Barangkali, pembaca, terutama generasi millenial, masih asing dengan istilah Salalahuk. Salalahuk merupakan sebuah syair berbahasa Jawa yang berisi puji-pujian kepada Baginda Nabi SAW dan tauhidiyah. Umumnya, Salalahuk didendangkan selepas salat taraweh sambil diduran (menabuh bedug).

Malam itu, bintang-bintang memperelok langit di atas Desa Sukorejo, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Trenggalek, pertanda cuaca cerah. Sementara, rembulan melengkung menampakkan sepertiga bagiannya. Jamaah Masjid Subulus Salam banyak yang bergegas pulang begitu selesai salat taraweh. Anak-anak kecil yang semula meramaikan suasana taraweh, berhamburan lebih dulu menuju taman bermain PAUD Az Zahro tepat di depan masjid.

Namun tidak demikian dengan Mbah Marjan dan beberapa jamaah lainnya. Mbah Marjan, pemangku masjid yang terletak di RT 56, RW 28 tersebut, dengan sigap meraih dua tabuh kayu dan segera duduk menghadap beduk yang ada di serambi. Mbah Marjan, sejurus kemudian, mendendangkan Salalahuk diikuti yang lainnya.

Lantunan Salalahuk Mbah Marjan dan kawan-kawan mendayu-dayu lewat pengeras suara. Meski semua berusia senja, namun dari suaranya, mereka sangat bersemangat. Lebih-lebih saat menjumpai bagian syair bernada tinggi. Mereka seakan berlomba, suara siapa yang paling melengking. Hingga kira-kira 15 menit kemudian, lantunan Salalahuk berhenti, berganti suara tadarus Al-Quran dari para remaja.

Awit mbiyèn kéné Salalahukan, mben bar tarawèh (Sejak dulu di sini melantunkan Salalahuk, tiap usai taraweh),” kata Mbah Marjan.

Dituturkan Mbah Marjan, setelah salat taraweh dan witir selesai, ia dan beberapa jamaah lain menyanyikan Salalahuk—sambil menabuh beduk di serambi, sementara di saat bersamaan, para remaja bertadarus di dalam masjid. Hal itu berlangsung puluhan tahun yang lalu, sejak masjid yang dulu pernah digunakan untuk salat Jumat tersebut didirikan.

Saiki (sing Salalahukan) kari sing tuwèk-tuwèk, Mas,” sebut Mbah Marjan dengan nada prihatin. “Kuwi aé mung siji-loro”.

Jejak Salalahuk di Trenggalek

Salalahuk cukup populer di masyarakat Trenggalek, utamanya di kalangan tua. Namun demikian, cukup sulit melacak awal kemunculan Salalahuk di Trenggalek.

Sing jelas saka mbah-mbah mbiyèn,” jawab Mbah Marjan saat ditanya dari mana ia menghafalkan Salalahuk.

Mbah Marjan yang kini berusia hampir 70 tahun itu mengaku tidak mempunyai catatan sama sekali. Hanya, ia meyakini, Salalahuk adalah syair sholawat gubahan Wali Songo, dan diturunkan dari generasi ke generasi secara lisan.

Jika Mbah Marjan tidak memiliki catatan syair Salalahuk, tidak demikian dengan Mahsun Ismail. Mahsun, mantan Wakil Bupati Trenggalek dan mantan Ketua PC (Pengurus Cabang) GP (Gerakan Pemuda) Ansor Trenggalek itu mengaku, sudah sejak lama, ia menyimpan teks Salalahuk yang ia dapatkan dari kakeknya.

Bermula dari even Festival Bedug Salalahuk yang diselenggarakan GP Ansor Trenggalek tahun 2009, Mahsun, yang mencari teks Salalahuk sebagai rujukan festival, berhasil memperolehnya dari Mbah Nahrowi, kakek bungsunya. Mbah Nahrowi, masih menurut Mahsun, mendapatkannya dari Mbah Badrun, Sumbergayam.

Aku nulis (syair Salalahuk) mbiyèn kuwi ning lawang lemariné Mbah Derun. Tak tulis (salin),” kata Mahsun menirukan kalimat Mbah Nahrowi.

Selain dari Mbah Badrun, Mahsun juga menyimpan teks Salalahuk yang ditulis oleh santri Pondok Baruharjo. Teks tersebut, lanjut Mahsun, bersumber dari Nuryakin. Nuryakin sendiri merupakan keponakan dari Mbah Nahrowi.

“Jadi sumbernya sama. Dan di mana-mana, yang saya pakai sejak dulu ya ini,” kata Mahsun sambil menyodorkan teks Salalahuk beraksara Arab pegon.

Mahsun memang pencinta Salalahuk, sebagaimana ia akui. Selama menjabat Ketua GP Ansor Trenggalek, ia beberapa kali memfestivalkan Salalahuk. Di antaranya, di Gedung NU Trenggalek, di alun-alun Trenggalek, dan di Kecamatan Kampak. Di samping itu, tiap tanggal 20 Ramadan, ia bersama komunitasnya menggelar diduran (menabuh beduk) sambil Salalahukan di atas gunung Gemblung, sebuah perkampungan atas angin yang terletak di Desa Kendalrejo, Kecamatan Durenan.

Sayangnya, Salalahuk, sebuah folksong lisan yang jamak dijumpai di wilayah Mataraman itu, kini nyaris senasib dengan sekian tradisi kuno lainnya: terancam hilang.

Namun demikian, upaya nguri-uri syiir peninggalan para wali tersebut bukannya tidak ada. Misalnya—selain yang telah dilakukan Mahsun di atas—even berupa Megengan Kubro, yang dirintis komunitas pemuda Desa Jajar, Kecamatan Gandusari, sejak dua tahun yang lalu. Even yang sudah terselenggara tiga kali ini, menjelang bulan Ramadan, salah satu agenda utamanya adalah pembacaan Salalahuk.

Kiranya, masih banyak lagi, baik orang maupun komunitas di berbagai wilayah di Trenggalek, yang menginsafi pentingnya melestarikan Salalahuk. Seperti yang diyakini Mbah Marjan, “Ya lèk aku ora ninggalné Salalahuk, merga, jaré mbah-mbah mbiyèn, kuwi anggitané para wali.”

Syair Salalahuk

Syair Salalahuk berisi sholawat Nabi, ajaran rukun iman sebagai inti, dan doa. Rukun iman terdiri dari  iman kepada Allah, iman kepada malaikat, dan iman kepada rasul, yang masing-masing dijabarkan sifat wajib dan sifat muhal-nya. Yang menarik, doa pada bagian penghabisan Salalahuk berupa doa untuk keselamatan dan kemakmuran negeri.

Namun demikian, sebagai konsekuensi dari tradisi lisan, Salalahuk mempunyai banyak versi. Syair yang dilantunkan Mbah Marjan, misalnya, sedikit berbeda dengan yang dipakai Megengan Show di Desa Jajar. Juga berbeda dengan teks yang disodorkan Mahsun. Mahsun sendiri, yang memiliki pengalaman cukup panjang dengan Salalahuk, menyebut ada banyak versi yang ia temui, kendati secara garis besar sama.

Perbedaan itu, menurut Mahsun, hanya terletak pada pelafalan, urutan, serta, yang menarik, adanya tambahan doa.

“Saya yakin, Salalahuk itu dari Wali Songo. Tapi pada perkembangannya, ada tambahan doa keselamatan negeri, itu dari ulama setelahnya,” tutur Mahsun.

Berikut salinan latin syair Salalahuk yang disimpan Mahsun, yang berasal dari Nuryakin, dan bersumber dari Mbah Nahrowi, dari Mbah Badrun:

Shollallahu ‘alan Nabi Muhammad
Muhammad Syafi’il Khalqi fi yaumil qiyamah
Ya Robbana Ya Robbana waghfir lana dzunubana taqabbal du’aana
Huwarrohman Huwarrohim
Sing Rohim Dzat kang sampurno
Sampurnane wong alam kabeh. 

Allah wujud qidam baqo’ mukholafatu lil hawaditsi wal qiyamu binafsihi wahdaniyyah qudrat irodat, ‘ilmu, hayyat, sama’ bashar
Kalam qadiran, muridan, ‘aliman, hayyan, sami’an, bashiran, mutakaliman. 

Ingsung ngimanaken malaikat iku
Utusane Allah kawulane Allah
Kang werna-werna rupane, kang werna-werna gawene, werna-werna ngibadahe
Tanpa syahwat tanpa nafsu, ora bapa ora ibu, ora lanang, ora wadon, ora mangan ora nginum
Jisime jisim alus, bangsa nur.

Asyhadualla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar rasululah.
Anekseni ingsun setuhune ora ana ing pengeran kang sinembah kelawan sak benere
Kang wajib wujude, kang muhal ‘adame, kang mesthi anane,
Anging Allah.

Anekseni ingsun setuhune kanjeng nabi Muhammad iku uusane Allah, kawulane Allah
Kang rama sayyid Abdullah, kang ibu Siti Aminah
Ingkang dzohir ana Mekah, hijroh ing Medinah, jumeneng ing Medinah, gerah ing Medinah, seda jng Medinah, sinarekaken ing Medinah
Bangsane bangsa Arab, bangsa rasul, bangsa Quresy. 

Utawi yuswane kanjeng nabi Muhamad iku sewidak tahun, punjul tigang tahun
Utawi maknane lafadz lailahaillallah iku makna nafi lan itsbat
Utawi kang den nafekaken iku sekèhé pengeran, pengeran kang liya, saking pengeran kita, kang agung kang maha mulya,
Utawi kang den itsbataken iku pengeran kang sah, kang setunggal, kang ora dinadèkaken.
Ndadèkaken ‘alam kabèh, yaiku aran Allah.

Tegesé aran Allah iku aran ing dalem dzat kang wajib wujudé, kang muhal ‘adame, kang mesthi anané, ora werna ora rupa, ora arah ora anggon.

Lan sing sopo wongé ngucapaken setuhuné Allah iku werna rupa arah anggon, mangka wong iku dadi kufur.

Utawi kanjeng nabi Muhammad iku manungsa kang lanang, kang merdéka, kang wus ‘aqil baligh, kang bagus rupané, kang mencorong cahayané, kadi purnamané mbulan, utawa kaya srengéngé, kang katurunan wahyu, ingkang wajib anduwèni sifat sidiq amanah tabligh.

Sidiq temen, amanah kang percaya, tabligh anekakaken.
Muhal unyo, muhal cidro, muhal ngumpetaken.
Ingkang wenang anduweni sifat ‘aradh basyariyah.
Kang ora nyudaaken ing dalem derajaté ingkang maha luhur.

Allahumma sholli ‘ala Muhammad
Allahumma sholli ‘ala Muhammad
Wa ‘ala alihi, wa ‘ala âlihî, wa shahbihî wa sallim.

Allâhummaj’al hadza baladan âminan
Allâhummaj’al hadza baladan âminan
Warzuq ahlahû, warzuq ahlahû
Wâsi’an thoyyibatan hasanah.

TINGGALKAN KOMENTAR