(Ku)asa Cengkih Terhadap Petani Desa

Cengkih, cengkeh atau cingkeh (Syzygium aromaticum) merupakan tanaman rempah, masuk dalam komoditas sektor perkebunan. Cengkih menjadi salah satu komoditi utama di pasar nasional maupun luar negeri. Cengkih dari petani juga berkualitas dan setiap tahun produksinya mengalami peningkatan.

Sebelum tersebar luas di beberapa wilayah, cengkih mulanya tumbuh di pulau atau jazirah Maluku, yakni Pulau Ternate, Tidore, Moti, dan Makian. Karena permintaan pasar yang cukup tinggi di abad XVI hingga abad XIX, cengkih menyebar ke pulau-pulau lain, hingga ke Pulau Jawa bagian timur, seperti Kabupaten Trenggalek dan beberapa wilayah lain.

Menurut informasi, cengkih tersebar di Kabupaten Trenggalek dan dipopulerkan tahun 1968-1974. Di tahun itu, Kabupaten Trenggalek dipimpin oleh Bupati Soetran—sebelum dipindah-tugaskan ke Irian Barat atau Irian Jaya—yang kemudian melakukan uji coba dengan menggerakkan masyarakat petani untuk menanam cengkih. Petani di pedesaan diberi bantuan bibit cengkih secara gratis.

Lewat pemahaman tentang pentingnya reboisasi atau penghijauan lahan atau hutan, maka Bupati Soetran menurunkan perintah kepada bawahan-nya atau dinas perhutanan dan masyarakat untuk menanam cengkih sebagai tanaman wajib. Wilayah itu meliputi Watulimo, Munjungan, Dongko, Pule dan Panggul.

Tanaman cengkih lestari hingga kini. Bahkan saat ini musim panen tiba, cengkih di desa saya jadi penopang ekonomi masyarakat saat musim paceklik. Meskipun harga cengkeh di desa saya sering fluktuatif, berkisar Rp. 25 ribu – Rp. 30 ribu per kilogram untuk yang basah. Sedang yang kering berkisar antara Rp. 80 ribu sampai Rp. 100 ribu per kilogram-nya.

Dalam perjalanannya, banyak masyarakat yang menyadari, termasuk pemerintah, bahwa bertani cengkih ibarat menanam pohon “emas warna cokelat”. Tak sedikit yang menjuluki cengkih sebagai emas cokelat. Cengkih mampu meningkatkan kesejahteraan petani, baik para buruh tani, petani, pedagang hingga pengusaha sekalipun. Sampai kini, masyarakat petani maupun yang tidak menanam pohon cengkih juga merasakan dampaknya dengan menjadi buruh petik dan pithil hingga ambil daun cengkih kering.

Yang ekonominya sehari-hari biasa seret, saat panen cengkih, ekonomi petani jadi tambah lancar. Meski kenyataannya tak sebanding dengan jerih payah petani saat menanam, merawat dan memberi ongkos pekerjanya. Sudah rahasia umum saat “musim bahagia” datang dan barang di pasaran banyak, di situ harga cenderung turun. Petani jadi bulan-bulanan tengkulak kecil maupun besar.

Meski begitu, cengkih telah memberikan kontribusi nyata bagi petani, dari abad XVI hingga abad XXI ini. FAO di tahun 2012 sebagai organisasi besar bangsa-bangsa, yang mengurus pangan dan hasil-hasil pertanian serta Pusat dan Sistem Informasi Pertanian Sekretariat Jenderal Kementerian Pertanian (2014) menyebutkan bahwa tahun 2012 produksi cengkih Indonesia mencapai 79,25 ribu ton; sedang produksi cengkih dunia pada tahun yang sama mencapai sekitar 111,65 ribu ton. Dengan kata lain, Indonesia memberi kontribusi 70,99 % terhadap total produksi cengkih dunia.

Selain menopang produksi pabrik rokok, cengkih juga digunakan sebagai ramuan penghangat tubuh, pengawet, wewangian, rempah makanan, dan obat. Tak berlebihan jika rempah yang satu ini dahulu membuat ngiler bangsa antah-berantah datang ke Nusantara.

Cengkih sebagai tanaman primadona dan emas cokelat mendatangkan permasalahan yang cukup pelik, dari dahulu hingga kini. Konon, selain 3G (Gold, Gospel and Glory), bangsa kolonial datang ke Nusantara karena pamrih palawija, termasuk rempah-rempah berupa cengkih ini.

Di era ’80-an, pemerintah membentuk badan yang mengurus tata niaga cengkih yaitu Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkih (BPPC). Berdirinya BPPC berniat sebagai satu-satunya pelaksana tata niaga cengkih di Indonesia. Ia berperan sebagai badan penyangga dan berfungsi menjaga keseimbangan harga dan persediaan cengkeh.

Namun niatan tersebut berujung kesengsaraan pada petani. Perubahan harga cengkih yang fluktuatif bahkan cenderung murah, membuat petani frustasi. Lewat monopoli BPPC dan KUD yang ditunjuk sebagai  pelaksana kebijakan, cengkih harus masuk semua ke KUD. Petani tidak bisa menjual hasil taninya ke wilayah lain, termasuk di perusahaan lain. Bila kedapatan melanggar, maka akan disanksi berupa tindak pidana maupun perdata. Begitulah kuasa cengkih pada petani cengkih saat itu.

Namun akhirnya kebijakan itu menyulut kekecewaan para petani. Di awal reformasi, di era pemerintahan BJ Habibie, BPPC dibubarkan. Sebagai ketua umum BPPC adalah Hutomo Mandala Putra atau dikenal Tomy Soeharto.

Di tingkat desa, masyarakat demo di KUD. Menurut penuturan orang tua, pabrik dan gudang penyimpanan cengkih dibakar secara massal, termasuk pabrik cengkih di Panggul. Di Watulimo, gudang cengkih milik KUD, tepatnya di Sebo, Desa Slawe, dijarah dengan dilempari kotoran manusia. Saya tidak tahu persis, apakah ada kaitan perusakan dan pembakaran tersebut dengan kebijakan yang mengecewakan rakyat. Namun kita patut bersyukur atas “pembredelan” kebijakan yang tak berpihak pada petani kecil.

Meski perjalanan rempah bernama cengkih ini mengalami getir yang cukup panjang bagi peradaban manusia, tetapi cengkih tetap mampu memutar roda perekonomian jutaan warga Indonesia. Tak ayal, lewat perkebunan cengkih, perekonomian petani jadi baik; petani mampu menyekolahkan anak-anaknya, membeli perabotan rumah, membeli peralatan elektronik dan kendaraan bermotor hingga menunaikan rukum Islam yang kelima: berangkat haji. Bulan Juni tahun depan musim panen cengkih tiba. Ketika harga cengkih cukup stabil, jelas komoditi ini menjadi salah satu sandaran ekonomi yang paling penting bagi masyarakat Trenggalek dan membantu menjaga asap tetap mengepul di dapur.[]

TINGGALKAN KOMENTAR