Friday
18 October 2019
Njajah Desa Milang Kori


Mempertimbangkan: Wisata Kemiskinan

Dalam perjalanan ke kawasan wisata Dilem Wilis di Kecamatan Bendungan, tiba-tiba Mas Trigus menyodorkan gagasan unik. Membuka paket wisata kemiskinan….

Sebuah Esai dari Bonari Nabonenar terbit pada 14 September 2019 — Tag: , , — Artikel ini dibaca normal dalam 3 menit.

Dalam perjalanan ke kawasan wisata Dilem Wilis di Kecamatan Bendungan, tiba-tiba Mas Trigus menyodorkan gagasan unik. Membuka paket wisata kemiskinan. Di Kabupaten Trenggalek. Seperti biasa, ketika menerima sentuhan pada sesuatu yang sedang mendekam di dalam pikiran, saya langsung menyalak. Sebelum Mas Trigus menyelesaikan kalimatnya, saya mulai berpidato. Bahwa itu ide yang bagus. Bahwa, saya juga punya pikiran serupa. Padahal, seperti apa rupa pikiran Trigus belum sepenuhnya digambarkan.

Jadi, begini. Beberapa waktu sebelumnya, saya menerima wisatawan domestik di rumah orangtua saya. Di desa. Mereka datang sekeluarga, berempat, plus seorang lagi dari keluarga lain. Dari kota yang sama. Menempuh perjalanan lebih dari 100 km untuk sampai ke desa saya. Masih ditambah pula bonus sesatan, maksudnya tersesat ke jalan yang lebih jauh, gara-gara hanya mengandalkan petunjuk Google. Eh, kok ngelantur.

Cekak aos-nya, ternyata tamu saya membawa setumpuk oleh-oleh, berupa baju dan celana anak-anak, seragam sekolah, dan kaos untuk dibagikan sampai ke tetangga kiri-kanan. Sebelum mereka berangkat, memang saya menerima pertanyaan, ”Apakah di situ ada anak-anak usia sekolah yang sekiranya layak untuk diberi pakaian bekas layak pakai?” Saya jawab, ”Ada!” Tetapi, yang kemudian mereka bawa bukan hanya pakaian anak-anak, tetapi juga baju untuk ibu-ibu dan bapak-bapak. Hanya beberapa yang berstatus bekas. Lainnya malahan masih belum dilepas label-nya. Maksudnya, masih anyar. Gres!

Kemiskinan absolut. Entah, apakah itu istilah yang tepat. Tetapi, saya bayangkan, orang kota bisa akan ”terkagum-kagum” bila menemukan sebuah gubug reyot, di desa, yang di dalamnya hanya tinggal seorang janda. Yang sudah sedemikian renta. Yang harus menyelesaikan pekerjaan manusia usia produktif sendirian. Rumah-rumah yang lebih tepat disebut sebagai gubug reyot itu memang belakangan semakin berkurang. Oleh program bedah rumah, baik yang disubsidi pemerintah maupun yang dibiayai dari urunan warga. Tetapi, jika orang mau mendekati, masuk ke dalamnya, aroma kemiskinan sampai pada titik terendahnya masih ada. Kemiskinan juga ada di kota-kota. Tetapi, kadar dan tampilannya bisa jauh berbeda dengan kemiskinan di desa-desa.

Yakinlah, ada banyak orang kota yang akan merasa lebih lengkap bila juga bisa berbagi kegembiraan dalam perjalanannya ke desa-desa. Seperti tamu saya itu. Maka, bukannya kita ngarep-arep, melainkan alangkah baiknya bila bisa membantu mereka, menunjukkan jalan untuk berbagi kegembiraan. Toh, ”berbagi kegembiraan” itu juga tidak harus selalu berkaitan dengan makanan. Dengan pakaian. Atau, bahkan, uang. Walau, bisa jadi pada praktiknya justru kedapat semua. Seperti yang dilakukan tamu saya itu.

Para wisatawan bisa berbagi pengetahuan. Atau ketrampilan. Dengan ibu-ibu, dengan pemuda-pemudi, dengan anak-anak kampung. Itu semua pasti bisa diatur ketika kita sudah mengidentifikasi siapa calon tamu kita. Ketika calon tamu kita seorang pelukis, kita tinggal mengabari anak-anak, para tetangga, untuk mengikuti acara belajar menggambar atau melukis. Bila mereka suka. Gratis. Tanpa biaya. Dan seturutnya. Bukankah ini belum keluar dari persoalan kemiskinan itu sendiri? Bukankah kemiskinan tidak hanya berhubungan dengan uang?

Di sisi lain, para wisatawan tentu akan mendapatkan semacam bonus kesenangan karena bisa berbagi, dan perjalanan wisatanya akan menjadi lebih berarti. Melihat bahwa di desa-desa, di kampung-kampung, masih banyak orang miskin (harta, pengetahuan, ketrampilan) pasti akan meningkatkan rasa syukur mereka. Dan itu akan membuat mereka semakin tabah ketika harus kembali ke kota dan menghadapi hal-hal menjengkelkan: macet, bising, beban kerja, dan lain-lain.

Dalam hal ini, asas atau prinsip yang tidak boleh dilupakan adalah: suka sama suka. Gembira sama gembira. Senang sama senang. Itu tak boleh ditawar-tawar. Tidak boleh ada unsur eksploitasi. Apakah itu eksploitasi orang kota, eksploitasi orang desa, maupun eksploitasi anak-anak. Dengan demikian akan terbangun ikatan batin antara warga di daerah tujuan wisata dengan para wisatawan. Padahal, jika dinilai dengan uang, ongkos ”pembangunan hubungan batin” inilah yang jauh lebih mahal daripada bangunan fisik yang segagah apa pun.

Kalau gagasan yang sebaiknya segera dipatenkan atas nama Mas Trigus ini bisa dikembangkan, saya yakin hal-hal yang sering jadi masalah dalam bentuk benturan antara kepariwisataan dengan nilai-nilai lokal di daerah wisata akan dapat diredam. Hubungan batin itu juga akan menjadi investasi yang tak terkira nilainya. Wisatawan bukan hanya ingin dan selalu ingin datang lagi ke tempat yang pernah mereka kunjungi, melainkan juga akan mengabarkan, antara lain melalui akun media sosial mereka, ”Jangan mengaku sebagai pelancong paripurna kalau belum ke Trenggalek. Walau kau sudah menyusuri Tembok China dan berswafoto di puncak Alpen.” Bukankah pikiran begini seperti belum pernah dipikirkan orang, bahkan sekaliber menteri kepariwisataan sekalipun? Memang kita punya, menteri kepariwisataan?

Beberapa waktu lalu seorang kawan menyatakan niatnya untuk suatu waktu piknik ke Puncak Banyon. Yang di Gandusari itu. Ia dari Kediri. Seorang pelukis. Serta-merta saya langsung menghubungi kawan yang di Trenggalek. Yang pelukis juga. Bara Wijaya namanya. Saya yakin, ngopi bareng bersama mereka akan jadi semakin asyik. Sebenarnya ingin pula saya menghubungi aparat Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Kabupaten Trenggalek. Tetapi, saya tidak tahu siapa orangnya. Padahal, bakal ada momentum yang bagus untuk saling berbagi. Tanpa ongkos yang mahal.

Saya berharap, secengengesan apa pun tulisan ini bernada, akan ada seorang dua orang yang pikirannya jadi tergelitik. Untuk menggagas implementasinya. Ini penting, ketika kini setiap desa seperti bercita-cita, atau bahkan sudah mengeluarkan ongkos, atau malahan sudah mulai memetik hasil dari pembangunan kawasan wisata. Atau malahan, mengemas desa itu sendiri menjadi desa wisata. Sementara, yang sering terbaca di dalam pikiran banyak orang itu adalah, bahwa pariwisata itu ya: penginapan, arena bermain, tempat berswafoto, rumah makan, dan sejenisnya.

Ini hanya gagasan. Bukan resep. Jangan bulat-bulat ditelan. Sampeyan mau berupaya menemukan resep dan takaran yang bagus dari sini? Itu bagus. Jangan seperti mau kopi sasetan yang tinggal nyedhuh. Ya, saya tidak punya resep jitu. Tapi, kalau masih penasaran, cobalah hubungi Mas Trigus. Dot. Com!*

TINGGALKAN KOMENTAR