Tuesday
7 July 2020
Njajah Desa Milang Kori


Tantangan Mencintai Munjungan

Sebuah Esai dari Nur Fitriyani terbit pada 15 Februari 2020 — Tag: , — Artikel ini dibaca normal dalam 2 menit.

Apa yang ada di benak kalian, saat mendengar kata “Munjungan”? Akses jalan yang mengerikan dan banyak jurang. Dari cerita-cerita penulis terdahulu yang telah menulis soal “Munjungan”, terlalu familiar di benak masyarakat luar Munjungan ialah medan yang ekstrem.

Alasan tersebut juga yang menjadikan anak-anak mudanya memilih untuk merantau ke pulau sebrang. Ketimbang membangun desa dengan kondisi ekonomi yang tidak menentu. Contoh saja saat musim cengkih. Warga Munjungan harus pontang-panting mencari tengkulak yang mau memberi harga tinggi. Harga cengkih basah berkisar Rp 23.000 per/kg, kalau cengkeh kering berkisar Rp 70.000 per/kg. Menurut cerita dari petani cengkih sekitar rumah, harga cengkeh anjlok drastis. Beda dengan harga cengkih 3-5 tahun yang lalu.

Dulu, cengkih basah dihargai 40.000 per/kg, cengkeh kering 120.000 per/kg. Setidaknya dulu dengan penghasilan utama dari cengkih masyarakat Munjungan bisa membangun rumah, beli motor, beli mobil, beli lokasi cengkih lagi ataupun menyekolahkan anak-anak sampai perguruan tinggi.

Harga cengkih yang anjlok menjadikan masyarakatnya memutar otak kembali harus menanam apa di musim yang tidak menentu. Sebagian ada yang memilih menjadi TKI/TKW, sebagian memilih merantau di pulau sebrang. Sebagian berdagang dengan ongkos pulang pergi Munjungan dengan angkutan Rp 60.000, belum lagi ongkos barang yang dibawa. Benturan ekonomi yang mencekik ditambah dengan tuntutan bece’an yang bagi masyarakat Munjungan “Ada uang seadanya pilih mbecek ketimbang dirasani tetangga”. Bisa dikatakan satu bulan bisa 30-40 bece’an. Katakanlah satu orang yang mbece’ Rp 50-100 ribu sebulan, sudah berapa uang yang harus dikeluarkan?

Belum lagi jika sudah memasuki musim hujan. Banjir dan tanah longsor menghantui warga Munjungan. Banjir, rumah-rumah warga yang banyak dibangun di dekat sungai, was-was dan dihantui andai terseret banjir. Tahun 2017 kalau gak salah, Sekolah Dasar yang dibangun di Desa Bendoroto, Dusun Podang, terseret banjir. Hanya menyisakan gapura kecil. Benda-benda di dalam sekolah pun terseret arus. Tanah longsor, sejauh ini jika musim penghujan tiba tanah longsor bisa menutup akses jalan utama Munjungan ke kota dan daerah-daerah lain.

Jika akses jalan ditutup benar-benar macet sudah. Macet ekonomi dan pendidikan. Pedagang yang biasanya jualan di pasar Munjungan tidak bisa berdagang, otomatis kebutuhan warga jadi terhambat. Sebaliknya, pedagang Munjungan yang harus belanja di Kecamatan Kampak juga tidak bisa. Anak-anak kuliah yang sedang berlibur satu dua hari di rumah terhalang balik ke tempat kuliah. Belum lagi guru-guru yang mengajar di Munjungan adalah guru yang tidak berdomisili di Munjungan.

Saya masih ingat pernah bertemu dengan guru Sekolah Dasar Bendoroto, guru tersebut asli dari Watulimo. Setiap hari harus melewati jalan Prigi-Munjungan yang belum beraspal masih berbatu. Beliau pernah bercerita, sudah ganti sepeda motor 5 kali dalam 5 tahun mengajar. Ini adalah risiko pengabdian di sekolah terpencil sehingga harus diterima begitu saja.

Secara garis besar, tantangan mencintai Munjungan ialah jalan pegunungan yang banyak jurang, musim yang tidak menentu dalam segi perekonomian, musim penghujan yang membayangi bila terjadi banjir dan tanah longsor, pernikahan usia dini, juga perceraian tinggi. Menjadi warga yang terisolir menjadikan saya sering mengatakan kepada teman-teman Komunitas Mahasiswa Munjungan di Tulungagung (KAMUDITA) “Tantangan mencintai Munjungan, bukan hanya dari alasan medan yang ekstrem, tapi juga perihal kekuatan gotong-royong dan tolong menolong masyarakatnya. Di samping, sudah selayaknya kita mencintai tempat yang memberi kita makan dan minum untuk hidup. Meski saya tidak terlahir dari sana…” Kalimat terakhir saya katakan untuk memberi penekanan buat mereka yang asli kelahiran Munjungan. Jangan kalah dengan saya, warga yang bukan kelahiran di Munjungan.

Saat ini jalan ke Munjungan lebih dekat dan tidak terlalu jurang, karena Jalur Lintas Selatan (JLS) Prigi-Munjungan sudah beraspal dan bisa dilewati kendaraan. Semoga ada benih-benih kecintaan warganya untuk lebih menyukai Munjungan dan tidak malu menjadi orang Munjungan. Terutama anak-anak muda, jangan malu jika ditanya kamu asli mana?

TINGGALKAN KOMENTAR