Tuesday
12 November 2019
Njajah Desa Milang Kori


Kronik Pedalaman, Islam dan Akhir Majapahit (2)

Dari kronik lokal yang masih dipegang masyarakat hingga kini, digambarkan ihwal kisah Minak Sopal yang berkonfrontasi dengan pemimpin-pemimpin komunitas Buddha…

Sebuah Esai dari Misbahus Surur terbit pada 27 April 2019 — Tag: , — Artikel ini dibaca normal dalam 4 menit.

Dari kronik lokal yang masih dipegang masyarakat hingga kini, digambarkan ihwal kisah Minak Sopal yang berkonfrontasi dengan pemimpin-pemimpin komunitas Buddha di daerah setempat. Disebut dalam folklore bahwa pihak yang berhadap-hadapan dengan Minak Sopal adalah Mbok Rondo Krandon, seorang janda yang memiliki hewan peliharaan berupa Gajah Putih (barangkali ini simbol agama Budhha?).

Secara umum ada pola-pola serupa ihwal penyebaran Islam di wilayah pedalaman, dalam kronik-kronik lokal tersebut: yakni terdapat cerita tentang pendatang yang membuka permukiman baru. Lantas timbul konflik dengan penduduk setempat yang masih mempertahankan agama lamanya: Hindu atau Buddha.

Menurut keterangan Babad Patjitan (Ong Hok Ham, 2018: hlm. 22), bahwa konflik yang terjadi antara pemeluk Islam dan Buddha ini sebetulnya bukan hanya dilatari agama (permusuhan  agama), melainkan juga disebabkan oleh masalah rebutan lahan (pertanian). Kata Ong, kita nyaris bisa membaca secara tersirat dari kronik Patjitan bahwa yang terjadi adalah perebutan lahan subur yang sempit antara pendatang, yakni mereka para pemeluk agama Islam, dengan para pemukim lama: yakni para pemeluk agama Buddha. Tentu saja topik ini jarang diangkat dalam babad. Namun, bisa dipastikan menjadi isu dominan dalam masyarakat agraris di Jawa.

Kendati dalam ketatanegaraan (kerajaan) Jawa, sebetulnya sosok atau tokoh menjadi sumber energi, untuk menjalankan roda birokrasi dan budaya kerajaan. Kata Ong (2018: hlm. 14), penguasaan atas orang menjadi lebih penting ketimbang penguasaan atas lahan (wilayah). Begitu pula, tujuan dan strategi peperangan menunjukkan pentingnya penguasaan atas orang ini. Perang bertujuan untuk menghancurkan ibu kota musuh sehingga tidak bisa lagi dihuni. Maka, sering pula penguasaan atas tanah/tempat diikuti dengan pemindahan penduduk—baik dengan cara terpaksa maupun dengan sukarela—ke wilayah sang pemenang.

Sebelum Majapahit runtuh, Islam memang telah dominan di pusat-pusat perdagangan internasional, termasuk di Jawa. Lantas memenetrasikan pengaruhnya ke berbagai wilayah pelabuhan di Pantai Utara, di mana orang-orang Jawa anggota komunitas perdagangan ini secara berangsur-angsur mulai banyak yang suka lantas menyatakan diri memeluk Islam.

Agaknya tokoh seperti Ki Ageng Kutu, sang penguasa Wengker, adalah salah satu di antara orang yang masih menjaga kesetiannya, bukan saja kepada agama, melainkan juga pada wibawa Majapahit. Karenanya, ia juga menyatakan perang melawan keturunan Bhre Kertabhumi, yakni Raden Patah (yang telah mengutus Bathara Katong bergerak ke Wengker guna menyebarkan Islam sekaligus meluaskan hegemoni Demak). Ki Ageng Kutu bersikeras ingin menegakkan sisa-sisa kejayaan Majapahit di tengah perubahan situasi yang menampakkan diri di Pantai Utara Jawa: munculnya kesultanan Islam Demak.

Konflik Internal Majapahit

Raden Patah (juga Bathara Katong) adalah putra Bhre Kertabhumi (1468-1478 M) atau biasa disebut Brawijaya V. Adapun Brawijaya V sendiri adalah putra Rajasawarddhana/Sang Sinagara (1451-1453 M), Raja Majapahit ke 8 bergelar Brawijaya II. Dulu Bhre Kertabhumi ini, berkeraton di Tumapel yang direbutnya dari Bhre Padansalas/Dyah Suraprabhawa (Brawijaya IV). Dan keratonnya di zaman Girindrawardhana (Brawijaya VI) dipindah ke Daha (Hasan Djafar, 2012: hlm 50). Gelar Paduka Bhatara atau Bhre/Bra, lantas menjadi lekat dengan gelar-gelar keluarga kerajaan (bangsawan) yang mengepalai propinsi-propinsi tersebut.

Tiga Raja Majapahit terakhir satu sama lain saling bermusuhan. Tiga raja terakhir ini adalah: Dyah Suraprabhawa (Sinhawikramawardhana), Bhre Kertabhumi dan Girindrawardhana (menantu Bhre Kertabhumi). Dyah Suprabhawa berkeraton di Tumapel, Bhre Ketabhumi lalu merebutnya, lalu keraton berpindah ke Daha saat direbut lagi oleh Girindrawardhana (Dyah Ranawijaya) yang merupakan putra Dyah Suraprabhawa. Kelak Girindrawardana melakukan serangan balasan ke pusat kota Majapahit yang berada di Tumapel dan menggugurkan Raja Bhre Kertabhumi (ayah kandung Raden Patah). Daha di bawah Girindrawadhana kelak ditaklukkan oleh Pati Unus, yang merupakan menantu Raden Patah.

Di abad ke-15, kita menyaksikan merosotnya otoritas kekuasaan politik di Majapahit, sudah bermula dari akhir abad ke-14, ketika kerajaan ini digoyang pertikaian internal antara keluarga kerajaan. Kemerosotan ini kelak klimaksnya menamatkan salah satu kerajaan besar Nusantara itu tahun 1527/1528 M. Di akhir abad ke 14, mulai muncul benih-benih pertikaian yang melibatkan dua cabang berbeda dari keluarga kerajaan. Sebagaiman dicatat Lydia Kieven, persaingan antara dua kubu dari keluarga ini menimbulkan perang saudara lagi tahun 1478 dan tahun 1486.

Raja kawasan timur diidentifikasi oleh Aoyama (1994) sebagai Pangeran Wijaya Rajasa (R. Kudamerta) dari Wengker, paman Hayam Wuruk, yang menduduki peringkat tinggi dalam keluarga kerajaan.  Istana barat adalah keraton untuk Raja Majapahit sendiri. Dengan demikian, dua keluarga yang bersaing ini adalah keluarga Pangeran Wengker dan keluarga raja Majapahit. Yang masing-masing, kata Aoyama, memiliki istana sendiri di ibu kota. Yang semula adalah konflik keluarga berkembang menjadi perang saudara tahun 1406. Antara dua keraton, bukan dengan dua kerajaan.

Di saat yang sama, sebagaimana dicatat Lydia Kieven (2014: hlm: 125-127) Malaka muncul sebagai pusat perdagangan dan kekuasaan Muslim baru dan mengancam hegemoni Majapahit dalam perdagangan rempah-rempah. Islam di Jawa juga aktif memenetrasikan pengaruhnya di berbagai pelabuhan di Pantai Utara. Meski pedagang Muslim dari India dan dari Cina sudah aktif berdagang di berbagai pelabuhan di Pantai Utara ini sejak beberapa abad sebelumnya. Karena Islam telah mendominasi pusat-pusat perdagangan internasional, orang Jawa anggota komunitas perdagangan secara berangsur-angsur masuk Islam.

Menurut keterangan Hamid Wilis, pada saat itu Raden Patah telah memasrahkan situasi Trenggalek pada Bathara Katong. Bathara Katong mengutus Ampakbaya menuju Trenggalek untuk bertemu Ki Demang Surohandoko. Ampakbaya ini ditugaskan untuk menanyai Demang Surohandoko perihal: kenapa demang-demang di Trenggalek tak menghadap ke Ponorogo, sejak masa Majapahit, Kediri hingga ketika pusat pemerintahan telah diboyong ke Demak. Padahal saat pengukuhan Bathara Katong sebagai Adipati Ponorogo, demang-demang di seluruh Trenggalek juga mendapat undangan (Hamid Wilis, 2007: hlm. 45, 51, & 52).

Demang Surohandoka memberi alasan, bahwa di masa akhir Majapahit para demang tidak menghadap sebab ternyata mereka oleh Girindrawardhana juga sempat diajak berkoalisi, tapi para demang menolak. Dan alasan mengapa mereka tak menghadap ke Demak, bagi demang-demang di Trenggalek ini sejak Paregreg, peperangan tidak menentu: siapa benar dan siapa salah (?).

Sebab itu, para demang di wilayah Trenggalek lebih baik diam daripada ikut campur atau ikut melibatkan diri, bisa-bisa nanti akan menambah jumlah korban sia-sia. Kekalahan Kediri oleh Demak ini sesungguhnya, kata Surohandoko, sudah menolong rakyat Trenggalek: yakni serangan Kediri ke Trenggalek menjadi urung atau batal (Hamid Wilis, 2007: hlm. 53-58).

Begitulah kisah intrik pedalaman yang dimulai sepeninggal Hayam Wuruk. Konflik intern keluarga bangsawan kerajaan yang panjang ini menyebabkan Majapahit rapuh dari dalam. Mula-mula terkait urusan siapa yang harus naik tahta: apakah anak menantu (Wikramawardhana) atau-kah putra selir (Bhre Wirabhumi)? Perebutan tahta ini membuat keluarga Majapahit tersulut perang saudara berlarut-larut hingga beberapa generasi. Kedigdayaan kerajaan besar itu lenyap. Intrik keluarga ini juga menular ke daerah-daerah (konflik disebabkan arah dukungan), termasuk ke Trenggalek, Ponorogo (Wengker) dan sekitarnya.

TINGGALKAN KOMENTAR