Kulit yang digigit tengu
Kulit yang digigit tengu

Satu waktu di suatu malam, beberapa orang teman sedang tenggelam dalam pembicaraan tentang berbagai hal, dan lalu tiba-tiba menyinggung perihal madu dari lanceng—yang barusan  saya sebut adalah nama hewan dari jenis lebah dengan tubuh lebih mungil—, ingatan saya segera tertuju pada rumah lanceng, yang terbuat dari barang-barang lumayan lengket. Rumah lanceng zaman kecil saya berguna di antaranya untuk menarik tengu yang menempel di kelamin anak-anak. Di sebuah masa di saat saya masih berusia anak sekolah dasar, manuk saya kerap dihinggapi makhluk tersebut. Dan rata-rata, anak-anak yang tertempeli tengu adalah mereka yang doyan nrutus (ngeluyur bermain) di kebun-kebun dan semak-semak di kampung.

Tengu ini hewan yang, secara ukuran, sekecil tanda baca titik: dan sering menginap atau sekadar mampir di kelamin anak-anak. Barangkali saja juga menghisap darah dalam porsi yang sangat sedikit dibanding nyamuk. Ketika tengu menempel di kelamin, bisa membuat rasa di kulit, selain menimbulkan gatal, juga benar-benar tidak nyaman. Sudah pasti juga memerah dan bengkak.

Jika kita berusaha menghalaunya keluar secara manual, mengunakan kuku jari, hampir dipastikan sulitnya minta ampun. Jadi, digunakan-lah rumah lanceng tersebut untuk melepaskannya dari kulit. Jadi, rumah lanceng menjadi semacam magnet untuk menarik tengu keluar dari tempatnya menempel di kulit kelamin.

Dari situ, lantas saya berpikir, kenapa anak-anak sekarang tak lagi kita dapati, mengeluh kelaminnya ditempeli makhluk kecil mungil berwarna merah itu. Apakah karena anak-anak kini tak lagi suka nrutus ke kebun-kebun; ke semak-semak, seperti masa sewaktu saya masih anak-anak—yang rata-rata doyan sekali keluyuran ke berbagai tempat penuh semak belukar: dari satu kebun ke kebun, di sekitar rumah.

Saya ingat betul sewaktu kecil betapa sering ditempeli tengu ini. Saya jadi mengira-ngira, apakah karena kini anak-anak jarang nrutus sehingga hewan yang bernama tengu itu kemudian tak lagi mendapatkan rumah untuk menempel. Lalu mereka ikut punah dengan sendirinya (?)

Dunia anak-anak di kampung adalah dunia bermain yang mengasyikkan dan tak terjadwal. Bahkan karena keriangan itu, mereka sering lupa tidur siang dan makan. Seingat saya ketika berusaha menghilangan tengu ini dari lekukan kulit, betapa rasanya sangat menjengkelkan. Kalau terpaksa ia sulit dihilangkan, baik dengan jari tangan maupun lanceng sebagai semacam magnet untuk melepaskannya, maka jalan selanjutnya—atau kalau tak malah satu-satunya—adalah menyiramkan minyak tanah ke kulit tersebut.

Ingat dengan hal-hal ini, saya jadi berpikir bahwa ternyata telah lama sekali saya melesat meninggalakan dunia anak-anak yang asyik. Meski, sesuatu yang sepele dari masa kecil itu sering singgah di benak, ketika datang suatu momen untuk mengingatnya. Dan memanggil ingatan itu muncul ke permukaan serupa impuls-impuls.

Ya, ingatan adalah barang paling berharga dari apa yang dimiliki manusia ketika masih hidup. Melebihi benda-benda dan barang-barang material. Dengan kekuatan apakah pikiran-pikiran ini dibentuk hanya bersarkan pada materi-materi di kepala dan tubuh kita. Ketika usia tua menyergap, maka berturut-turut ingatan manusia pun akan sedikit demi sedikit rapuh dan surut. Ia dijangkiti oleh musuh utama ingatan, yakni lupa. Jangankan ingatan yang sudah tertimbun berpuluh-puluh tahun, saat seseorang dilanda kepikunan, apa yang dilakukan tadi pagi saja tak pernah diingatnya di sore hari.

Begitulah ingatan bekerja secara ajaib pada diri manusia. Masa lalu dan masa depan seperti punya batas tipis: seberapa kokoh ingatan bertahan dalam fisik manusia yang rapuh. Ketika manusia menua, hampir dipastikan ingatan tak lagi punya tempat yang baik di dalam kepalanya. Ingatan masa lalu yang kokoh akan ditampik oleh dirinya sendiri di masa tua, lebih-lebih ingatan yang tak kokoh.

Kembali ke soal tengu. Saya yakin anak-anak yang kelaminnya sering ditempeli tengu, adalah anak-anak yang makin dekat dengan dunia sekitar. Dalam arti, dekat dengan alam lingkungannya, yang terbuat dari semak belukar: di mana masih banyak tumbuhan dan semak, masih banyak mburitan yang ditanami tumbuh-tumbuhan seperti uwi, gembili, ketela, santiyet, ceplukan, tumbuh-tumbuhan rambat dan yang lainnya. Masih banyak pohon pisang dan pohon ketela yang besar-besar dan membuat dunia sekitar rindang.

Kini ketika anak-anak kelaminnya sudah jarang ditempeli tengu, ada dua jawaban yang bisa dimungkinkan: pertama memang karena situasinya berbeda, anak-anak kecil sekarang tak seliar-seriang dulu dalam bermain dan nrutus. Entah karena tak diperbolehkan orangtua atau memang tak seriang anak-anak dahulu. Sementara jawaban kedua adalah, karena puluhan tahun dari masa saya kecil, demografi penduduk makin tumbuh pesat. Lahan-lahan di belakang dan samping rumah kita, yang dulunya masih ditumbuhi pohon-pohon dan tumbuhan semak-belukar, kini sudah berganti dengan bangunan-bangunan rumah baru milik saudara atau tetangga, dari anak-anak mereka yang sudah berumah tangga.

Semak-semak belukar, pepohonan yang rindang, halaman-halaman yang luas, sawah-sawah dan kebun-kebun di halaman belakang dan pekarangan, di sanalah kita dibuat menjadi anak-anak yang riang di masa itu, dan tumbuh besar pelan-pelan sekaligus melakoni usia dengan pengalaman-pengalaman masa kecil itu, untuk ditempa menjadi manusia yang berbeda di masa kini.

TINGGALKAN KOMENTAR