Kerja Bakti Membersihkan Saluran Air di Selatan Tumpak Laban - Nggalek.co
Kerja Bakti Membersihkan Saluran Air. Foto Dok. Penulis

“Hujan turun sesaat sebelum adzan Subuh saja menyebabkan air mampet,” ujar salah seorang pemuda di luar rumah, yang suaranya terdengar sampai di dalam rumah.

Hujan yang turun semalam menggenang dan meninggalkan bau khas pada tanah. Lumpur becek membawa sampah dan menyelipkannya di balik pagar serta membuat becek paving tak rata atau berlubang.

Sementara di sisi lain, hujan sangat membantu kehidupan makhluk hidup: bunga-bunga merekah segar dan batang-batang pohon makin kokoh. Pohon-pohon besar tak segan menjatuhkan air atau embun, satu, dua dan tiga kali sebagai tanda bahwa hujan baru saja reda.

Matahari dari ufuk timur mulai beredar dengan sorot kekuning-kuningannya. Pelan-pelan ia mulai naik sejengkal demi sejengkal bangkit dari peraduan. Namun hawa pagi itu masih dingin. Kabut belum benar-benar hilang disapu angin dan sinar mentari. Udara yang dingin seolah mengajak kita untuk berdiam diri dan melakukan aktivitas sederhana tak jauh dari rumah.

Gampangnya, bersantai ria sembari menikmati ketela godog dan secangkir teh hangat atau segelas kopi hitam berpadu kertas koran di teras rumah. Apalagi hari itu bertepatan dengan hari Jumat, orang-orang menganggap sebagai hari pendek untuk beraktivitas di luar rumah.

Namun siapa yang menyangka, suara pemuda yang ada di depan rumah tadi adalah tanda ajakan bahwa hari ini ada kerja bakti bersih-bersih saluran air di Selatan Tumpak Laban, tepatnya di Kedung Lo. Kebetulan titik kumpul para pemuda dan masyarakat itu ada di depan rumah. Sementara hari Jumat bagi masyarakat desa biasa dijadikan sebagai hari kegiatan bersama, sambatan atau gotong-royong bersih-bersih masjid, saluran air dan seterusnya.

Sebab hujan sesaat di malam hari mengakibatkan aliran air mampat. Air tidak mengalir dengan baik. Akibatnya kebutuhan rumah tangga seperti mandi, cuci dan minum menjadi terkendala. Air inilah yang digunakan masyarakat setempat untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, selain PDAM dari Desa Sawahan, Watulimo. Sumber air ini adalah aliran dari Kali Lo, yang letaknya di sebelah selatan Tumpak Laban.

Jam dinding menunjukkan pukul 07.45 Wib. Saya masih di dalam rumah dan berganti baju dahulu sebelum bergegas menuju tempat kedung air itu. Suara pemuda tadi membawa saya pada pikiran, “itu hanya hujan sesaat. Bagaimana kalau hujan itu berjam-jam atau berhari-hari? Apakah akan datang banjir? Dan kedung air itu jebol. Masyarakat tak ter-air-i dengan baik demi kebutuhan sehari-hari. Hanya menengadah pada sisa-sisa air hujan untuk kebutuhan rumah tangga.

Aah itu soal hujan. Bagaimana dengan yang lain?

Saya masih sibuk di dalam rumah, mencari ganti telesan (baju untuk beraktivitas di luar rumah). Sementara di luar, para pemuda dan bapak-bapak telah berkumpul. Satu-dua-tiga orang berangkat duluan. Yang lain menunggu boncengan. Lokasinya di daerah Dukuh Duren, tepatnya Kali Kedung Lo, sumber mata air pegunungan itu. Jaraknya jika ditempuh berjalan kaki sedikit membuat badan berkeringat. Kami berangkat menuju utara menumpangi trail modifikasi dari motor bebek.

Kerja Bakti Membersihkan Saluran Air di Selatan Tumpak Laban - Nggalek.co
Kerja Bakti Membersihkan Saluran Air. Foto Dok. Penulis

Sumber air Kedung Lo merupakan salah dua sumber air di lingkungan kami. Selain PDAM yang berasal dari Jurug Nanas, Sawahan. Sebab di lingkungan kami sudah sedikit sekali sumur. Setiap rumah sekarang tak memiliki sumur. Adanya sumber air Kedung Lo ini, yang membantu akses air masyarakat setempat. Pasalnya tak ada uang pangkal, dan tak ada pula uang pajak bulanan. Hanya ada uang iuran perbaikan. Setiap rumah yang dialiri dimintai sumbangan oleh pak RT atau petugas lainnya. Biasanya hanya RP 5-10 ribu per kepala keluarga. Sumber mata air dari Selatan Tumpak Laban ini hasil swadaya masyarakat dan dikelola masyarakat. Air mampu mengalir ke Dukuh Duren dan Kebon, sekurangnya menjangkau puluhan kepala rumah tangga di dua pedukuhan tersebut.

Sampai di lokasi sudah ada beberapa orang yang sibuk membersihkan lubang saluran. Kurang lebih ada 10 sampai 15 orang. Airnya begitu deras dan jernih. Serasa ingin berenang di bawah batu yang membentuk kedung dari gerojokan air dari atas. Namun saya urungkan niat. Saya langsung ikut kerja bakti, mengangkat batu-batu dan melebarkan kedung. Membuang kotoran penyumbat saluran. Mencabuti rumput-rumput yang menjalar di sekitar aliran kedung. Sebab di sekitar Kedung Lo ditumbuhi banyak varietas tanaman dan pohonan. Bambu, pisang, durian, cengkih, pohon laban, sengon dan lain-lain. Sebagian saluran tersumbat oleh daun-daun yang kering dan lumpur.

Permasalahan yang kerap terjadi adalah kerikil-kerikil kecil biasa hanyut terbawa arus aliran dan masuk ke pipa. Apabila hal itu terjadi masyarakat sedikit kewalahan. Sebab harus membuka mur dan baut pada pipa. Sebelum memastikan orang-orang pulang, kami ber-empat mandi di kali dan mengenang masa-masa kecil dulu.