BERBAGI

Perubahan kurikulum hampir selalu terjadi ketika ada perubahan rezim. Perubahan kurikulum itu selama ini telah menghasilkan apa? Saya belum pernah membaca hasil analisis atas perubahan beberapa kurikulum tersebut? Atau mungkin memang tidak ada studi komprehensif yang dilakukan atas hasil perubahan kurikulum? Perubahan kurikulum tentunya tidak bisa dinilai hasilnya hanya dalam kurun waktu 1 atau 2 tahun. Paling tidak baru bisa dinilai setelah satu siklus, misal perubahan kurikulum mulai kelas 1 SD, secara komprehensif hasilnya baru bisa dilihat setelah kelulusannya, dibanding kelulusan sebelumnya. Demikian juga di tingkat pendidikan yang lain. Lantas bagaimana kalau perubahan kurikulum terjadi hampir tiap tahun?

Ilustrasi; ayo kita segera ke tempat les. Sebentar, makan siangku belum habis… aku lelah belajar, pingin main dulu.

Saya sangat setuju dengan pengurangan beban mata pelajaran di SD, sebab beban pelajaran di tingkat SD terlalu berat. Belum saatnya mereka mendapatkan pelajaran seperti itu. Belum lagi harus ditambah dengan les-les dari sekolah maupun les lain. Belajar dan belajar, itulah keseharian mereka. Untuk bermain di luar saja mereka sudah kelelahan. Akhirnya komputer dan game jadi sasaran melepaskan kepenatan sekaligus membuat mereka semakin terlalu asyik dengan dunianya sendiri.

“Di TK itu kan pelajaranya cuma menyanyi dan bersenang-senang… TK-ku dulu di desa Om, cuma setahun. Tetanggaku di TK,… dekat Malioboro,.. setiap hari menangis kalau disuruh mengerjakan PR. PR-nya banyak sekali! Di Magelang ada sekolahan SD keren Om, namanya Sekolah Alam. Di sana kayaknya asyik banget, belajar jadi menyenangkan. Kalau belajarnya terlalu serius sehingga berasa berat, takutnya nanti kalau sudah besar akan menganggap belajar itu menyebalkan. Nggak asyiik Om!”

(Monita Mecihadila-SD Kelas 3)

Betul Monita, anak bisa menjadi bosan, belajar itu bisa menjadi tidak menarik karena anak terpaksa melakukannya. Dan ketika sudah menjadi besar, misal SMA, jadi suka berantem, karena masa kecilnya tidak ada waktu bermain? Beruntung Monita punya Mama dan Papa, yang mengerti dan paham bagaimana pembelajaran yang sesuai. Belajar jadi menyenangkan, karena belajar sudah bukan lagi kewajiban, tapi kebutuhan untuk diri sendiri. Tidak usah disuruh. Dengan senang hati belajar sendiri.

Mama sering kasih Cesar (Adik laki-laki Monit, senang kalau dibacakan buku oleh Kakaknya) buku dengan banyak gambar, lalu diceritain supaya adik tertarik. Tujuannya supaya Adik mencintai buku,

kelak kalau sudah besar jatuh cinta selalu dengan buku. Papa dan Mama selalu minta cerita dan ngobrol tentang apa yang dilakukan, apa saja yang dipelajari di sekolah, tidak diminta untuk belajar sendiri membuka pelajaran sekolah. Tanpa terasa Monita belajar kembali apa yang telah dipelajari. Papa dan Mama jadi tahu pelajaran Monita, Monita jadi belajar mengemukakan apa yang dipelajari, juga belajar diskusi, Om. (Monita Mecihadila-SD Kelas 3)

 

Mungkin Monita tidak menyadari atau belum paham, bahwa apa yang dilakukan oleh Mama dan Papanya adalah salah satu metode “pembelajaran partisipatif”,.. berjalan mengalir tanpa beban seolah sedang bersantai dengan Mama dan Papa. Dan saya kira bukan Monita saja yang belajar, pasti Papa dan Mamanya juga belajar dari proses yang terjadi. Bahkan Monita-pun protes, ketika momen “pembelajaran” tersebut mulai jarang dilakukan karena kesibukan kedua orangtuanya.

Belajar memahami karakter dan sifat anak; tentu tidak semua anak bisa diperlakukan sama, semua punya kekuatan dan kelemahan masing-masing. Bahkan cara belajar seorang anak pun bisa berbeda satu sama lain, apalagi minat dan bakatnya. Celakanya kurikulum yang ada, sering menggeneralisirnya, seperti semua anak dianggap sama. Sering kurikulum yang ada membelenggu anak dan juga gurunya sendiri. Kurikulum dan sistem pendidikan yang ada seolah menjadi mesin produksi, anak hanya menjadi objek, bukan subjek pendidikan. Anak sebagai objek cetak yang harus sesuai dengan cetakan yang dibuat. Guru tidak bisa berbuat banyak, karena harus mengikuti kurikulum yang ada. Jika tidak mengikuti, pasti akan disalahkan meski tindakan yang dilakukan, untuk kebaikan anak.

Sebenarnya kurikulum yang tepat untuk anak-anak (TK & SD) itu bagaimana? Apakah kurikulum yang ada sekarang tidak tepat? Menurut saya, YA. Selain bebannya terlalu berat, kurikulum yang ada tidak banyak memberikan kesempatan anak berkembang sesuai dengan minat/bakat dan kepribadiannya. Bahkan beban berat bukan hanya anak yang menanggung, guru dan orangtua pun jadi ikut menanggung beban. Guru menjadi gamang mendidik anak didiknya (saya katakan mendidik bukan mengajar), karena kurikulum sering berubah, orangtua pun secara ekonomi menjadi berat karena bukunya hampir tiap tahun ganti. Meskipun SPP gratis, ternyata biaya yang dikeluarkan malah jauh lebih besar.

Entah kapan mulainya, anak-anak di TK (terutama TK di kota; atau TK Favorit) yang seharusnya dunianya untuk bermain sambil belajar sudah diberikan belajar menghitung, membaca dan menulis, bahkan bahasa asing? Saat usia TK sebenarnya mereka cukup dikenalkan angka, huruf, bermain mengenal alam, mengenal orang lain, teman-temanya, masyarakat sekitar, membangun karakter diri, belajar baik dan buruk, jujur pada diri sendiri dan pada orang lain.

Membangun kapasitas mental; membangun norma dasar (kejujuran, kedisiplinan sebagai sikap), suri tauladan adalah metode yang paling tepat ketika anak usia TK dan SD. Apa yang mereka dengar, lihat akan sangat cepat diterima oleh mereka. Oleh karena itu bermain sambil belajar adalah metode yang paling efektif. Mengenalkan norma, agama, pengetahuan dasar, relasi, kepekaan sosial, empati, simpati dalam permainan belajar mereka. Janganlah mereka dibebani dengan target untuk bisa membaca, menulis bahkan dengan pelajaran bahasa yang bukan “Bahasa Ibu”-nya! Cukup pengenalan huruf dan angka. Jika mereka bisa baca tulis dan berhitung itu hanyalah nilai lebih, bukan menjadi target dan syarat kelulusan TK, atau bahkan syarat untuk bisa masuk SD! Di SD-lah mereka belajar menulis, membaca dan berhitung.

Dulu saya lulus TK belum bisa baca, hanya mengenal angka dan huruf, baru ketika di SD saya bisa membaca, berhitung dan menulis. Sekarang, anak TK yang belum bisa baca tulis berhitung kesulitan untuk bisa masuk SD, karena banyak SD mensyaratkan lulusan TK yang harus bisa baca tulis dan berhitung!

Saya sangat setuju dengan apa yang dikemukakan sahabat kecil saya,  Monita: “Kalau belajarnya terlalu serius sehingga berasa berat. Takutnya nanti kalau sudah besar akan menganggap belajar itu menyebalkan”

Mendidik sesuaikan dengan perkembangan anak. Anak itu bukan orang dewasa yang terjebak dalam badan kecil, mereka punya pikiran, frame berpikir dan cara sendiri sesuai dengan perkembangan usianya. Orang-orang dewasalah yang harusnya menyesuaikan, untuk menjadikan yang terbaik bagi anak.

BERBAGI
Artikel sebelumyaDanyang(an) Desa
Artikel berikutnyaMengamati Kota Trenggalek dari Bangku Dokar
Joeni Hartanto
Freelancer consultan alias buruh lepas, suka menulis di waktu luang. Ia adalah warga Sumbergedong, Trenggalek, yang kini menetap di Yogyakarta.