Sunday
9 August 2020
Njajah Desa Milang Kori


Upaya-Upaya Menghadapi Covid-19

Sebuah Esai dari Trigus D. Susilo terbit pada 13 April 2020 — Tag: , , — Artikel ini dibaca normal dalam 4 menit.

Siapa yang dapat melihat virus Covid-19 secara kasat mata? Ilmu sains sampai saat ini belum dapat menjelaskan makhluk hidup apa yang bisa melihat virus, termasuk manusia. Karena keterbatasan ini, maka untuk bisa melihat virus, manusia butuh alat khusus. Alat ini bisa dipakai melihat objek kecil namun tidak diproduksi secara massal untuk manusia. Karena, selain harganya mahal, juga tak banyak yang bisa menggunakan. Hanya orang-orang khusus yang memiliki fasilitas seperti ini: di antaranya, ahli virologi.

Maka sebenarnya, kebanyakan manusia tidak tahu bagaimana rupa dan bentuk Covid-19. Tidak tahu di mana ia berada dan kedatangannya untuk tujuan apa. Menurut saya, lebih banyak orang tahu tentang virus mematikan ini dari berita atau artikel yang ditulis orang.  Tulisan ini seperti artikel di media masa. Jadi, kita tahu karena diberitahu orang lain yang lebih ahli, seperti ahli virus dan orang-orang yang kompeten lainnya di bidang ini.

Adanya berita simpang siur, bisa jadi dihasilkan dari terkaan-terkaan belaka atau malah dihasilkan dari ketidaktahuan, yang akhirnya mendapat predikat informasi hoaxs. Yang demikian ini sebenarnya malah menjadikan kita tersesat dalam memahami wabah. Lha kita ini aneh, muncul Covid-19, lalu banyak yang menjadi ahli virus. Betapa dinamisnya masyarakat kita.

Maka, tak heran kalau beritanya kadang simpang siur, seperti misalnya, awal-awal Covid muncul, banyak orang (melalui rekaman video) atau artikel berita, menganjurkan orang-orang untuk berjemur langsung di bawah terik matahari. Karena hal demikian dianggap dapat membunuh virus.

Faktanya yang demikian itu tidak benar. Virus memang mati jika terpapar ultraviolet, tapi tidak untuk intensitas panas cahaya yang dihasilkan oleh matahari. Yang bisa dipercaya jika virus mati bila kena panas adalah panasnya air mendidih. Fungsi air direbus sebelum diminum adalah untuk membunuh bakteri dan virus, supaya air aman diminum. Jadi kalau mau virus ditubuh mati, rebus dulu tubuhmu!

Oh ya, katanya wabah semacam ini dahulunya pernah ada. Saya memastikannya dengan bertanya kepada beberapa orang tua. Ternyata mereka punya kenangan tentang pagebluk. Bahkan jika kita amati lebih lanjut, keberadaan tethek molek yang dipercaya sebagian masyarakat dapat mengusir pagebluk merupakan bukti bahwa dahulu pernah ada kejadian yang hampir sama. Tethek molek merupakan upaya yang dipercaya sebagian masyarakat untuk mengusir pagebluk. Jangan tanya bagaimana penjelasan sainsnya, toh mereka pasti akan menjawabnya: “sing penting yakin”.

Dulu disebut pagebluk, artinya ya sama, sama-sama wabah, tapi cara melihat pagebluk dulu dan sekarang berbeda. Dahulu karena belum ada alat untuk bisa melihat virus pun ilmu kedokteran belum semodern sekarang, maka panggebluk dihubung-hubungkan dengan keyakinan masa lampau. Misalnya seperti adanya “hantu” tertentu yang suka mengambil nyawa manusia.

Tapi sekarang, karena sudah modern dan banyak pakar kesehatan, wabah bisa dijelaskan secara ilmiah. Karena bisa dinalar, orang dengan mudah mencari pencegahnya. Tapi toh tetap saja, kasus semacam ini selalu banyak memakan korban nyawa. Coba cari persamaan antara “hantu” tadi dengan Covid-19, sama-sama tak terlihat mata telanjang dan berbahaya.

Orang tua yang saya temui (sudah sangat sepuh umurnya), menjawab dengan santai ketika saya tanyai, bagaimana dulu menghadapi pagebluk? Ia menjawab “ethok-ethok ora open, tapi ya ora ngandakne” (seolah tidak terjadi apa-apa, tapi tidak meremehkan). Mereka tetap pergi ke hutan seperti hari-hari biasa. Sikap seperti ini menunjukkan ketenangan dalam menghadapi musibah: ethok-ethok ora open lak ya ilang dewe. Masuk akal sih, pergi ke hutan otomatis menerapkan physical distancing. Apa tumon orang pergi ke hutan rame-rame seperti orang pergi ke pasar, kecuali sedang ada gerakan/gotong-royong?

Akan tetapi, mengharapkan masyarakat tidak panik atas serangan makhluk bernama Covid-19 tampaknya susah. Atas kemajuan yang telah dicapai peradaban dunia, orang dengan mudah membaca berita menakutkan, seperti berita jumlah orang meninggal karena Covid-19. Berita-berita ini diproduksi setiap saat dan pada setiap kejadian. Maka mengharap masyarakat tidak panik, jelas merupakan kepanikan sendiri.

Lha bagimana, konon orang yang sering mengatakan jangan korupsi malah terjebak kasus korupsi, kok. Tetap butuh upaya-upaya untuk menguatkan masyarakat. Pernah membaca berita penolakan pemakaman jenazah positif Covid oleh masyarakat? Itu adalah kepanikan. Saya jadi berpikir, saat ini yang maju itu cuma alatnya, otaknya masih sama: guoblok.

Kabupaten Trenggalek tergolong kabupaten yang peka dalam menghadapi Covid-19. Pemerintah memberlakukan pemeriksaan di ruas-ruas jalan perbatasan dengan memasang check poin. Setiap pengendara yang memasuki Trenggalek harus diperiksa terlebih dahulu, misalnya memeriksa suhu tubuh dengan alat tertentu yang diarahkan ke dahi. Orang yang berkedara dari Tulungagung menuju Trenggalek diperiksa terlebih dahulu di pos check point Durenan. Meski banyak pula yang melaporkan ketidakdisplinan petugas (jam tertentu tidak diberlakukan demikian). Toh ini sudah bisa disebut upaya. Jangan mengharap lebih pada petugas kalau kita sendiri juga masih sering mengabaikan imbauan petugas.

Bukan hanya pemerintah, masyarakat pun juga berupaya melakukan pencegahan, misalnya dengan menyemprotkan disinfektan ke tempat-tempat tertentu. Menurut informasi yang saya baca, ternyata deterjen lebih efektif membunuh virus ketimbang alkohol. Nah disinfektan ini dibuat dengan memakai detergen, pembersih lantai, pemutih dan lain-lain. Tentu saja dengan takaran yang diberlakukan oleh dinas kesehatan. Upaya-upaya penyemprotan disinfektan dilakukan oleh masyarakat dari level RT sampai kabupaten, bahkan juga dilakukan oleh organisasi keagamaan dan kepemudaan.

Jangan tanya seberapa efektif hal ini dapat mencegah penyebaran Covid-19. Toh siapa juga yang tahu di mana Covid berada. Apakah cuci tangan dapat memastikan bahwa tanganmu memang terpapar virus sehingga harus selalu dicuci? Sama halnya dengan penyemprotan tempat-tempat ibadah, siapa yang tahu di sana ada virus sehingga harus disemprot?

Pada dasarnya kita sama-sama tidak tahu. Menurut saya, baik cuci tangan maupun melakukan penyemprotan disinfektan sama-sama menguatkan psikologi kita sehingga yakin bahwa kita telah berupaya. Mana yang lebih efektif? Jangan pernah bertanya demikian: sing penting yakin.

Mengharap masyarakat tidak panik menghadapi Covid-19, tidak cukup dengan imbauan belaka. Harus ada upaya yang dilakukan, tentu menyesuaikan kapasitas masing-masing. Bagi pemerintah, selain mengeluarkan imbauan, juga harus dibarengi dengan upaya lain, misalnya dengan menganggarkan uang kepada masyarakat guna dipakai menanggulangi wabah.

Bagi pemuka agama, bisa dengan menguatkan hati masyarakat dengan hikmah-hikmah agama. Bagi masyarakat mungkin bisa berupaya dengan nyemprot dan bersih-bersih lingkungan. Dengan begitu, kepanikan bisa diminimalisir, karena semua orang akan berpikir bahwa seberapa bahayanya wabah ini bagi manusia, masih ada upaya yang bisa dilakukan. Semoga wabah ini segera berakhir. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR