat yang otaknya sehat. Sikap baper pada orang tua kerap muncul dari menyalahpahami situasi: oleh pengamatan yang belum lengkap juga oleh sebab menggendong kebenaran sepihak. Tapi sudah terburu-buru mengucurkan pendapat dan asumsi. Ini efek baper yang paling berbahaya, ia bisa menyebabkan penyesatan opini dari hal-hal yang sifatnya semata permukaan: lebay dan caper itu. Ini jelas akan mengakibatkan meluncurnya tindakan sesat dan menyesatkan.

Bagaimana tidak bahaya lagi menyedihkan, akan ada banyak orang baik menjadi tersesatkan oleh penggiringan opini orang-orang cukup berpengaruh (kelas medsos) tapi punya karakter baper dan caper kronis. Orang-orang baik yang digiring oleh kalangan baper(is) dan caper(is) ke dalam lubang gelap itu, sebetulnya kelak dalam kondisi tertentu berpeluang menjadi pemeluk teguh fasis (jadi fasis bukan hanya didominasi laskar fentung yang membela agama sampai ngeden) cukup sekadar digiring opini tak punya landasan kuat. Akan menjadi kasihan sebenarnya mereka-mereka, orang-orang baik yang tergiring ini, akan menjadi serombongan kerbau yang dicocok hidungnya.

Sangat disayangkan, karena landasannya adalah baper, meski buntutnya bagus, kebaikan itu berpeluang menjadi kebaikan yang rawan ambruk dan tergerus. Karena fondasinya sangat tidak jelas: sifat-sifat ke-baper-an yang dipelihara tanpa klarifikasi. Kebaikan-kebaikan betapapun seluhur mati syahid, karena landasannya adalah baper (bukan iman dan kewarasan) harus menggerus kebaikan murni orang yang betul-betul tulus. Dan sifat baper yang tak segera diobati, jamak tak menyumbangkan ide konstruktif bagi pembangunan bidang apapun. Bisa-bisa malah menimbulkan bolot pembangunan dan perilaku destruktif, yang dikhawatirkan ke sono-nya justru menghambat ”pembangunan”.

Jadi, klarifikasilah terlebih dahulu dugaan-dugaan dan berbagai asumsi dari anggapan yang muncul di kepala Anda—kalau bisa sampai memadai—sebelum meluncurkan ke muka umum. Daripada Anda diserang penyakit baper mendadak. Karena sudah dimafhumi dari awal, virus baper tak hanya melekat pada remaja, tapi kini sudah bisa dengan mudah menjangkiti kaum tua yang capernya sudah pada level akut dan naudzubillah. Ingat, efek baper tadi, selain menyebabkan (ke)malu(an) di akhir cerita, tentu bisa menimbulkan kelucuan di awal cerita. Sekali lagi, baper bisa membuat orang tua mendadak menjadi anak-anak. Kalau Anda masih nyaman, saya harap ya terus saja dirawat sifat (serta sikap) baper dan caper ini. Daripada dadi udun.

BERBAGI
Artikel sebelumyaNostalgia Lagu Anak Indonesia
Artikel berikutnyaMenahan B(L)aper di Bulan Puasa
Misbahus Surur
Kelahiran Munjungan, Trenggalek. Menulis buku Turonggo Yakso Berjuang Untuk Eksistensi (Yogyakarta: Syafni Press, 2013) dan menyunting buku Rengkek-Rengkek: Senarai Catatan dan Kisah (Per)jalan(an) di Kota Trenggalek (Trenggalek: Tuhālas Biblioteca, 2015).
  • nurma

    Sekelompok manusia yang ke-aku-annya tinggi akan bernasib persis seperti narcissus, tokoh mitologi yunani yg mati lantaran tak henti-hentinya mengagumi dirinya sendiri 😀

  • Baper menurut kamus bahasa nggalek adalah sikap yang terlalu merasa bahwa segala sesuatu berkaitan dengannya… Hahaha