Hidup yang Tidak Kenal (Ber)tetangga

Sungguh banyak hal yang luput kita pertanyakan setiap waktu sebagai manusia. Tentang siapa kita misalnya, untuk apa kita ada, sampai kenapa harus menjadi seperti kita ini. Hal yang lebih krusial kemudian melebar serta mempertegas posisi kita sebagai individu utuh dalam skala komunitas yang lebih luas lagi, bernama masyarakat. Dalam ruang hidup yang keberadaannya niscaya ada itu, kita digerakkan oleh sebuah keresahan mengenai siapa diri kita, sudah berperan apa kita, sampai sudah wajar kah apa yang kita lakukan.

Beranjak dari keresahan yang dibangun atas diri sendiri, kita tidak boleh abai atas peran serta orang lain. Saya ingin mengatakan bahwa sebagai masyarakat, kita tidak luput dari soal “bertetangga”. Keberadaan tetangga seperti sebuah kenyataan yang terberi, sebuah keadaan yang tidak terhindarkan. Terlebih jika kita lahir sebagai masyarakat desa, keberadaan dan peran tetangga tidak dapat kita tampik. Kecuali bila kita ingin hidup sendirian di hutan. Masyarakat di desa sewajarnya guyub rukun dan tepa sliro terhadap kerepotan tetangganya. Lalu bagaimana dengan wajah desa hari ini? Masihkah kita menikmati romantika bertetangga yang demikian erat dan merangkul?

Manusia dengan kehendaknya menguasai waktu, melahirkan kebudayaan baru, kita bagian yang dengan terpaksa mengikuti dan mengamininya. Sehingga jika merujuk pada pertanyaan di atas, setiap kita memiliki jawaban masing-masing, sesuai dengan keberadaannya masing-masing.

Tinggal jauh dari kampung kecil saya di Trenggalek tentu bukan alasan untuk tidak mengamati geliat pembangunan di kota Keripik. Banyak hal menarik yang hari ini coba dimunculkan di Kabupaten Trenggalek sebagai kota kecil yang hendak berbenah dengan wajah yang lebih kota lagi. Mulai dari pengenalan daerah lewat budaya sajian yang kerap dipertunjukkan, pengenalan produk unggulan lewat pameran, dan tentu saja memasukkan kabupaten kita ini ke layar televisi melalui sinetron atau FTV di antaranya. Tentu saya tidak sedang membicarakan kualitas pun dengan kuantitas bentuk pembangunan. Rasanya yang demikian itu adalah sebuah prasarana menuju perwujudan cita-cita yang lebih nyata. Sekali lagi yang demikian itu wujud usaha yang perlu diapresiasi bersama. Trenggalek mencoba membangun wajahnya sehingga dapat disejajarkan dengan kota-kota lain.

Tapi bagi saya, sungguh tidak apa-apa jika kita merunduk sejenak, mengasingkan diri dari semangat uforia kebangkitan daerah. Menepi, membayangkan segala kemungkinan yang mungkin akan dihadirkan. Membayangkan Trenggalek menjadi kota dengan wajah yang lebih kota tak selalu mengasyikakan barangkali. Mungkin saatnya nanti pohon-pohon akan berganti, pembangunan merambat, jalan yang tak menghadirkan keakraban dan keramahan terhadap manusia, serta riuhnya jalanan dengan “warga negara baru”, yang tak lain adalah kendaraan-kendaraan pribadi itu. Sekali lagi itu bayangan akan kekhawatiran saya yang dibangun dalam alam bawah sadar. Namun jauh dari itu semua, sebagai masyarakat yang dibesarkan di desa, ada kekhawatiran yang lebih menggelayut. Tak lain mengenai bagaimana romantika bertetangga di waktu dan zaman-zaman yang akan datang.

Di waktu yang akan datang, barangkali saya tidak akan mengenali nama tetangga saya, mungkin juga akan kesulitan meminjam jasa mereka dengan nilai cuma-cuma. Saya membayangkan pergeseran desa menjadi kota adalah perwujudan yang tak hanya mengubah penampilan permukaan melainkan juga roh yang mendiami. Kota sejauh yang saya pahami adalah wajah yang dibangun di mana seluruh permukaannya adalah interaksi jual-beli, sebuah interaksi barang jasa, sebuah interaksi yang hanya dapat dimaknai dengan nilai tukar. Sebuah ruang yang menjadi pusat peradaban manusia modern yang berpangkal pada setoran dan penghasilan (industrial) namun kerap meninggalkan kerekatan sosial. Sekali lagi itu kekhawatiran saya.

Bahkan jika menghadirkan kota yang dapat mengakomodir kesejahteraan dan ruang kreativitas, saya bahkan masih menaruh kekhawatiran. Di masa mendatang kota barangkali akan lebih menakutkan dengan jurang kesenjangannya. Di mana kota menjadi wadah basis pertarungan kapital yang dibawanya. Yang siap melumat siapa saja yang lemah dan memberi kekuatan bagi yang bermodal. Barangkali nanti akan muncul kemajuan baru yang menyekat sendi kehidupan dengan ceruk investasi, yang siap menadah aliran modal tanpa henti. Lahan pedesaan terkikis, melahirkan kota yang mengikis sisi kemanusiaan dan kebudayaan. Siapa yang dapat menolak perubahan ini, siapa yang dapat menolak model kemajuan semacam ini?

Barangkali saya akan ditertawakan jika kedapatan menulis yang demikian lucu ini. Namun sungguh ini kekhawatiran yang sejak lama hadir dan mulai terasa perwujudannya. Dalam sisi yang lain, saya teramat menyadari laju globlalisasi mau tidak mau akan membawa dampak, di mana setiap manusia dimudahkan dengan teknologi terapan dengan segala fasilitasnya. Mau bersih-bersih tinggal memencet tombol. Mau bepergian tinggal memesan jasa transportasi, mau makan tinggal memesan jasa tukang antar makanan. Semua bermodal layar HP di tangan, di mana dunia dalam genggaman. Dalam kondisi sedemikian canggih tersebut, siapa yang dapat menampik bahwa di kemudian hari kita benar-benar tidak membutuhkan tetangga. Bahkan sangat mungkin jika kita memakai jasa catering dalam hajatan keluarga sekalipun kita memiliki tetangga. Semua bernilai komoditas, semua memakai unsur materi.

Kita di kemudian hari barangkali tidak akan menikmati romantika bertetangga, guyub rukun membangun desa atau “sambatan mbangun jalan desa”, misalnya. Bagi saya yang dibesarkan di lingkungan desa yang demikian erat, rasanya yang demikian itu terlewat mengerikan. Ada sekelumit ketakutan akan sesuatu yang pernah ada namun terkikis dan hilang. Kehilangan tentu bukan selalu dimaknai sebagai perwujudan desa yang musnah berganti berwajah kota yang sedemikian megah. Kehilangan yang hendak kita maknai adalah kehilangan roh. Tergilasnya tradisi berubah menjadi kebiasaan yang bisa jadi artifisial dan dangkal. Begitulah rasa khawatir menyisakan diri.

Maka untuk mengakhiri tulisan galau ini, mari sejenak menyanyikan lagu Iwan Fals sebelum merunduk mengheningkan cipta dan porak poranda dalam suka cita.

Desa harus jadi kekuatan ekonomi
Agar warganya tak hijrah ke kota
Sepinya desa adalah modal utama
untuk bekerja dan mengembangkan diri
Walau lahan sudah menjadi milik kota
Bukan berarti desa lemah tak berdaya
Desa adalah kekuatan sejati
Negara harus berpihak pada para petani
Entah bagaimana caranya
Desalah masa depan kita
Keyakinan ini datang begitu saja
Karena aku tak mau celaka
Desa adalah kenyataan
Kota adalah pertumbuhan
Desa dan kota tak terpisakan