Di Pantai Munjungan, Mitigasi Bencana Belum Total Disiapkan

Di Pantai Munjungan, oligarki bertetangga dengan gerakan konservasi lingkungan. Keduanya dibelah jalan sekira 3,5 meter menuju laut. Jalan tersebut tak lain adalah jalur utama menuju Pantai Blado—sebuah pantai dengan pemandangan laut lepas di Teluk Sumbreng, Munjungan, Trenggalek.

Oligarki itu berwujud kolam-kolam tambak udang yang menyewa lahan-lahan milik warga di pinggir pantai. Keberadaannya sejak beberapa tahun lalu banyak dimotori oleh beberapa orang kaya setempat serta pejabat.

Sementara gerakan konservasi lingkungan di sana dalam bentuk penanaman dan perawatan hutan bakau dengan area sempit di sebelah timur jalan utama. Dulunya diinisiatori para pegiat lingkungan dan lembaga swadaya masyarakat setempat. Dan kini, melalui gerakan solider dari desa, seperti kelompok Among Mangrove, Tagana, Kampung Siaga Bencana (KSB) Sumbreng, dan seterusnya, penanaman bakau terus digalakkan.

Beberapa titik di pinggir Pantai Blado saat ini telah disulap menjadi cafe, dengan sorot lampu gantung yang menerangi ke segala arah. Dan sejak sore, puncaknya pada malam hari, akan ramai dengan anak muda yang menggerombol memadati persediaan kursi.

***

Munjungan memiliki garis pantai memanjang sekitar 3 kilo meter. Sayangnya, tanaman bakau hanya tumbuh terhimpit di sisi timur. Dan pinggir pantai itu kini berganti dikepung tambak udang. Di bagian tengah pantai, pohon kelapa tumbuh berjajar memanjang ke barat. Di sebelah utaranya terhampar persawahan, lalu jalan pansela (pantai selatan), dan permukiman penduduk.

Saat membaca data penelitian yang dilakukan BNPB bekerja sama dengan ITB mengenai potensi energi gempa bumi megatrust di sepanjang laut selatan Jawa yang ber-magnitudo 8,9 SR setahun terakhir, entah mengapa saya menjadi was-was dan sering kepikiran. Terutama saat berada  di Munjungan, apalagi ketika sedang berada di Pantai Blado. Penelitian tersebut pernah dipublikasikan di jurnal Nature dan sempat diberitakan, antara lain, oleh laman mongabay.co.id. dan kompas.com.

Sepertinya, saya pikir, tak akan ada halangan berarti, andai mendadak datang gelombang besar tsunami dan menerjang kawasan pantai selatan Jawa, termasuk Pantai Blado ini.

Di dekat pantai ada beberapa dusun yang permukiman penduduknya berhadap-hadapan dengan muka laut lepas di Teluk Sumbreng. Ada Dusun Singgihan, Galih, Kajang, Ngaliran, dan Gembes—semuanya masuk Desa Masaran.. Juga Dusun Ngadipuro dan Krajan masuk Desa Craken. Belum lagi dusun-dusun di Desa Munjungan.

Dan sementara itu tak ada bentang pohon bakau di situ yang bisa menjadi benteng alami, untuk melindungi dusun-dusun di Desa Masaran dan Craken tersebut. Dengan cara, mementalkan kembali gelombang tsunami ke arah ia datang, jika sewaktu-waktu terjadi hempasan atau gulungan air besar ke pantai menembus daratan.

Permukiman penduduk begitu terbuka, dan begitu mudah dijangkau air laut Samudera Hindia. Apalagi, berdasarkan data BPS 2020, Desa Masaran adalah desa yang penduduknya paling padat di Kecamatan Munjungan.

Apakah tak ada gagasan sama sekali dari masyarakat Desa Masaran dan perangkat desanya, dan Kecamatan Munjungan secara umum, untuk menanam bakau di sepanjang garis pantai Teluk Sumbreng itu. Ya, di sepanjang garis pantai. Khususnya, di wilayah tengah hingga barat, sebagai benteng pelindung alami dari sesuatu yang datang dari lautan?

Penduduk desa-desa pesisir perlu terus giat menanam bakau sebagai upaya mengurangi risiko bencana; dan bagian penting dari mitigasi tsunami. Betapapun, di utara dusun-dusun tersebut, ada bukit-bukit cukup tinggi berjajar ke utara.

Sebab, seberapa pun cepat larinya manusia ke bukit-bukit itu, tak akan lebih cepat dari pergerakan tsunami dari selatan yang datang menerjang.

Artikel Baru

Artikel Terkait