menunda nggalek.co bubar

Nggalek.co adalah sebuah kebetulan. Ia dibuat dan ada sampai saat ini, bukan tujuan utama dari para pendirinya, melainkan hanya buah dari kesepakatan bersama pada 12 maret 2016. Saat itu kami hanya ingin berkumpul bersama para blogger Trenggalek atau bisa disebut perkumpulan para penulis lepas dan para penulis ekspert.

Ia bukan dari rencana utama, melainkan hasil dari sebuah pertemuan belaka, yang sampai saat ini, saya pribadi meyakininya sebagai media hasil campur tangan Tuhan, yang diberikan tugas untuk memberi suara lain bagi Trenggalek. Suara-suara yang bukan hasil dari jual beli kepentingan atau sekadar pamer supaya tampak eksis.

Nyata, setelah media ini hadir di tengah-tengah masyarakat Trenggalek dengan jargon “njajah desa milang kori”, muncul pula media dari komunitas lain—yang ngakunya bergerak dalam dunia literasi, namun tertangkap basah hanya jualan terasi (bau sekali!). Selain karena kemunculannya akibat kebaperan belaka. Media baru itu tumbang di-gerogoti ambisinya sendiri: media itu bernama Trenggalek Berliterasi.

Setidaknya, kehadiran nggalek.co berefek pada dua hal, pertama: ia mampu membangkitkan potensi terpendam putra-putri daerah yang bisa menulis mulai dari nol lagi, dan yang kedua: membuat orang-orang menjadi baper. Itu efek yang paling kentara ketimbang efek berkembangnya nggalek.co secara finansial. Dan justru, di situ-lah letak keunikannya.

Saya, yang mendaku sebagai web-master alias penjaga rumah–ini bukan karena saya bisa IT, melainkan lebih karena yang lain tidak mau atau bisa juga tidak mampu—sudah dua tahun bertahan menerima kiriman tulisan-tulisan dari editor dan mempostingnya. Bukan hanya itu, semua gambar yang ada di web, 98%-nya adalah buah pencarian saya.

Proses ini bukan tanpa pertimbangan, karena sekali mendaku dan berkomitmen, pantang bagi saya untuk ngglayem alias lari dari tanggung jawab. Dan juga untuk membuktikan bahwa komitmen itu bukan ucapan sampah. Di nggalek.co, sekalipun eksistensinya belum tergoyahkan, sebetulnya juga sedikit-banyak menghasilkan para pecundang. Ia bersungguh-sungguh siap turut serta, namun berujung pada kebusukan dalam berkomitmen. Mereka belum siap menjadi contoh.

Maka, setelah dua tahun menyaksikan para pencundang ini, lantas setiap kali posting naskah yang sudah diedit, saya selalu mengumpat, “dancok arek-arek, iki”. Namun berujung pada tulisan yang terposting. Jadi, kawan, anggap saja itu sebagai pecut untuk memotivasi diri, bahwa para pecundang pun kadang bisa menghasilkan tulisan, apalagi saat mereka sedang susah-susahnya.

Misbahus Surur, editor nggalek.co, yang tetap bertahan di sela-sela kesibukannya mendosen, baru saja menulis esai yang cukup membuat saya mengumpat lagi: Menanti Nggalek.co Gulung Tikar. Meski saya tidak menyepakati judul tersebut, tapi sebagai tukang post yang tidak boleh menolak tulisan karena pandangan subjektif, saya tetap mengeposnya juga. Ia, telah membuat hati saya lunglai.

Bagaimana tidak, sebelumnya saya sudah menganggap bahwa nggalek.co merupakan media hasil campur tangan Tuhan yang ditugaskan untuk membuat suara peringatan. Lantas ia dalam tulisannya, malah menunggu nggalek.co gulung tikar. Ditambah lagi, ia membumbui tulisannya dengan alasan, sudah memikirkan hal lain yang lebih penting, yakni istrinya.

Lantas dalam diam, setelah berpikir panjang, saya pun terpengaruh untuk mengamini tulisan Surur. Ada alasan masuk akal yang saya pahami, yaitu, apa untungnya ngopeni nggalek.co? Ia tak memberi apa-apa selain kesulitan itu sendiri.

Selama dua tahun, tidak ada sepeser-pun uang yang masuk dalam kantong pribadi, juga tidak ada parsel saat lebaran. Tidak ada pula uang bayaran yang didapat setelah mengirim tulisan. Bahkan untuk sekelas bayar internet pun, nggalek.co tidak mampu membayar. Jika dilihat dari kacamata manajemen keuangan, nggalek.co adalah seburuk-buruk pengelolaan.

Lagi, ia kerap di pandang sebelah mata oleh orang-orang yang ngakunya terpelajar. Semisal saat nggalek.co memunculkan tulisan kritis kepada pemerintah, atau jika ada salah penyebutan istilah, ia kerap menjadi ajang pembulian.

Nggalek.co disebut sebagai parasit. Memang begitu. Tapi ia parasit yang efeknya bagus. Parasit baik ini juga hinggap di tubuh saya.

Namun, kawan, jika nggalek.co di-akhiri karena alasan-alasan di atas, alangkah picik dan rendah kami di mata Tuhan. Seperti cerita saya di awal, ia bukan tujuan utama, ia adalah tujuan kedua, dan tujuan itu ada campur tangan Tuhan. Sekali waktu, saat saya berak di WC, saya diingatkan oleh suara terakhir idealisme. Ia menyeruak dari sela-sela kebimbangan, menyepakati nggalek.co gulung tikar atau kembali mengudara seperti biasanya: memosting dengan sebuah umpatan.

Lantas, ketika menyadari para pecundang-pecundang itu hadir di saat-saat mereka sedang susah, saya kembali berpikir. Mereka yang menulis indah ketika sedang galau, jika nggalek.co tiada, lantas ke mana mereka akan menyuarakan suara kegundahannya. Sedang mereka tetap membutuhkan panggung untuk (kadang) supaya dinilai ada dan masih bersuara.

Setiap bulan, saya akan tetap menulis, dan kembali mencari gambar untuk membumbui tulisan-tulisan yang sudah dikirimkan. Jika pun nanti nggalek.co benar-benar kukut, biarkan saja terjadi, asalkan itu buah campur-tangan Tuhan. Namun yang perlu saya ingatkan kepada Kalian, para pembaca nggalek.co: mati itu mudah, namun memastikan kematian layak dan terbaik itu sulit. Maka, selama para pecundang ini masih berkumpul, tidak akan kami biarkan nggalek.co mati dalam keadaan remeh. Ia akan tetap menyinyiri siapa pun.

TINGGALKAN KOMENTAR